Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
SAYA siap mempertanggung-jawabkan judul naskah terkesan lebay sambil cenderung mengkultuskan individu ini, karena di masa remaja lewat radio ketika belum ada televisi, saya merasa tersihir oleh pidato-pidato Bung Karno yang sarat kandungan untaian kata-kata bersifat majas. Bung Karno Dewa Majas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna istilah MAJAS adalah ma·jas = cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; kiasan.
Dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya majas adalah pedang kata-kata sebagai senjata bicara atau tulisan yang tidak biasa/ lurus agar bisa bikin kalimat menjadi lebih hidup, jenaka, menarik dan tajam. Majas adalah Gaya Bahasa. Atau bisa juga: Bahasa Bergaya.
Secara taksonomis-linguistik ada 4 jenis utama majas yaitu Perbandingan, Pertentangan, Penyrempetan, Penegasan:
1. MAJAS PERBANDINGAN
“Kayak, Bagai, Ibarat, Laksana” semisal: Hatinya selembut sutra atau Imannya teguh ibarat batu karang. Atau: metafora Bung Karno Dewa Majas; Gus Dur Pelita Bangsa. Atau personifikasi di mana benda mati diberi sifat mahluk hidup semisal: Pianoforte menangis disentuh jari-jemari Glenn Gould.
2. MAJAS PERTENTANGAN
Perbenturan kata bersifat Paradoks (matanya melek, hatinya buta), Antitesis (naik-turun), Oksimoron (kegagalan yang indah).
3. MAJAS PENYREMPETAN
Ironi: “Hmm, kamu rajin ya, sudah jam 10 baru bangun.”
Sinisme: “Otak udang koq mau ngatur negara”.
Sarkasme: “Para politisi lupa rakyat berkat mabuk kekuasaan”,
Atau kini medsos = media sosial menjadi medasos = media asosial
4. MAJAS PENEGASAN dalam bentuk pengulangan agar melekat di lubuk sanubari pendengarnya seperti: Bung Karno dilanjutkan Megawati di akhir pidato berseru MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!. Atau Jokowi bilang PASTI BISA! PASTI BISA! PASTI BISA!
Juga bisa Hiperbolik seperti “amanat penderitaan rakyat membelah langit”.
Atau klimaks mulai dari kecil menjadi besar alias kresendo, seperti “Manusia rebahan, lalu duduk, lalu berdiri, lalu berlari.” Sementara antiklimas sebaliknya dari besar menjadi kecil alias diminuendo, seperti “Setelah lanjut usia, manusia berhenti berlari untuk berdiri kemudian duduk lalu rebahan alias meninggalkan dunia fana.”
Majas adalah bumbu. Tanpa bumbu hidangan hambar. Tanpa bumbu, pidato membosankan. Tanpa bumbu puisi hampa makna. Tanpa bumbu, novel datar. Tanpa bumbu, dagelan tidak lucu. Apalagi one stand comedy tanpa bumbu, langsung menjadi one stand tragedy!
Puisi Chairil Anwar, Rendra, Taufik Ismail, Sapardi Joko Darmono indah bertaburan majas. Juga novel Sutan Takdir Alisyahbana dan Pramudya Ananta Toer.
Fakta membuktikan secara tak terbantahkan bahwa obat insomnia paling manjur masa kini tak ayal lagi adalah mendengarkan orasi para politisi. Bagi yang tidak percaya silakan coba sendiri!
Bukan mustahil, taksonomis majas dilanjutkan sampai akhir jaman akibat terkait langsung pada gelora semangat inovasi dan kreatifitas umat manusia sesuai inti makna peradaban sejatinya yaitu selalu berusaha menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik.
Kata-kata dan istilah-istilah baru seperti influencer, youtuber, medsos, medasos, netizen, jaman now, milineal, kecerdasan buatan, kelirumologi, new normal, populisme, yang sudah ada maupun tak terhitung belum ada tapi akan ada, niscaya siap didayagunakan untuk berkelanjutan menciptakan kiasan atau gaya bahasa baru.
Masa depan apa yang disebut sebagai bahasa an sich sepenuhnya berada di tangan umat manusia yang menggunakannya di masa kini.
MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!




KOMENTAR ANDA