post image
Ilustrasi ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

TEMPAT kelahiran saya adalah Denpasar di pulau Bali. Namun de facto pada usia sebelas bulan saya diboyong ke Semarang di pulau Jawa. Akibat tumbuh-kembang di lingkungan kebudayaan Jawa maka en natura saya berupaya memelajari kebudayaan Jawa termasuk filsafat Jawa.

Satu di antara falsafah Jawa yang merasuk masuk ke sukma lubuk sanubari saya, adalah Ojo Dumeh. Falsafah Jawa ini pada hakikatnya sulit diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa apapun termasuk bahasa Indonesia.

Jika dipaksakan Ojo Dumeh  bisa dialih-bahasa-Indonesiakan sebagai jangan terkebur, jangan sombong, jangan mentang-mentang atau jangan lupa daratan. Tanpa ada yang sempurna mampu menangkap makna sejatinya.

Pada prinsipnya, Ojo Dumeh berniat menyadarkan manusia untuk senantiasa bersikap rendah hati demi mampu membuka pintu gerbang menuju ke arah penyingkapan selimut misteri yang menyelubungi  alam semesta.

Saya berikhtiar untuk berpedoman pada Ojo Dumeh  sebagai kendali akhlak diri saya sendiri meski harus saya akui lebih banyak gagal ketimbang berhasil.

Namun di dalam kegagalan saya menemukan kandungan makna estetikal luar biasa indah yaitu kesadaran tentang paradoks semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita menyadari betapa banyaknya yang masih harus dipelajari. Ini adalah paradoks yang membuat kita tetap rendah hati dan terus belajar.

Para pemikir Eropa menyebut paradoks ini sebagai "doktrin kebodohan" atau "docta ignorantia", yaitu kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa. Ini adalah kesadaran bijak, karena membuat kita tetap terbuka untuk belajar dan menerima informasi baru.

Sokrates sendiri mengaku "Saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa" yang merupakan awal dari konsep yang disebut sebagai "docta ignorantia". Nikolas dari Cusa kemudian mengembangkan konsep ini dalam karyanya "De Docta Ignorantia" diterbitkan tahun 1440.

Layak disimpulkan bahwa Ojo Dumeh memiliki asas kerendahan hati searah-seirama-setujuan pemikiran Sokrates dan para filosof Yunani kuno. Namun Nikolas dari Cusa yang mengembangkan dan mempopulerkan konsep "docta ignorantia". 

Nicholas dari Cusa (1401-1464) adalah seorang teolog, filsuf, dan ilmuwan Jerman yang hidup pada abad ke-15. Dia adalah satu di antara tokoh berpengaruh dalam sejarah filsafat dan teologi Kristen. Nicholas dari Cusa lahir di Cusa, Jerman (sekarang Bernkastel-Kues, di tepi Sungai Mosel, Rhineland-Palatinate, Jerman) dan belajar di Universitas Heidelberg dan Universitas Padua. Dia kemudian menjadi uskup dan kardinal Gereja Katolik Roma.

Karya-karyanya yang terkenal adalah "De Coniecturis" (Tentang Konjektur), dan "De Visione Dei" (Tentang Penglihatan Tuhan) dan tentu saja "De Docta Ignorantia" (Tentang Doktrin Ketidak-tahuan yang Bijak) yang ternyata menjalin hubungan batin dengan Ojo Dumeh.  

 


Dalangomologi

Sebelumnya

Para Tokoh Detektif Fiktif

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana