Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
ADA seekor ular. Ia lapar. Ia tidak menemukan makanan. Maka ia mulai memakan ekornya sendiri. Pertanyaannya: apakah ular itu sedang makan, atau sedang dimakan? Jika ular itu makan ekornya, maka ia adalah pemakan.
Jika ular itu dimakan oleh dirinya sendiri, maka ia adalah makanan. Ia adalah pemakan sekaligus makanan. Ia adalah subjek sekaligus objek. Ia adalah predator sekaligus mangsa dalam satu tubuh.
Ini adalah paradoks Ouroboros, warisan pemikiran berbelit dari Yunani kuno. Ular yang memakan ekornya sendiri membentuk lingkaran sempurna. Ia tidak punya awal dan tidak punya akhir. Ia adalah lambang keabadian. Ia adalah lambang siklus yang tidak pernah selesai. Tapi secara logika, ular itu mustahil ada atau tidak ada.
Pertama, paradoks identitas. Jika ular memakan ekornya, maka panjang ular akan berkurang setiap gigitannya. Semakin banyak ia makan, semakin pendek ia. Semakin pendek ia, semakin sedikit yang bisa ia makan. Akhirnya ia akan memakan dirinya sampai habis, dan yang tersisa hanyalah mulut yang tidak punya apa-apa untuk dimakan. Apakah mulut itu masih bisa disebut ular? Apakah ular yang tinggal mulut masih ular?
Kedua, paradoks sebab-akibat. Untuk memakan ekornya, ular harus memiliki ekor. Untuk memiliki ekor, ular harus belum memakan ekornya. Jadi ular harus memiliki ekor untuk memakan ekor, tetapi ia tidak bisa memiliki ekor jika ia sudah memakannya. Ini seperti ayam dan telur. Mana yang duluan, ular yang makan atau ular yang dimakan?
Ketiga, paradoks rasa sakit. Jika ular menggigit ekornya, ia akan merasa sakit. Jika ia merasa sakit, ia akan berhenti. Tapi jika ia berhenti, ia tidak jadi memakan dirinya. Jika ia tidak merasa sakit, maka ia bukan ular yang normal. Ia adalah ular yang mati rasa. Tapi ular yang mati rasa tidak akan merasa lapar. Jadi ular itu harus merasa sakit untuk merasa lapar, dan harus tidak merasa sakit untuk terus makan.
Keempat, paradoks keabadian. Ouroboros dianggap lambang kehidupan yang abadi. Ia makan dirinya untuk bertahan hidup. Tapi kalau ia makan dirinya, ia justru menghancurkan dirinya. Bagaimana sesuatu yang menghancurkan diri bisa menjadi abadi? Ia abadi karena ia tidak pernah selesai menghancurkan diri. Ia adalah kehancuran yang abadi.
Kelima, paradoks yang paling ekonomis : siapa yang akan membayar tagihan jika ular itu adalah restoran? Ular itu adalah koki sekaligus pelanggan. Ia memasak dirinya dan ia memakan masakannya. Ia harus membayar dirinya sendiri. Ia untung sekaligus rugi.
Kita manusia juga seperti ular itu. Kita memakan diri kita sendiri setiap hari.
Kita memakan waktu kita untuk bekerja demi membeli waktu luang. Kita memakan kesehatan kita untuk mendapatkan uang untuk membeli obat. Kita memakan kebahagiaan kita untuk mengejar kebahagiaan.
Kita adalah ular Ouroboros modern. Kita memakan ekor kita dalam bentuk overthinking. Kita memakan ekor kita dalam bentuk kerja lembur. Kita memakan ekor kita dalam bentuk media sosial yang kita buka untuk melupakan media sosial. Dan seperti ular itu, kita tidak pernah selesai. Kita selalu merasa lapar, padahal yang kita makan adalah diri kita sendiri.
Maka paradoks ular makan diri sendiri bukan tentang ular.
Itu tentang kita. Apakah kita sedang makan, atau sedang dimakan oleh diri kita sendiri? Jawabannya: keduanya. Kita adalah pemakan sekaligus makanan. Kita adalah subjek sekaligus objek. Kita adalah ular yang tidak punya ekor, tapi terus merasa punya ekor untuk dimakan.
Pada hakikatnya, paradoks yang paling masuk akal membuktikan bahwa logika memiliki keterbatasan dalam menghadapi paradoks. Bahkan dalam paradoks langsung muncul permainan bahasa yang membelitkan saya berpikir maka saya ada-nya Descrates padahal menurut saya mustahil saya berpikir jika saya tidak ada. Saya berpikir maka saya ada.



KOMENTAR ANDA