Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
LIRIK lagu Al Tiroof dialih-bahasakan Arab ke Indonesia sebagai berikut:
"Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam api neraka"
"Maka berilah aku taubat dan ampunilah dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar"
"Dosa-dosaku bagaikan jumlah pasir, maka berilah aku taubat, Wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan"
"Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang penuh dosa ini, kini menghadap-Mu memohon ampunan"
"Jika Engkau mengampuni, pantaslah karena Engkau Maha Pengampun"
"Namun, jika Engkau menolak permohonan hamba, kepada siapa hamba berharap selain Engkau"
"Umurku berkurang setiap hari, sedangkan dosaku bertambah, bagaimana mungkin hamba mampu memikulnya"
Adalah Gus Dur yang memperkenalkan saya pada lagu Al Tiroof yang ternyata melodi dan liriknya digubah oleh seorang tokoh bernama Abu Nawas.
Abu Nawas adalah seorang penyair dan sufi Persia yang hidup pada abad ke-8 Masehi. Nama sebenarnya adalah Abu Ali Hasan bin Hani al-Hakami, dan ia lahir di Ahvaz, Persia (sekarang Iran) pada tahun 747 Masehi.
Abu Nawas memiliki latar belakang keluarga yang beragam, ayahnya adalah seorang tentara Arab, dan ibunya adalah seorang penari Persia. Ia tumbuh di kota Basra, Irak, dan kemudian pindah ke Baghdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah pada saat itu.
Abu Nawas dikenal sebagai seorang penyair yang cerdas dan kreatif, dan ia menjadi salah satu penyair terbesar dalam sastra Arab klasik. Ia dikenal karena syair-syairnya yang indah, humoris, dan penuh dengan makna spiritual.
Abu Nawas juga dikenal karena gaya hidupnya yang tidak biasa, ia suka berpesta, minum anggur, dan bergaul dengan wanita. Namun, ia juga memiliki sisi spiritual yang kuat, dan sering menulis syair-syair yang mengungkapkan kecintaannya kepada Allah dan keinginan untuk mencapai kesucian jiwa.
Abu Nawas meninggal pada tahun 815 Masehi di Baghdad, dan makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang yang menghormati kesenian dan spiritualitasnya. Meskipun Abu Nawas dikenal sebagai seorang penyair dan sufi, di sisi lain ada banyak legenda dan cerita fiktif tentang dirinya yang beredar, sehingga sulit untuk memisahkan fakta dari fiksi dalam riwayat hidupnya.
Abu Nawas hidup pada masa Sultan Harun al-Rasyid, yang merupakan Khalifah Abbasiyah kelima dan seorang penguasa paling terkenal dalam sejarah Islam. Harun al-Rasyid memerintah dari tahun 786 hingga 809 Masehi, dan Abu Nawas hidup pada masa yang sama, yaitu dari tahun 747 hingga 815 Masehi.
Abu Nawas bahkan dikenal sebagai penyair favorit Harun al-Rasyid, dan ia sering diundang ke istana untuk membacakan syair-syairnya. Namun, hubungan antara Abu Nawas dan Harun al-Rasyid tidak selalu harmonis, karena Abu Nawas sering mengkritik kebijakan-kebijakan Harun al-Rasyid dalam syair-syairnya.
Meskipun atau justru karena itu , Abu Nawas abadi dikenang sebagai seorang tokoh paling dihormati dan dicintai dalam sejarah sastra Arab. Karya-karyanya masih dibaca dan dipelajari hingga hari ini.
Sebagai umat Nasrani, saya tidak mampu menahan air mata mengalir lembut di pipi, pada saat mendengar lagu Al Tiroof didendangkan pertama kali kepada saya oleh Gus Dur. Termasuk juga tatkala saya mendengar karya improvisasi dalam bentuk variasi pada pianoforte Al Tiroof oleh pianis jazz terkemuka kelas dunia masa kini yaitu Ade “Wonder” Irawan.


KOMENTAR ANDA