post image
Warga Teheran memegang potret dua siswa sekolah dasar di provinsi Hormozgan, Iran, yang ikut tewas dalam serangan AS dan Israel, pada 3 Maret 2026 di Minab, Iran./Anadolu
KOMENTAR

Sejak dimulainya serangan brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel pada pagi hari Sabtu, 28 Februari 2026 yang bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 Hijriah terhadap Republik Islam Iran hingga saat ini, lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa telah menjadi syahid.

Selain itu 9.669 target sipil telah hancur oleh serangan brutal AS-Israel, termasuk 7.943 unit rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan dan layanan, serta 32 pusat medis dan farmasi. Juga ikut hancur 65 sekolah dan fasilitas pendidikan, 13 bangunan Perhimpunan Bulan Sabit Merah, serta sejumlah infrastruktur penyediaan energi.

Informasi ini disampaikan Kedutaan Besar Republik Islam di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026 dalam keterangan yang diterima redaksi Zona Terbang

Selain itu, tulis Kedubes Iran, Amerika dan Zionis tidak hanya puas dengan membunuh ribuan rakyat Iran yang tidak bersalah dan sedang berpuasa.

“Pada hari keenam agresi terhadap Iran, mereka juga melakukan serangan terhadap kapal perang Iran “Dena” pada jarak lebih dari 2.000 mil laut dari pantai Iran, yang mengakibatkan syahidnya 104 putra bangsa lainnya,” tulis Kedubes Iran.

Kapal perang yang tidak bersenjata ini melakukan perjalanan ke India atas undangan resmi Angkatan Laut India untuk mengikuti sebuah program pelatihan. Namun tanpa peringatan apa pun, kapal tersebut menjadi sasaran serangan di perairan internasional, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

“Tindakan Amerika ini bukan hanya merupakan sebuah kejahatan yang mengerikan, tetapi juga memperluas lingkup perang melampaui wilayah pesisir Iran serta mengancam keamanan pelayaran internasional,” demikian Kedubes Iran.

 


AS Sudah Tiga Kali Berkhianat, Kepercayaan Iran Sudah Habis

Sebelumnya

Iran akan Terus Membalas Sampai PBB Terapkan Pasal 39 Piagam PBB

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global