post image
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Solidaritas Pemuda Desa (SPEDA), Fadli Rumakefing, melantik kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) SPEDA Nusa Tenggara Barat (NTB) di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Sabtu, 24 Oktober 2026.
KOMENTAR

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Solidaritas Pemuda Desa (SPEDA), Fadli Rumakefing, melantik kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) SPEDA Nusa Tenggara Barat (NTB) di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Dalam struktur organisasi periode 2026–2028 tersebut, Saidin Alfajri resmi mengemban amanah sebagai Ketua Umum DPW SPEDA NTB, didampingi oleh Lukmanul Hakim selaku sekretaris. Pelantikan ini menandai langkah awal penguatan simpul gerakan pemuda desa di wilayah NTB.

Seusai prosesi pelantikan, Fadli menegaskan bahwa SPEDA harus bertransformasi menjadi wadah yang menghadirkan program nyata bagi pemuda serta masyarakat desa. Fokus utama gerakan ini diarahkan pada pemberdayaan ekonomi, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta optimalisasi potensi lokal yang ada.

Ia juga mengingatkan agar generasi muda di pedesaan tidak bermakna pasif terhadap dinamika pembangunan. “Pemuda desa jangan hanya menjadi penonton pembangunan. Kita harus hadir dengan gagasan, membangun kolaborasi, dan menciptakan kegiatan-kegiatan produktif yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegas Fadli.

Lebih lanjut, Fadli mendorong agar jajaran DPW SPEDA NTB segera membangun strategi sinergi dengan Program Desa Berdaya yang digagas oleh Pemerintah Provinsi NTB. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri, terutama dalam pilar penguatan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, dan pengembangan potensi desa.

Di sisi lain, SPEDA melihat pentingnya transformasi ekonomi pedesaan di era digital demi melahirkan UMKM desa yang berdaya saing. Konsep tersebut dirumuskan dalam semangat “Energi Terjaga, Desa Berdaya” guna menghubungkan aspek ketahanan energi secara langsung dengan produktivitas ekonomi warga.

Menurut Fadli, ketersediaan akses energi yang andal memegang peran krusial. Energi tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk menggerakkan sektor UMKM, tetapi juga mendukung proses pengolahan hasil pertanian dan perikanan, fasilitas penyimpanan produk, hingga pengembangan ekonomi digital di pedesaan.

“Desa berdaya membutuhkan masyarakat yang produktif, UMKM yang berkembang, serta akses energi yang mendukung kegiatan ekonomi. Energi terjaga harus menjadi bagian dari upaya membangun desa yang mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.

Fadli kembali tekanan komitmen organisasi yang kuat dalam memperkuat kapasitas pemuda desa melalui pendekatan kolaboratif serta berbagai program produktif yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan sosial.

“Semangat kita adalah Bangga Dari Desa, Berkarya untuk Indonesia. Kita ingin UMKM semakin berkembang, potensi lokal semakin bernilai, dan masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan,” tutup Fadli.


Pemakzulan Gibran: Sulit, Tapi Bukan Tidak Bisa

Sebelumnya

Narkoba Mengalir, Penjara Menguap

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional