post image
Ilustrasi ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

KELIRUMOLOGI bukan ilmu membuat kekeliruan tetapi ilmu yang menelaah kekeliruan maka dengan sendirinya Dalangomologi bukan ilmu membuat dalang tetapi ilmu yang menelaah pedalangan.

Menurut pendapat subyektif saya, profesi dirigen overrated sebab orkestra bisa eksis tanpa dirigen seperti telah terbukti pada I Musici di Roma atau orkes simfoni Indonesia Pusaka. Di sisi lain profesi dalang tidak bisa overrated sebab dalang mutlak perlu!

Tanpa dalang, tidak ada pergelaran wayang mulai dari wayang kulit sampai wayang beber. Bahkan wayang orang juga rawan kacau-balau berkarya tanpa dalang sebagai sutradara. Produser memang penting untuk membiayai pergelaran wayang yang seperti produksi film butuh pihak yang dipikul oleh seorang atau beberapa produser.

Namun nama sutradara lebih diutamakan pada produksi sinemotografi. Seorang mahadalang sekelas Ki Narto Sabdo atau Ki Manteb Sudarsono terbukti mampu swadaya membiayai produksi pergelaran diri sendiri. Tidak tergantung pada pihak lain untuk membiayainya.

Tokoh mahadalang Ki Narto Sabdo adalah polymath setara Leonardo da Vinci atau Benjamin Franklin sebab serba bisa. Maka sejak lama saya mendambakan anugerah Pahlawan Nasional bagi Ki Narto Sabdho setara dengan Ismail Marzuki.

Jika UNESCO mengakui wayang sebagai warisan kebudayaan Indonesia maka seharusnya UNESCO juga menghargai Ki Narto Sabdho sebagai toloh pelestari dan pengembang wayang.

Di semesta pewayangan, Ki Narto Sabdo berperan sebagai guru sebab mendidik para pemusik dan persinden untuk mampu nyata berkarya. Termasuk beliau juga pernah mendidik saya main gamelan namun bakat saya main gamelan terlalu rendah sehingga saya beralih berguru filsafat wayang pada Ki Narto Sabdho.

Ki Narto Sabdho adalah pemain sekaligus sutradara wayang kulit. Beliau juga penggubah lagu yang sebagai sound track siap menyemarakkan pergelaran wayang seperti misalnya Prau Layar, Kancil Ucul, Caping Gunung, Ojo Lamis atau Gambang Suling. (Wayang golek Sunda juga punya lagu kebangsaan mereka yaitu Es Lilin).

Sebagai dalang, Ki Narto Sabdo berperan dirigen merangkap pemain kendang di samping pembunyi trok-tok-tok pada peti wayang kulit. Dalam soal kemahiran main kendang, Ki Narto Sabdo tiada lawan di marcapada ini.

Mahadalang juga merangkap penyusun skenario yang memilih bahkan menggubah lakon kemudian secara menakjubkan diwujudkan dengan kesaktian bersuara lelaki, kesatria, dewa, dewi, bidadari,  raksasa, dedemit, waria, transpuan, protagonist, antagonis bahkan suara hewan.

Menakjubkan bagaimana Ki Narto Sabdo seorang diri silih berganti menampilkan suara Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa secara saling beda warna, logat, lafal serta hirarki krama. Sabetan Ki Narto Sabdho juga dahsyat seperti tatkala menampilkan tokoh Cakil jauh lebih mahir ketimbang Michael Jackson melakukan moon walk atau Nurejew melawan hukum daya tarik bumi!

Episode Goro-Goro ditunggu publik sebagai obat ngantuk dengan penampilan jenaka penuh keraifan para Punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong di satu sisi, dan Togog dan Bilung di sisi lain. Bahkan masih ada tokoh perempuan semisal Limbuk yang gembrot dan Cangik yang kurus kering.  Suara khas Batara Narada sebagai dewa yang gemar nuding-nuding menjadi legendaris berkat kreatifitas dan inovasitas tak terhingga Ki Narto Sabdo.

Di samping dalang, pemusik, penggubah lagu dan lakon, Ki Narto Sabdo juga berperan sebagai manajer merangkap event-organizer plus penyandang dana produksi pegelaran wayang kulit bahkan juga rekaman yang mengabadikan mahakarya-mahakaryanya. Jangan dilupakan: grup wayang orang Ngesti Pandowo yang dibawa ke masa puncak keemasan oleh Ki Narto Sabdho.

Pendek kata, hanya satu dan satu-satunya kata yang tepat demi mengekspresikan kesaktimandragunaan seorang dalang apalagi mahadalang dalam berkarya kebudayaan, yaitu menakjubkan!


Para Tokoh Detektif Fiktif

Sebelumnya

Bung Karno Dewa Majas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana