Di luar sana, para pelayat masih menangisi jenazah-jenazah yang hangus. Di stasiun-stasiun, para penumpang masih berdesakan dengan was-was yang tak terucapkan, dengan doa-doa yang dilafalkan dalam diam. Di perlintasan-perlintasan tanpa palang pintu—masih banyak, masih sangat banyak—para pengendara masih beradu nyawa dengan kereta yang melesat, berharap kali ini mereka cukup cepat, cukup beruntung, cukup diberi umur panjang.
Dan di balik podium-podium mengkilap, di balik layar-layar wawancara, para tokoh kita masih sibuk membuat garis demarkasi. Masih sibuk mencitrakan diri. Masih sibuk mengusulkan solusi-solusi yang tak nyambung, yang ganjil, yang membuat kita bertanya-tanya: apakah mereka pernah benar-benar naik kereta bersama rakyat biasa?
Di negeri ini, bisikku pada diri sendiri, mati itu rupanya sangat murah. Dan tanggung jawab—ah, tanggung jawab itu barang mewah. Terlalu mahal untuk dibeli dengan ratusan nyawa yang melayang sia-sia.
***
Malam ini, tiba-tiba aku ingin pulang ke Jawa.
Ingin duduk di kursi empuk gerbong eksekutif, menatap kelap-kelip lampu di tepi persawahan yang melintas di balik jendela, membaca buku sambil sesekali menyesap kopi yang mendingin. Ingin mendengar lagi suara kondektur: "Stasiun berikutnya: Purwosari." Ingin merasakan getaran rel yang menenangkan, bukan getaran yang menakutkan.
Aku ingin menikmati lagi perjalanan yang tenang. Perjalanan yang tak diiringi was-was. Perjalanan di mana satu-satunya yang kupikirkan adalah sampai—bukan apakah aku akan sampai. Aku ingin, ketika tiba di stasiun tujuan, anakku menyambut dengan pelukan kecilnya, dengan tawa yang renyah, dengan tangan usil yang menarik tasku. Bukan dengan air mata di depan peti mati yang tertutup.
Tapi untuk itu, ada yang harus berubah. Ada yang harus dituntaskan.
Sistem keselamatan perjalanan kereta api harus dibenahi total. Bukan tambal sulam. Bukan sekadar wacana. Bukan sekadar pernyataan pers yang diketik oleh staf humas dengan bahasa yang indah-indah. Palang pintu di setiap perlintasan harus ada. Harus berfungsi. Harus dijaga. Sinyal-sinyal harus akurat, tanpa toleransi barang sedetik pun. Prosedur harus ketat, dilaksanakan tanpa kompromi, tanpa "nanti dulu", tanpa "lihat situasi".
Dan di atas segalanya, harus ada satu pihak yang berani memegang tanggung jawab penuh. Tanpa melemparnya ke sana-kemari seperti bola panas yang tak sudi disentuh. Aku tak peduli apakah itu KAI atau Pemda atau kementerian ini-itu. Yang kupedulikan adalah: ketika aku menaiki kereta esok hari, aku ingin yakin bahwa aku akan sampai. Bahwa ibuku di rumah tak perlu gelisah menunggu telepon yang tak kunjung berdering. Bahwa anakku tak akan menjadi yatim di usia yang terlalu dini.
Bukankah itu hak paling dasar dari seorang penumpang?
Hak untuk selamat.
Hak untuk tiba.
Hak untuk pulang.
***
Malam semakin larut, menggulung dirinya sendiri seperti gulita yang enggan terusik fajar. Aku masih di sini, di depan layar, merangkai esai yang mungkin tak akan pernah dibaca oleh mereka yang kusebut namanya—atau mungkin justru akan dibaca, dan mereka akan tersenyum kecut, lalu melanjutkan rapat-rapat yang tak menghasilkan apa-apa.
Di kejauhan, sayup-sayup kudengar klakson kereta. Panjang, melengking, menusuk malam. Ah, mungkin itu KRL terakhir, melintas dalam gelap, membawa para penumpang yang hanya ingin segera sampai di rumah. Para penumpang yang sama sepertiku: lelah, ingin pulang, dan hanya bisa berharap.
Berharap bahwa rel-rel ini masih sudi mengantarkan mereka.
Berharap bahwa maut sedang tidur malam ini.
Aku berdoa dalam hening. Bukan doa yang indah-indah seperti dalam kitab-kitab. Tapi doa yang mentah, yang getir, yang keluar dari dada paling dalam:
Ya Allah, peliharalah kami, para peziarah rel yang lelah ini. Jangan biarkan kami mati sia-sia di atas rel-Mu, hanya karena mereka yang Engkau beri amanah terlalu sibuk berdebat dan berkelit. Ampunilah dosa-dosa kami. Ampunilah kelalaian kami. Dan ampunilah—jika Engkau masih sudi—kelalaian mereka yang tak sudi bertanggung jawab.
Aamiin.
Dikonsep di Bandung, dimatangkan di Jakarta, dirampungkan di Makassar, April-Mei 2026.




KOMENTAR ANDA