Pemilihan umum di Israel masih belum berakhir. Menurut Komite Pemilihan Umum, hasil sementara hingga pukul 15.00 waktu setempat, Rabu, 28 Oktober 2026, menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperoleh 53 kursi, semengara blok oposisi yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot meraih 48 kursi, dan partai-partai Arab mendapatkan 19 kursi.
Angka tersebut mencakup sekitar 93% surat suara reguler, sementara sekitar 600 ribu suara dalam amplop ganda, termasuk suara yang diberikan oleh tentara—belum dihitung.
Belum ada satu pun blok yang berhasil mengamankan 61 kursi yang diperlukan untuk mencapai mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 orang, sehingga pembentukan pemerintahan berikutnya masih belum pasti.
Hasil ini masih bersifat sementara, meskipun para pejabat tidak memperkirakan akan ada pembaruan lebih lanjut dalam waktu dekat.
Namun demikian, harapan akan hadirnya pemimpin baru mulai bersemi.
Panggung politik Israel selama beberapa dekade terakhir hampir identik dengan satu nama: Benjamin Netanyahu. Sebagai figur yang mendominasi lanskap politik dengan gaya retorika yang tajam dan intrik kekuasaan yang ulet, Netanyahu telah lama menjadi poros utama kebijakan domestik maupun luar negeri Israel.
Tetapi, setiap hegemoni pasti menemui titik jenuhnya. Dinamika baru yang bergejolak, kejenuhan publik, serta krisis kepercayaan yang mendalam melahirkan figur alternatif yang kini menjadi sorotan tajam dunia: Gadi Eisenkot.
Mantan Kepala Staf Militer Israel (IDF) yang beralih ke jalur politik ini menjelma menjadi simbol harapan bagi kubu oposisi. Dengan rekam jejak integritas yang dihormati lintas faksi dan gelombang dukungan yang menguat, kebangkitan Eisenkot bukan sekadar pergeseran kekuasaan biasa, melainkan cerminan dari kerinduan masyarakat Israel akan stabilitas, pragmatisme, dan kepemimpinan yang berakar pada institusi negara.
Gadi Eisenkot lahir di Tiberias, 9 Mei 1960, dari keluarga imigran Yahudi Maroko. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota pesisir Ashkelon, menempuh pendidikan dasar dan menengah, sebelum akhirnya bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada tahun 1978 karena kedisiplinan dan kecintaannya pada pertahanan negara.
Di luar karier militernya yang cemerlang, Eisenkot dikenal sebagai perwira yang sangat mementingkan pendidikan akademis dengan meraih gelar sarjana dalam bidang ilmu politik dari Universitas Tel Aviv serta gelar master manajemen bisnis dari Universitas Haifa. Kombinasi antara pengalaman tempur langsung dan pendidikan strategis tingkat tinggi inilah yang kelak membentuk karakter kepemimpinannya yang analitis, tenang, dan berorientasi jangka panjang.
Karier militer Eisenkot membentang selama hampir empat dekade dan diwarnai oleh berbagai posisi komando strategis yang sangat krusial. Ia memulai pengabdiannya di Korps Infanteri, khususnya di Brigade Golani yang elite, menanjak naik dari komandan peleton hingga menjadi Komandan Brigade Golani pada tahun 1990-an.
Selama Intifada Kedua, ia memegang sejumlah posisi penting di Tepi Barat dan Gaza, di mana ia dikenal mampu menyeimbangkan tindakan pengamanan yang tegas dengan pemahaman terhadap kompleksitas geopolitik lokal.
Puncak pengaruh strategisnya sebelum memimpin militer terjadi ketika ia diangkat sebagai Komandan Komando Utara pada tahun 2006 hingga 2011, tempat di mana ia merumuskan Doktrin Dahiya sebagai strategi militer pencegahan dengan respons masif terhadap infrastruktur musuh guna menghentikan agresi secara permanen.
Karier militernya mencapai puncaknya ketika ia ditunjuk sebagai Kepala Staf Umum ke-21 IDF pada tahun 2015 hingga 2019, di mana ia fokus mereformasi doktrin militer melalui rencana multi-tahun, menekankan kesiapan tempur darat, modernisasi siber, serta menjaga jarak institusi militer dari intervensi politik praktis yang membuatnya sangat dihormati oleh spektrum politik yang luas.
Setelah pensiun dari militer dengan pangkat jenderal bintang empat, Eisenkot mengambil jeda sebelum terpanggil memasuki kancah politik di tengah perpecahan internal Israel yang semakin parah.
Menjelang pemilihan umum, ia memutuskan bergabung dengan partai sentris National Unity yang dipimpin oleh Benny Gantz, sebuah langkah yang langsung mendongkrak kredibilitas koalisi tersebut karena latar belakang militernya yang bersih dari skandal korupsi.
Setelah terpilih menjadi anggota parlemen Knesset dan sempat ditunjuk sebagai pengamat dalam Kabinet Perang darurat ketika konflik meletus pada akhir 2023, ia menunjukkan integritas politik yang tinggi dengan memilih mundur secara prinsipil dari kabinet tersebut karena menilai arah kebijakan pemerintah petahana menyimpang dari kepentingan jangka panjang negara.
Sebagai motor penggerak oposisi saat ini, Eisenkot mengusung platform pemulihan institusi demokrasi, rekonsiliasi sosial, reformasi ekonomi yang pragmatis, serta pendekatan diplomatik rasional tanpa terjebak dalam eskalasi konflik yang tak berkesudahan.
Kendati rekam jejak militernya luar biasa bersih dan gelombang dukungan publik terus mengalir, jalan Eisenkot menuju tampuk kekuasaan tertinggi tidaklah mudah karena politik koalisi Israel menuntut kelihaian negosiasi di antara faksi-faksi yang terpolarisasi tajam dari kelompok sekuler hingga ultra-ortodoks.
Jika pada akhirnya ia berhasil memenangkan mandat pemilu dan memimpin pemerintahan, ujian terbesar Eisenkot adalah membuktikan bahwa ketenangan seorang jenderal di ruang perang dapat bertransformasi menjadi seni bernegara yang efektif untuk menyembuhkan luka-luka internal bangsa Israel serta meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Gadi Eisenkot kini berdiri di persimpangan sejarah sebagai antitesis dari lanskap politik lama Israel, seorang teknokrat militer yang bertransisi menjadi negarawan dengan kepala dingin dan integritas tinggi, sehingga waktu yang akan membuktikan apakah ia benar-benar mampu membawa fajar baru bagi masa depan bangsa tersebut.



KOMENTAR ANDA