Rakyat yang gerah melakukan revolusi dengan melahirkan pemimpin tertinggi sekaligus pemimpin spiritual, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Paradox sejarah ini mungkin bisa tejadi kembali, alih alih meruntuhkan kepercayaan masyarakat Iran terhadap pemimpin tertinggi atau pemimpin spiritual, justru memperkuat solidaritas mereka melawan AS, seperti yang terjadi di tahun 1979 saat shah Iran digulingkan oleh rakyat yang didukung oleh militer Iran.
Saat ini, mari kita melihat kuatnya solidaritas masyarakat Iran untuk melawan AS. Misalnya saja, saat Donald Trump ada di periode pertama memimpin AS, masyarakat Iran menunjukkan keditaksukaannya atau anti AS mencapai 76% di tahun 2016, dan semakin meningkat tajam ke 86% pada 2019 setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani.
Ambisi invasi militer ke Iran terlalu berbahaya, ancaman lewat media sosial Donald Trump di truth social semakin memperkeruh keamanan kawasan. Terlebih lagi AS mulai mengerahkan alat alat dan personel militer dengan tujuan menyerang Iran, termasuk kapal induk yang telah sampai di Timur Tengah.
Iran merespon pula secara defensif sama seperti Donald Trump. Ayatollah Khamenei pemimpin tertinggi Iran menyampaikan, “yang lebih bahaya daripada kapal Induk AS yang telah ada di timur Tengah adalah senjata yang dapat mengirim kapal tersebut ke dalam laut”. Ayatollah Khamenei pemimpin tertinggi Iran saat ini merupakan target utama AS dan Donald Trump ingin menggantikannya dengan Reza Pahlavi, yang dinilai oleh banyak penstudi merupakan hal yang sia sia.
AS memang selalu menjadi pelindung utama Israel terutama untuk merebut wilayah palestina dan mempertahankan pengaruh kawasan, kondisi ini yang membuat Donald Trump selalu berusaha melindungi Israel.
Iran dengan fasilitas nuklir yang cukup baik, selalu mengatakan siap mengarahkannya ke Israel kapanpun jika dianggap menggangu kedaulatan Iran. Fasilitas nuklir paling besar Iran ada di Isfahan, terdapat 11 fasilitas nuklir aktif yang terus menerus melakukan pengayaan uranium hingga kemurnian mencapai 60%, pada tahap pengayaan uranium di level ini akan tercipta bom nuklir.
Saat ini menurut AS dan sekutu, Iran sedang melakukan pengayaan uranium hingga 90%, pada tahap ini, akan tercipta senjata nuklir. Gertakan invasi militer AS sepertinya belum membuat Iran tunduk, hingga saat ini upaya diplomasi antara Washington dan Teheran masih terus berlanjut, menurut Iran dan sekutu hingga hari ini belum ada indikasi dan bukti Iran akan menggunakan bom bahkan senjata nuklir, terlebih lagi pengayaan uranium Iran tidak melebihi ambang batas yang telah disepakati dalam International Atomic Energy Agency.
Sebaliknya justru Israel, sekutu AS terlebih dahulu menyerang Iran pada Juni 2025 lalu yang membuat Iran memperkuat sistem keamanannya, Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir, namun sampai hari ini tudingan Israel tidak terbukti.
Tindakan agresif Israel ini kemudian direspon oleh Iran dengan menembakkan Rudal Balistik dan Rudal Hipersonik. Memang perang hanya berlangsung 12 hari, karena ada intervensi dari Washington sebab muncul kalkulasi rasional, jika perang terjadi lebih dari satu bulan saja, maka yang hancur adalah Israel baik dari segi pertahanan dan ekonomi, terlebih Iran sudah bisa membobol pertahanan iron dome Israel dalam waktu yang sangat singkat di luar prediksi.
Saat ini keinginan Donald Trump untuk melakukan intervensi militer mendapatkan respon defensif dari sekutu Iran yaitu Tiongkok dan Rusia. Dua negara dengan peralatan militer canggih tersebut sangat mampu menandingi AS. Saat ini Tiongkok, Rusia dan Iran melakukan manufer militer bersama di selat Hormuz.
Komunikasi diplomatik Teheran, Moscow dan Beijing lebih mengarah ke pembentukan tatanan dunia multipolar maritim, terdapat pula indikasi keberadaan mereka untuk mendukung kekuatan maritim Iran dalam menangkal kapal induk AS. Kejadian kejadian seperti ini yang tidak pernah diperhitungkan oleh Donald Trump, paradox yang berulang jika berhubungan dengan Iran, Donald Trump membuka kotak pandaro baru yang seharusnya dikubur.


KOMENTAR ANDA