post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Pendekatannya berbasis sains empiris, mencoba menyatukan relativitas umum dan mekanika kuantum. Ia mengusulkan ide “hukum fisika berevolusi” dan “shape dynamics” sebagai alternatif teori gravitasi kuantum.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

SETELAH membaca opus magnum Henri Bergson “Time and Free Will” dan mahakarya Lee Smolin “Time Reborn”, saya mencoba mencari perbedaan mau pun persamaan kedua pemikir fokus mengulas apa yang disebut sebagai waktu.

Smolin berargumen bahwa waktu bukan ilusi atau dimensi ke empat yang bisa dihilangkan. Ia melihat waktu sebagai sesuatu yang nyata, irreversible, dan menjadi dasar evolusi hukum fisika.

Pendekatannya berbasis sains empiris, mencoba menyatukan relativitas umum dan mekanika kuantum. Ia mengusulkan ide “hukum fisika berevolusi” dan “shape dynamics” sebagai alternatif teori gravitasi kuantum.

Bergson membedakan antara waktu matematis (ruang-waktu homogen, bisa diukur) dengan durasi nyata yang  dialami manusia. Durasi adalah aliran kontinu, subjektif, dan tidak dapat dibagi menjadi unit-unit terpisah.

Bergson menekankan intuisi dan pengalaman langsung sebagai cara memahami waktu, bukan logika analitik. Ia waktu sebagai esensi kehidupan dan kesadaran.

 Dapat disimpulkan bahwa persamaan Bergson dan Smolin antara lain:

1. Waktu sebagai Realitas Fundamental
- Smolin: Waktu nyata, dasar perubahan dan evolusi hukum alam.
- Bergson: Waktu (durée) adalah esensi dari kesadaran dan kehidupan, tidak bisa direduksi menjadi angka.

2. Penolakan Terhadap Waktu Ilusi
- Smolin mengkritik relativitas yang “menghilangkan” waktu.
- Bergson menolak pandangan mekanistik Newton yang menganggap waktu sebagai parameter eksternal, sama seperti ruang.

3. Irreversibilitas
- Smolin: Masa lalu dan masa depan berbeda karena hukum fisika berevolusi.
- Bergson: Durée bersifat irreversible karena ingatan dan pengalaman terakumulasi.

Namun beda Smolin dari Bergson dalam hal domain,metode, tujuan dan implikasi:

Smolin berbicara tentang waktu dari perspektif fisika, sedangkan Bergson dari filsafat. Mereka menjawab pertanyaan yang berbeda namun sama-sama menolak pandangan waktu sebagai ilusi atau sekadar parameter.

Bergson memberikan dimensi subjektif dan eksistensial sementara Smolin menawarkan kerangka objektif dan matematis yang bisa mendukung intuisi Bergson tentang durasi. Smolin membutuhkan bukti empiris, sementara Bergson lebih bergantung pada introspeksi. Perbedaan epistemologis ini bisa jadi titik gesekan jika dipaksakan untuk dipersatukan.

Maka dapat disimpulkan bahwa teori waktu Smolin dan Bergson dapat berfungsi  sebagai dua sisi dari koin yang sama:
- Fisika (Smolin) → Waktu sebagai properti fundamental alam semesta.
- Filsafat (Bergson) → Waktu sebagai pengalaman hidup yang subyektif dan unik.

Pemikiran mereka berdua bukan dikotomi untuk saling dibenturkan. Mereka berdua  tidak saling menyangkal, melainkan saling melengkapi demi memperkaya pemahaman keseluruhan kita tentang waktu dari sudut pandang yang saling beda.

Problematika tafsir pada hakikatnya lebih terletak pada masalah bahasa di mana Bergson menulis dalam bahasa Prancis sementara Smolin dalam bahasa Inggris. Di alam semesta filsafat memang tidak mudah secara begitu saja mengalih-bahasa Prancis ke dalam bahasa Inggris maupun sebaliknya akibat sukma bahasa saling beda satu dengan lain-lainnya.

Mohon dimaafkan naskah ini saya tulis dalam bahasa Indonesia yang sudah barang tentu beda sukma dengan bahasa Prancisnya Bergson maupun bahasa Inggrisnya Smolin. Apalagi jangkauan pemikiran maupun daya ungkap pemikiran saya berada nun jauh di bawah daya pikir kedua mahapemikir tersebut.

 


Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Sebelumnya

Ekonomi Kerakyatan dan Ekonomi Syariah: Dua Tombak Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional