post image
Syeh Siti Jenar, Sokrates, Tan Malaka
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

SETELAH menelaah apa yang disebut sebagai sejarah baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, saya memberanikan diri mengambil kesimpulan bahwa pada hakikatnya hadir kesamaan antara tiga tokoh kebudayaan yaitu Sokrates, Syech Siti Jenar, dan Tan Malaka.

Ketiga beliau sama-sama berjuang menegakkan keyakinan masing-masing kemudian dibunuh oleh penguasa yang merasa diri terancam oleh keyakinan masing-masing beliau bertiga.

Sokrates
Filosof Yunani yang dihukum mati karena dianggap mencoreng agama dan moralitas masyarakat Athena.

Syeh Siti Jenar
Sufi Jawa yang dihukum mati karena dianggap menyebarkan ajaran yang dianggap sesat dan mengancam kekuasaan Sultan Demak.

Tan Malaka
Aktivis kemerdekaan Indonesia yang dibunuh oleh pemerintah karena dianggap ancaman bagi kekuasaan.

Ketiganya memiliki persamaan dalam:

1. Membela kebenaran dan prinsip-prinsip yang mereka yakini.
2. Menghadapi perlawanan dari penguasa atau masyarakat yang lebih konservatif.
3. Berakhir dengan kematian tragis, namun meninggalkan warisan berpengaruh besar bagi perdaban.

Sokrates dijatuhi hukuman mati oleh parlemen Athena (Diwani) pada tahun 399 SM. Bentuk hukuman mati yang diwujudkan terhadap Sokrates adalah dengan meminum racun Hemlock (Conium maculatum).

Proses hukuman mati Sokrates dijelaskan dalam karya Platon "Phaedo". Sokrates meminum racun Hemlock dan berjalan-jalan di sekitar penjara sambil berbicara dengan murid-muridnya. Setelah beberapa saat, efek racun mulai terasa, dan Sokrates berbaring di atas tempat tidur. Ia menutup wajah dengan kain kemudian meninggal.

Alasanologi konflik antara Syeh Siti Jenar (SSJ) dan Sultan Demak, Raden Patah, antara lain:
1. Perbedaan pandangan agama: SSJ memiliki pandangan agama yang lebih liberal dan sufi, sedangkan Sultan Demak lebih condong pada ajaran Islam yang ortodoks. SSJ dianggap tidak mengikuti aturan agama yang sudah mapan.

2. Tentang kekuasaan: SSJ dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan Sultan Demak karena pengaruhnya yang besar di kalangan masyarakat. Sultan Demak merasa bahwa SSJ memiliki ambisi untuk merebut kekuasaan.

3. Konflik dengan para ulama: SSJ juga memiliki konflik dengan para ulama yang lebih konservatif, seperti Walisongo. Mereka menganggap SSJ sebagai penyimpangan dan mengancam untuk menghukumnya.

4. Penghinaan terhadap ritual keagamaan: SSJ dianggap menghina ritual keagamaan yang sudah mapan, seperti shalat dan puasa. Hal ini membuatnya dianggap sebagai orang yang tidak menghormati ajaran agama.

Bentuk konflik antara SSJ dan Sultan Demak adalah:

1. Pengadilan: SSJ dipanggil untuk diadili oleh Sultan Demak dan para ulama. Namun, SSJ tidak hadir dan mengirimkan utusan.

2. Penghukuman: SSJ dianggap bersalah dan dihukum mati oleh Sultan Demak. Namun, ada beberapa versi tentang cara kematiannya, ada yang mengatakan dia dibunuh dengan cara dipenggal, ada yang mengatakan dia menghilang.

3. Konflik berkelanjutan: Konflik antara pengikut SSJ dan Sultan Demak terus berlanjut bahkan setelah kematiannya. Pengikut SSJ dianggap sebagai pemberontak dan dianiaya.

Tan Malaka (TM) dibunuh pada tanggal 21 Februari 1949 oleh pemerintah Indonesia di Desa Selamanik, Kediri, Jawa Timur. Cara pembunuhan TM masih menjadi perdebatan, namun menurut beberapa sumber, ia dibunuh dengan cara ditembak oleh pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) di bawah perintah pemerintah Indonesia.

TM dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan pemerintah karena aktivitasnya sebagai pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) dan perjuangannya untuk mengubah arah revolusi Indonesia. 

Pembunuhan TM masih menjadi kontroversi dan banyak dipandang sebagai tindakan yang tidak adil dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kemerdekaan dan keadilan. Warisan pemikiran Tan Malaka tertulis dalam buku "Madilog" (Materialisme, Dialektika, Logika).

Warisan pemikiran Sokrates diabadikan dalam tulisan-tulisan semisal:
- Phaedo oleh Platon
- Apologia & Memorabilia karya Xenophon
- Nephelae ditulis Aristofanes

Warisan pemikiran Syeh Siti Jenar (SSJ) tidak memiliki catatan langsung, karena ajarannya lebih banyak disampaikan secara lisan dan melalui tradisi sufi Jawa. Namun, beberapa karya yang dianggap terkait dengan ajaran SSJ adalah:
- Suluk Siti Jenar: Sebuah karya sastra Jawa yang berisi ajaran-ajaran SSJ.
- Kitab Tamimah: Sebuah karya yang dianggap terkait dengan ajaran SSJ, namun keasliannya masih diperdebatkan. Ajaran SSJ lebih banyak dipelajari dan dihargai melalui tradisi lisan dan praktik sufi Jawa.

Pada hakikatnya, terlepas dari faktor kebetulan atau tidak kebetulan, sejarah telah menbuktikan secara sulit terbantahkan bahwa telah terjalin hubungan sinkronisitas antara ketiga tokoh beda zaman dan beda lingkungan kebudayaan tersebut. Ketiga tokoh sama-sama dibunuh akibat beda pendapat dengan penguasa.


Bingungomologi Musikologi

Sebelumnya

Utilitarianisme Geologi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana