Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
BERDASARKAN padanan istilah teknis, drone dalam bahasa Indonesia diserap menjadi dron. Istilah ini merujuk pada pesawat tanpa awak atau kendaraan udara tanpa awak (UAV - Unmanned Aerial Vehicle) yang dikendalikan dari jarak jauh, biasanya dilengkapi kamera untuk memotret atau merekam video dari udara.
Kata udara pada definisi dron sebenarnya sudah kadaluwarsa karena sekarang sudah ada istilah dron bawah laut alias UUV (Unmanned UNDERWATER Vehicle”) .
Terberitakan bahwa kedaulatan lautan wilayah Indonesia terancam dron bawah laut bikinan China. Berita itu bukan hoax karena China sendiri sudah resmi mengakui sudah bikin dan mengembangkan dron bawah laut berfungsi sebagai kapal selam tanpa awak.
UVV yang sudah resmi diakui China adalah Haiyi “Sea Wing” tipe Glider UUV. Bentuknya kayak torpedo bersayap. Haiyi berfungsi sebagai mata-mata laut. Bisa menyelam ribuan meter, menghimpun data suhu, arus, suara kapal selam musuh.
Daya tahan bulanan karena geraknya pakai daya apung, bukan baling-baling. Sudah operasional di Laut China Selatan dan Samudera Hindia sejak 2017. Tahun 2019 dipamerkan pada parade militer RRChina.
Keistimewaan dron bawah laut China:
1. Murah-Meriah: Glider “Haiyi” biayanya jauh lebih murah dari kapal selam nuklir. Jadi bisa dilepas puluhan biji sekaligus.
2. AI buat berburu kapal selam: Dilaporkan tahun 2024, China uji UUV yang bisa identifikasi suara baling-baling kapal selam pakai AI, lalu bayangin diam-diam.
Tahun 2023 peneliti Harbin sudah mengumumkan prototipe dron yang bisa terbang lalu nyelam ke laut, terus terbang lagi. Namanya “Transmedia vehicle” meski masih pada tahap uji-coba.
Jika China punya “Haiyi” maka Amerika Serikat punya “Orca” dan Russia punya “Poseidon”.
Orca XLUUV – Extra Large Unmanned Undersea Vehicle diproduksi Boeing, bareng Angkatan Laut AS. Panjang 26 meter, diameter 2.5 meter. Segede gerbong kereta. Berat 80 ton.
AS tidak mau kirim kapal selam nuklir mahal + 150 awak cuma buat pasang ranjau atau ngintip pelabuhan. Jadi bikin “kapal selam tumbal” yang murah dan nggak bikin nangis kalau ketembak.
Modular seperti Lego di mana bagian tengahnya bisa dibongkar-pasang. Hari ini membawa modul ranjau buat menutup selat, besok ganti modul sonar buat berburu kapal selam China, lusa bawa modul rudal jelajah kecil. Orca bisa menyelam sendiri 10.000+ km selama berbulan-bulan tanpa muncul.
Pakai baterai lithium + diesel-elektrik. Nongol cuma buat angkat snorkel, isi udara, lalu menyelam lagi. Orca bisa navigasi, hindari rintangan, putusin nembak atau kabur sendiri kalau komunikasi ke pusat putus. Tahun 2023 AL AS tes Orca jalan mandiri dari California ke Hawaii pp tanpa dikendalikan manusia. 2026 Orca sudah masuk tahap produksi.
AL AS sudah pesan 5 unit pertama, harga sebiji ~$60 juta. Murah banget dibanding kapal selam Virginia Class $4.3 miliar. Misi utama Orca "Dirty, dull, dangerous" – misi kotor, membosankan, bahaya yang sayang kalau pakai manusia. Contoh: menyusup ke pelabuhan musuh tebar ranjau, lalu pulang.
Di sisi lain, Russia mengembangkan Poseidon alias Dron Bawah Laut Kiamat. Poseidon lahir dari paranoia Russia takut sistem pertahanan rudal AS bisa menangkis ICBM mereka. Maka Russia bikin dron yang tidak lewat udara, tapi lewat laut mustahil bisa dicegat.
Dibocorin “tanpa sengaja” di TV Russia tahun 2015 tatkala Putin rapat. Poseidon bertenaga reaktor nuklir mini sehingga jangkauannya tak terbatas. Bisa muterin dunia 2x tanpa isi BBM. Kecepatan 100 knot = 185 km/jam di bawah laut maka tidak ada torpedo yang bisa mengejar.
Hulu ledak Poseidon diperkirakan 100 megaton. Bom yang membumihanguskan Hiroshima 15 kiloton. Poseidon bisa 6000x lebih destruktif. Diledakkan di lepas pantai, bikin tsunami radioaktif setinggi 500 meter yang menenggelamkan kota pesisir.
Misi utama Poseidon bukan lawan kapal namun “pukulan balas dendam ”. Kalau Rusia sudah hancur kena nuklir, Poseidon tetap meluncur otomatis di kedalaman 1 km, menghantam New York atau Los Angeles dari bawah laut. Dijamin tikdak ada sistem yang mampu menyetop Poseidon.
AS mau perang bawah laut jadi murah serta massal bukan dengan dron udara tapi versi bawah laut. Sementara Russia bilang “kalau kami mati, kalian juga” alias sampyuh kiamat bersama.
Orca, Poseidon dan Haiyi merupakan indikasi bahwa perang masa depan akan dilakukan oleh robot. Manusia duduk di bunker, yang berperang robot sebesar bus kota di kedalaman lautan 1 km.




KOMENTAR ANDA