Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DRONE, atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV), dapat digunakan sebagai alat geodesi untuk mengumpulkan data geospasial dengan akurasi tinggi. Drone dapat dilengkapi dengan berbagai sensor dan kamera, seperti kamera udara, Lidar (Light Detection and Ranging), sensor inframerah, sensor multispectral.
Dengan menggunakan drone, geodesi dapat mengumpulkan data geospasial dengan lebih cepat, lebih murah, dan lebih akurat dibandingkan dengan metode konvensional. Drone dapat digunakan untuk keperluan topografi, pemetaan udara, pemantauan lingkungan, pengawasan konstruksi, pemantauan pertanian, menghitung volume tanah, memantau pergerakan tanah, identifikasi fitur geologi, situs arkeologi, membuat model 3D permukaan bumi. Teknologi drone sedang dipersiapkan Elon Musk sebagai mobil darat-udara menggantikan mobil darat.
Namun, perlu diingat bahwa drone bukan alat geodesi yang berdiri sendiri, tetapi lebih sebagai alat bantu untuk mengumpulkan data geospasial. Data yang dikumpulkan oleh drone masih perlu diproses dan dianalisis menggunakan perangkat lunak geodesi untuk menghasilkan informasi yang akurat dan berguna.
Drone telah digunakan dalam berbagai konflik militer dan telah menunjukkan kemampuan yang sangat efektif dalam menghancurkan target-target strategis. Beberapa contoh penggunaan drone sebagai senjata kendali jarak jauh untuk kepentingan militer antara lain:
- Serangan udara: Drone dapat digunakan untuk melakukan serangan udara terhadap target strategis, seperti markas musuh, gudang amunisi, dan lain-lain.
- Penghancuran infrastruktur: Drone dapat digunakan untuk menghancurkan infrastruktur musuh, seperti jembatan, jalan, dan lain-lain.
- Pembunuhan target: Drone dapat digunakan untuk membunuh target-target strategis, seperti komandan musuh, dan lain-lain.
Beberapa contoh drone yang telah digunakan sebagai senjata militer adalah:
- MQ-1 Predator: Drone yang digunakan oleh Amerika Serikat dalam konflik di Afghanistan dan Irak.
- Bayraktar TB2: Drone yang digunakan Turkiye dalam konflik di Suriah dan Libya.
- Wing Loong: Drone yang digunakan oleh China dalam konflik internal China di Xinjiang.
- Termutakhir adalah drone Shahed 136 yang digunakan Iran melawan USA dan Israel. Ibarat Daud melawan Goliath, Shahed 136 adalah kerikil yang digunakan Daud yang bertubuh kecil untuk merobohkan Goliath yang bertubuh jauh lebih besar.
Pendek kata, Iran melawan Israel dan Amerika Serikat sedang sengit melakukan perang drone yang semoga jangan berkembang menjadi Perang Dunia III karena Rusia dan China juga tidak kalah maju dalam teknologi drone.
Penggunaan drone sebagai senjata militer telah menimbulkan kerisauan dan kekhawatiran tentang keamanan dan keselamatan sipil, antara lain:
- Kepengecutan manusia bisa berperang tanpa berhadapan langsung dengan manusia, namun cukup dengan main tombol remote control yang dari jarak jauh mampu mengendalikan drone.
- Kematian sipil: Penggunaan drone dapat menyebabkan kematian sipil yang tidak bersalah.
- Kerusakan infrastruktur: Penggunaan drone dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur yang dapat mempengaruhi kehidupan sipil.
- Kekhawatiran keamanan: Penggunaan drone rawan menimbulkan dampak buruk terhadap keamanan dan keselamatan sipil.
Jika Donald Trump bergembira-ria akibat mendengar berita bahwa drone Amerika Serikat berhasil membunuh Ayatollah Khammeini di Teheran, saya tidak berani membayangkan malapetaka yang akan terjadi apabila drone Iran berhasil membunuh Donald Trump di Washington DC.
Terbukti ketika Jepang menghancur-leburkan Pearl Harbour yang sama sekali bukan Ibukota Amerika Serikat telah berhasil memicu amarah Amerika Serikat sehingga akhirnya balas dendam dengan membumi-ratakan Hiroshima dan Nagasaki dengan dua bom atom.
Laksamana Isoroku Yamamoto pernah bersabda bahwa serangan terhadap Pearl Harbour ibarat membangunkan raksasa yang sedang tidur. Mujur tak teraih, nahas tak tertolak, di masa kini raksasa bukan cuma Amerika Serikat namun juga Rusia dan China!
Pada hakikatnya, sebagai sekadar alat, drone sama dengan pisau, di mana manfaatnya nisbi, tergantung bagaimana cara manusia menggunakannya serta untuk tujuan apa. Drone bagus untuk pertanian dan arkeologi namun tidak bagus untuk kemanusiaan yang adil dan beradab.


KOMENTAR ANDA