Oleh: Agung Nugroho, Ketua Umum Rekan Indonesia
Rumah bukan sekadar tempat berteduh. Kondisi hunian turut menentukan kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup penghuninya. Karena itu, program perbaikan rumah tidak layak huni seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah bangunan yang berhasil diperbaiki, tetapi juga dari perubahan kehidupan keluarga yang menempatinya.
Informasi mengenai realisasi 440 ribu unit dalam Program 3 Juta Rumah, kembali menyoroti pentingnya upaya pemerintah Prabowo memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak. Namun, pembangunan rumah baru dan perbaikan rumah tidak layak huni merupakan dua hal yang perlu dibedakan dalam membaca capaian program tersebut.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, rumah yang tidak layak dapat menjadi sumber persoalan kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Atap bocor, lantai yang masih berupa tanah, ventilasi buruk, pencahayaan minim, serta sanitasi yang tidak memadai membuat penghuni lebih rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Kondisi tersebut semakin berisiko ketika rumah dihuni banyak orang dalam ruang yang sempit. Kepadatan hunian dan buruknya sirkulasi udara, misalnya, dapat meningkatkan risiko penularan tuberkulosis (TB). Sementara itu, keterbatasan air bersih dan fasilitas sanitasi dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan lingkungan.
Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan fisik. Rumah yang lembap, gelap, dan tidak aman juga dapat mengganggu kenyamanan, istirahat, serta tumbuh kembang anak. Bagi keluarga yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, biaya untuk memperbaiki rumah sering kali harus bersaing dengan kebutuhan pangan, pendidikan, dan pengobatan.
Bedah rumah sebagai intervensi kesehatan
Dalam konteks ini, program bedah rumah perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Perbaikan atap, lantai, dinding, ventilasi, pencahayaan, serta fasilitas sanitasi dapat membantu menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih aman dan sehat.
Meski demikian, perbaikan bangunan saja tidak cukup. Hunian yang sehat juga membutuhkan akses terhadap air bersih, jamban layak, pengelolaan sampah, dan lingkungan yang tidak tercemar. Di kawasan perkotaan padat, persoalan tersebut bahkan sering berkaitan dengan keterbatasan ruang, buruknya drainase, dan ketimpangan akses terhadap infrastruktur dasar.
Karena itu, program bedah rumah perlu dirancang berdasarkan kondisi nyata keluarga penerima manfaat. Rumah yang diperbaiki harus memenuhi kebutuhan penghuninya, termasuk anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan anggota keluarga yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Keberhasilan tidak cukup dihitung dari jumlah unit
Pemerintah Prabowo tentu perlu mengejar target pembangunan dan perbaikan rumah. Namun, angka realisasi seharusnya menjadi titik awal untuk menilai dampak kebijakan, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Evaluasi program perlu melihat apakah keluarga penerima benar-benar memperoleh hunian yang lebih aman, apakah akses sanitasi dan air bersih membaik, serta apakah rumah tersebut layak dihuni dalam jangka panjang. Ketepatan sasaran, kualitas konstruksi, dan keberlanjutan pemeliharaan juga harus menjadi bagian dari pengawasan.
Di sisi lain, keterjangkauan tetap menjadi persoalan penting. Rumah yang secara fisik layak belum tentu dapat dinikmati masyarakat apabila lokasinya jauh dari tempat kerja, sekolah, fasilitas kesehatan, dan transportasi umum. Pembangunan perumahan karena itu perlu terhubung dengan perencanaan tata ruang dan penyediaan layanan dasar.
Pada akhirnya, tujuan kebijakan perumahan bukan sekadar menambah jumlah bangunan, melainkan memastikan masyarakat dapat hidup di lingkungan yang aman, sehat, dan bermartabat. Rumah layak merupakan fondasi bagi keluarga untuk tumbuh, bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dengan perspektif tersebut, keberhasilan program bedah rumah seharusnya tidak berhenti ketika pekerjaan konstruksi selesai. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika rumah yang diperbaiki mampu mengurangi kerentanan penghuninya dan menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik.



KOMENTAR ANDA