post image
CEO AIDOT Inc., Jaehoon Jeong (kiri)./ZonaTerbang
KOMENTAR

Kesenjangan akses layanan kesehatan, khususnya deteksi dini kanker serviks di negara-negara berkembang, masih menjadi tantangan global yang memprihatinkan.

Isu ini mengemuka dalam ajang 2026 Gangwon AI Healthcare Global Forum di Chuncheon ICT Venture Center, di mana CEO AIDOT Inc., Jaehoon Jeong, memaparkan solusi pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) untuk pemerataan layanan kesehatan.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker serviks menempati urutan keempat sebagai kanker yang paling sering menyerang perempuan di seluruh dunia dengan estimasi 660 ribu kasus baru dan 350 ribu kematian setiap tahunnya.

Ironisnya, sekitar 94 persen dari total kematian tersebut terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs). Ketimpangan ini menciptakan jurang pemisah angka kematian yang sangat tajam antarnegaranama, mencapai hingga 30 kali lipat—seperti perbandingan antara Malawi (55,2 per 100 ribu perempuan) dan Korea Selatan (1,8 per 100 ribu perempuan).

Dalam sesinya, Jeong memaparkan sejumlah hambatan utama mengapa pengujian kanker serviks sulit diakses di negara LMICs. Salah satu faktor penyebab adalah kurangnya tenaga ahli, seperti sedikitnya jumlah sitopatolog dan ginekolog, serta tingkat sensitivitas metode konvensional VIA (Visual Inspection with Acetic Acid) yang sangat bergantung pada keterampilan pemeriksa (hanya berkisar antara 50 hingga 80 persen).

Juga keterbatasan infrastruktur, di mana tes sitologi dan HPV membutuhkan laboratorium serta rantai dingin (cold chain) yang sulit dijalankan di fasilitas kesehatan primer dengan kondisi listrik dan internet yang tidak stabil.

Selain itu, tingginya biaya pengujian serta tingginya angka pasien yang hilang kontak (loss to follow-up) akibat keharusan menunggu hasil dan melakukan kunjungan kembali.

Menjawab berbagai kendala tersebut, AIDOT mengembangkan Cerviray AI, sebuah sistem on-device AI ultra-ringan yang dirancang untuk mengubah pemeriksaan VIA menjadi tes berstandar ahli. Teknologi ini menawarkan sejumlah keunggulan taktis di lapangan, seperti pembacaan AI instan hanya dalam waktu 5 detik yang dilengkapi klasifikasi lesi secara offline tanpa memerlukan koneksi internet, server, atau laboratorium.

Juga memungkinkan metode screen and treat dalam satu kali kunjungan guna menekan angka pasien yang mangkir dari tindak lanjut (loss to follow-up). Serta, membantu tenaga medis di fasilitas kesehatan perifer untuk membaca hasil secara konsisten guna meminimalkan variasi antar-pemeriksa (inter-examiner variation).

Uji klinis konfirmatori di Korea menunjukkan bahwa pembacaan mandiri oleh AI mencatat sensitivitas hingga 98 persen dan spesifisitas 91 persen. Ketika tenaga medis dibantu oleh AI, tingkat akurasi diagnostiknya meningkat drastis dari 71,3 persen menjadi 89,2 persen.

Rekam Jejak Implementasi Global: Mongolia hingga Bolivia

Efektivitas Cerviray AI kini telah terbukti lewat berbagai implementasi skala nasional di sejumlah negara dengan beban penyakit tinggi.

Di Mongolia, di mana angka kejadian kanker serviks mencapai 13,1 per 100.000 perempuan, Cerviray AI telah digunakan dalam kampanye skrining nasional seperti "Test for Life".

Perangkat on-device AI ini terbukti handal menembus tantangan geografis ekstrem, termasuk di wilayah Gurun Gobi, melalui integrasi kendaraan seluler (mobile vehicle) yang berhasil mencatatkan lebih dari 50.000 pemeriksaan di lapangan.

Sementara itu, di Bolivia—negara dengan tingkat mortalitas kanker serviks tertinggi di Amerika Selatan—Cerviray AI telah mengantongi izin edar resmi dari badan pengawas obat dan alat kesehatan AGEMED sejak 2023. Lebih dari 100 unit perangkat telah didistribusikan untuk mendukung ribuan pemeriksaan baik melalui kampanye medis di lapangan maupun ekspansi regional ke negara-negara tetangga di Amerika Latin.

Selain Mongolia dan Bolivia, ekspansi global AIDOT terus berlanjut. Saat ini, registrasi regulasi dan uji klinis lanjutan juga tengah berjalan di sejumlah negara di Asia Tenggara dan Amerika Selatan, termasuk Indonesia, Vietnam, Chili, dan Meksiko.

Melalui terobosan ini, AIDOT berupaya membuktikan bahwa teknologi AI dapat menjadi jembatan nyata dalam mewujudkan akses kesehatan yang setara—memastikan bahwa tempat seorang perempuan dilahirkan tidak menjadi penentu apakah ia bisa bertahan hidup atau tidak.


Gangwon Techno Park Menjadi Motor Penggerak Inovasi Industri

Sebelumnya

Adu Strategi Raksasa Dirgantara: Mengapa Airbus A350 dan Boeing 787 Punya Pendekatan Komposit yang Berbeda?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tech