Trust, dalam arti ini, bukan sekadar rasa percaya. Ia adalah keyakinan bahwa kenyataan masih setia pada cita-cita semula.
Begitu jarak antara praktik dan cita-cita terlalu jauh, trust mulai runtuh.
Menariknya, pola yang sama ternyata muncul dalam budaya populer Indonesia. Coba dengarkan dangdut atau campursari. Sebagian besar lagunya berisi ratapan tentang pengkhianatan cinta: janji yang diingkari, kesetiaan yang runtuh, orang yang berubah setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Karena itu Didi Kempot menjadi fenomena sosial, bukan sekadar penyanyi. Ia seperti juru bicara emosional masyarakat yang akrab dengan pengalaman berharap lalu ditinggalkan.
Di situ terlihat pola yang hampir identik dengan politik Indonesia:
rakyat memberi kepercayaan,
elite datang membawa harapan,
lalu kesetiaan perlahan menghilang setelah kekuasaan berhasil diraih.
Mungkin karena itu masyarakat Indonesia tidak terlalu takut pada kekalahan. Yang paling melukai justru pengkhianatan setelah adanya kepercayaan.
Dan mungkin di sinilah makna tersembunyi dari kalimat legendaris Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Soekarno tampaknya memahami sesuatu yang sangat dalam: setelah kemerdekaan, musuh terbesar republik belum tentu bangsa asing. Tetapi Bung Karno tidak pernah menjelaskan bilamana “bangsa sendiri” itu bisa menjadi musuh.
Mungkin jawabannya muncul ketika elite mulai mengkhianati cita-cita yang dulu mereka perjuangkan bersama.
Karena itu problem Indonesia mungkin bukan kekurangan cita-cita besar. Republik ini sejak awal sudah memiliki fondasi moral yang sangat jelas.
Yang berulang kali hilang adalah kesetiaan untuk menjaganya.




KOMENTAR ANDA