post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Sastra yang lahir dari selokan, untuk menampar kita yang pongah duduk di lobby hotel bintang sembilan.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

BINATANG yang paling sering diinjak, paling menjijikkan, tapi justru paling jujur adalah kecoak. Dari Praha sampai Jakarta, dari gubuk Bukit Duri sampai panggung Teater Koma, kecoak merayap masuk ke dalam semesta prosa dan puisi. Bukan sebagai hama, tapi sebagai nabi. Inilah “Sastra Kecoak” — sastra yang lahir dari selokan, untuk menampar kita yang pongah duduk di lobby hotel bintang sembilan.

Semesta Sastra mengenal kecoak dalam dua mazhab besar:

Pertama, Aliran Kafka: Kecoak adalah Aku.

Tahun 1915, Franz Kafka menulis “Metamorphosis”. Gregor Samsa bangun tidur dan mendapati dirinya berubah jadi “serangga raksasa”. Kritikus sepakat: itu kecoak. Gregor bukan dikutuk dewa. Dia dikutuk oleh sistem: keluarga yang hanya peduli gajinya, bos yang hanya peduli angka. Begitu tak produktif, dia dianggap hama. 

Di abad 21, Rawi Hage menulis “Cockroach”. Tokohnya imigran Lebanon di Kanada yang merasa dirinya kecoak: diusir, dibasmi, tak dianggap manusia. Pramoedya Ananta Toer menulis cerpen “Kecoa dan Manusia”. Dia mengamati kecoak yang diinjak tapi hidup lagi. Sama seperti pikiran tapol: badan dikurung, tapi jiwa tetap merdeka. Pesan mazhab ini: Kecoak adalah metafora depresi, alienasi, dan perasaan menjadi “sampah” di rumah sendiri. Ini sastra psikologis. Jalurnya Eugene O’Neill.

Kedua, Aliran La Cucaracha : Kecoak adalah Kamu.

Tahun 1985, N. Riantiarno mementaskan “Opera Kecoa”. Di selokan Jakarta, kecoak berfilsafat, berpolitik, dan marah. Mereka mewakili rakyat kecil yang diinjak Orde Baru tapi tak mati-mati. 

Jauh sebelumnya, tahun 1910, Revolusi Mexico melahirkan lagu “La Cucaracha”. Liriknya: “Si Kecoak sudah tak bisa jalan / Karena tak punya ganja untuk diisap”. Lagu Kecoak itu ejekan untuk Presiden Victoriano Huerta, diktator pemabuk.

Tahun 2019, Ian McEwan menulis “The Cockroach”. Seekor kecoak merasuki badan Perdana Menteri Inggris. Logikanya sederhana: selamatkan diri sendiri, peduli setan dengan negara. Pesan mazhab ini: Kecoak adalah metafora kekuasaan yang bobrok. Dibasmi tak mati, muncul di mana-mana, dan hanya memikirkan perut sendiri. Ini sastra politik. Jalurnya Henrik Ibsen.

Kenapa kecoak? Kenapa bukan kupu-kupu? Kenapa bukan elang? Karena kecoak punya minimal tiga sifat manusia modern:

1. Tahan Banting: Radiasi nuklir tak membunuhnya. Diinjak, dia bisa hidup seminggu tanpa kepala. Ini persis rakyat kecil: digusur, dipajak, tapi besok tetap jualan di lampu merah.

2. Hidup di Gelap: Kecoak tak suka lampu. Manusia modern juga tak suka “penerangan”. Kita nyaman dalam kebohongan, hoaks, dan ruang gema.

3. Jadi Cermin: Orang takut kecoak bukan karena gigitannya. Tapi karena dia memantulkan apa yang kita sembunyikan: kotor, rakus, dan selalu lari dari masalah. Sastra memilih kecoak karena kecoak tak bisa munafik. Dia hanya bisa survive.  Jalurnya Samuel Beckett.

Nusantara punya tradisi panjang. Serat “Pangkur” era Mataram sudah menulis: “Kaya kecoak anglayang nora weruh geni” — manusia bodoh seperti kecoak yang terbang mendekat ke api nafsu, lalu terbakar sendiri. Ini tasawuf Jawa.

Pramoedya melihat daya tahan. Rendra melihat perlawanan. Nano Riantiarno melihat negara yang isinya selokan. Ratna Sarumpaet mungkin akan bilang: “Kalau Marsinah masih hidup, dia akan memanggil para pembunuhnya ‘kecoa’.” Panggung Teater Indonesia pada dasarnya adalah selokan. Dan kecoak adalah aktor utamanya. 

Di era media sosial, kita hidup dalam dua kondisi kecoak sekaligus. Sebagai rakyat, kita merasa jadi “Gregor Samsa”. Dianggap angka oleh algoritma. Begitu tak produktif, tak viral: delete! Sebagai bangsa, kita sering melihat “kecoa” di kursi kekuasaan. Tak mati-mati oleh kritik. Muncul di setiap proyek. Hanya memikirkan cara berkelanjutan memperkaya diri sendiri.

“Opera Kecoa” bukan ditonton untuk hiburan. Ia ditonton untuk merasa gerah.

“Metamorphosis” bukan dibaca untuk paham plot. Ia dibaca untuk bertanya: “Aku manusia atau hama?”  Sastra Kecoak mengajukan satu pertanyaan terakhir: kalau kecoak terus muncul di rumahmu, yang salah kecoaknya atau rumahmu yang kotor?

Membasmi kecoak di panggung atau di parlemen tak akan menyelesaikan masalah selama selokannya masih jorok. Tugas sastra bukan membunuh kecoak. Tugasnya adalah menyalakan lampu di selokan, agar kita berani melihat siapa yang sebenarnya menjijikkan.

Dan kalau kita berani bercermin, mungkin kita sadar: kecoak paling menakutkan bukan yang di lantai. Tapi yang ada di dalam diri kita sendiri.


Kontemplari Akhir Hayat

Sebelumnya

Mozart dan Jalak

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jaya Suprana