Hal ini memerlukan pengalihan paradigma dari zero-sum game menjadi manajemen persaingan yang sehat (managed competition).
Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute
DINAMIKA geopolitik kontemporer saat ini didominasi oleh satu pertanyaan besar: apakah kebangkitan China secara tak terelakkan akan memicu benturan militer terbuka dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan petahana? Ketegangan di Selat Taiwan, Laut China Selatan, hingga perang tarif dagang dan teknologi sering kali dibaca sebagai gejala awal dari sebuah konflik kolosal yang tak terhindarkan.
Banyak analis merujuk pada sejarah klasik, membandingkan rivalitas Washington-Beijing hari ini dengan perseteruan berdarah antara Athena dan Sparta di masa Yunani Kuno.
Namun, jika kita menyelami lebih dalam studi komprehensif yang dilakukan oleh sejarawan dan pakar hubungan internasional Universitas Harvard, Graham Allison, dalam bukunya Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap? (2017), kita akan menemukan secercah optimisme.
Allison memperkenalkan konsep "Perangkap Thucydides" (Thucydides's Trap), sebuah dinamika struktural berbahaya ketika suatu kekuatan baru yang sedang bangkit (rising power) mengancam posisi kekuatan dominan yang sedang berkuasa (ruling power). Kendati sejarah menunjukkan kecenderungan yang kelam, potret masa lalu bukanlah determinisme mutlak yang mendikte masa depan.
Dalam risetnya yang mencakup bentang sejarah selama 500 tahun terakhir, Allison bersama timnya di Harvard Belfer Center mengidentifikasi 16 kasus makro di mana rising power berhadapan langsung dengan ruling power. Hasilnya menunjukkan angka yang mengkhawatirkan namun sekaligus mencerahkan: 12 dari kasus tersebut berakhir dengan perang destruktif, sementara 4 kasus lainnya berhasil diselesaikan secara damai tanpa pertumpahan darah universal.
Rasio ini menegaskan bahwa perang memang menjadi ancaman struktural yang sangat nyata, namun perdamaian tetaplah sebuah probabilitas yang bisa diupayakan melalui kalkulasi rasional dan diplomasi yang cermat.
Mari kita urai terlebih dahulu 12 kasus historis yang berujung pada bencana perang besar. Kasus pertama dan yang paling fundamental adalah Perang Peloponnesos (431–404 SM) antara Athena yang sedang tumbuh pesat sebagai kekuatan maritim dan Sparta sebagai kekuatan darat hegemonik di semenanjung Yunani.
Dinamika ketakutan Sparta atas pertumbuhan Athena inilah yang memicu perang yang akhirnya menghancurkan masa keemasan peradaban Yunani Kuno, sebuah pola dasar yang melahirkan istilah Perangkap Thucydides.
Memasuki era modern awal, ketegangan struktural serupa terjadi dalam Perang Hapsburg-Valois Fase Pertama (1494–1559), di mana kebangkitan Dinasti Hapsburg yang mengonsolidasikan kekuasaan di Spanyol dan Kekaisaran Romawi Suci mengancam dominasi Kerajaan Prancis.
Rivalitas ini berlanjut pada Perang Hapsburg-Valois Fase Kedua (1519–1559) yang berfokus pada perebutan hegemoni di Italia dan Eropa Barat, menegaskan betapa sulitnya meredam kecurigaan antardinasti yang saling bersaing memperebutkan ruang pengaruh politik.
Kasus keempat adalah Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648), sebuah konflik multi-negara yang dipicu oleh kebangkitan Hapsburg namun bertransformasi menjadi perang eksistensial melawan koalisi Prancis dan Swedia yang berusaha mempertahankan keseimbangan kekuatan di Eropa.
Konflik struktural ini terus berulang, seperti terlihat pada Rivalitas Prancis-Hapsburg (1667–1700) di mana Prancis di bawah Louis XIV bangkit menjadi kekuatan hegemonik baru yang menantang supremasi tradisional Hapsburg, memicu rangkaian konflik seperti Perang Sembilan Tahun.
Selanjutnya, sengketa beralih ke skala yang lebih luas dalam Perang Suksesi Spanyol (1701–1714), di mana kebangkitan Prancis yang mencoba menyatukan mahkota Spanyol ditantang oleh aliansi penguasa laut Britania Raya dan Hapsburg Austria.
Pola ini mengristal menjadi Rivalitas Anglo-Prancis (1744–1815), sebuah pertarungan global selama tujuh dekade yang melibatkan Perang Tujuh Tahun hingga Perang Napoleon, mencerminkan bagaimana ambisi Prancis menantang imperium Britania Raya selalu berakhir di medan laga.
Perangkap Thucydides juga memakan korban di Asia Timur, dimulai dari Perang Sino-Jepang Pertama (1894–1895) ketika Kekaisaran Jepang yang melakukan modernisasi pesat bangkit menantang dominasi tradisional Dinasti Qing China atas Semenanjung Korea. Tak lama berselang, giliran Perang Rusia-Jepang (1904–1905) meletus, di mana Jepang sebagai kekuatan baru di Asia menantang pengaruh Kekaisaran Rusia di Manchuria dan Korea, membuktikan kekuatan militer Asia mampu menumbangkan kekuatan besar Eropa.
Memasuki abad ke-20, dinamika struktural ini memicu malapetaka global terbesar umat manusia, diawali oleh Perang Dunia I (1914–1918) di mana kebangkitan industri dan militer Kekaisaran Jerman menantang supremasi maritim global Britania Raya.
Pola kehancuran kembali terjadi dalam Perang Dunia II di Eropa (1939–1945), di mana Jerman Nazi bangkit secara agresif menantang tatanan yang dijaga Britania Raya dan Prancis. Secara simultan di teater lain, Perang Dunia II di Pasifik (1941–1945) meletus ketika kebangkitan imperialisme Jepang di Asia Timur menantang dominasi strategis dan ekonomi Amerika Serikat.
Empat Preseden Historis
Namun, di balik rentetan tragedi tersebut, Graham Allison menyajikan empat preseden historis berharga di mana eskalasi konflik berhasil diredam dan berakhir dengan perdamaian. Kasus damai pertama adalah Rivalitas Anglo-Rusia (1815–1820-an). Kekaisaran Rusia pasca-Napoleon mengancam pengaruh Britania Raya atas Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman). Melalui diplomasi konser Eropa dan penyesuaian batas geopolitik yang hati-hati, kedua kekuatan besar ini berhasil menghindari perang langsung di dekade tersebut.
Kasus damai kedua yang paling fenomenal adalah Krisis Anglo-Amerika (1895–1915), di mana kebangkitan ekonomi dan militer Amerika Serikat secara agresif menantang dominasi Britania Raya di Belahan Bumi Barat (salah satunya terkait krisis perbatasan Venezuela).
Alih-alih mengangkat senjata, Britania Raya memilih melakukan konsesi strategis dan pengakuan secara bertahap terhadap doktrin pengaruh AS, sebuah proses yang dikenal sebagai The Great Rapprochement yang akhirnya menyatukan kedua negara sebagai sekutu abadi.
Kasus damai ketiga terjadi pasca-Perang Dunia II melalui Rivalitas Prancis-Jerman (1960-an), di mana kebangkitan kembali ekonomi Jerman Barat berpotensi memicu ketakutan tradisional Prancis. Alih-alih terjebak dalam memori konflik masa lalu, para pemimpin kedua negara memilih mengintegrasikan kedaulatan ekonomi dan politik mereka ke dalam institusi Eropa (cikal bakal Uni Eropa), mengubah persaingan menjadi kerja sama institusional yang solid.




KOMENTAR ANDA