Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak mentah mencatatkan kenaikan mendadak akibat serangan militer baru di kawasan Laut Merah. Kenaikan harga ini terjadi tepat ketika Pemerintah Amerika Serikat, Iran, dan Oman sedang mematangkan kesepakatan diplomatik penting untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Minyak mentah acuan internasional Brent menguat hingga melampaui level $80 per barel, sementara acuan AS West Texas Intermediate (WTI) ikut terdorong naik. Gejolak harga terbaru ini dipicu oleh klaim kelompok milisi Houthi yang didukung Iran terkait serangan rudal terhadap kapal tanker minyak milik Arab Saudi di dekat pelabuhan Yanbu, Laut Merah.
Serangan tersebut mengejutkan pasar yang sebelumnya sempat mengalami penurunan harga hingga lebih dari 5 persen. Penurunan harga minyak beberapa hari sebelumnya didorong oleh optimisme pasar menyusul pernyataan para pejabat tinggi AS yang mengindikasikan bahwa kesepakatan sementara untuk menstabilkan Selat Hormuz dapat dicapai dalam waktu dekat.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dalam wawancaranya dengan CNBC mengungkapkan bahwa negosiasi yang melibatkan mediator regional menunjukkan kemajuan signifikan. Bessent menyebut bahwa terdapat peluang besar bagi Washington dan Tehran untuk menyepakati kerangka kerja sama navigasi demi memulihkan arus komoditas energi dunia.
Dalam rancangan kesepakatan sementara yang sedang dibahas, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akan dibagi ke dalam dua koridor utama. Kapal-kapal dagang yang masuk ke Teluk Persia direncanakan melewati wilayah perairan yang dikelola Iran, sementara kapal yang keluar akan melintasi jalur laut yang dijaga oleh Oman dengan koordinasi ketat bersama Tehran.
Isu kunci yang menjadi bahan perdebatan sengit dalam negosiasi ini adalah mengenai kebebasan navigasi dan biaya layanan. Pihak Amerika Serikat menegaskan bahwa perjanjian ini harus menjamin kebebasan pergerakan kapal tanpa penarikan retribusi ilegal, sedangkan pihak Iran dan Oman merencanakan skema biaya jasa keamanan serta perlindungan lingkungan maritim.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa diplomasi intensif terus berjalan sepanjang hari untuk menyelesaikan sengketa pelayaran tersebut. Kendati menyatakan optimisme bahwa proses negosiasi berjalan sangat baik, Trump tetap melontarkan peringatan keras bahwa peluang diplomatik ini merupakan kesempatan terakhir bagi Iran sebelum AS mengambil tindakan militer yang lebih tegas.
Selat Hormuz merupakan titik jepit (chokepoint) paling krusial bagi pasokan energi global, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi jalur ini sebelum perang pecah. Blokade dan serangan militer yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah memicu gangguan pasokan energi terbesar sejak krisis minyak tahun 1970-an.
Para analis komoditas dan lembaga keuangan internasional memperingatkan bahwa pemulihan penuh volume lalu lintas kapal tidak akan terjadi secara instan meskipun kesepakatan ditandatangani. Lembaga analisis seperti Goldman Sachs dan JPMorgan memperkirakan dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga tahun 2027 agar pengiriman minyak mentah dapat kembali ke tingkat normal sebelum konflik.
Meskipun kesepakatan pembukaan jalur di Selat Hormuz berpotensi meredakan krisis pasokan, dinamika keamanan di Timur Tengah dinilai masih sangat rapuh. Ancaman dari kelompok militer regional serta risiko kegagalan gencatan senjata permanen diperkirakan akan terus membayangi dan menjaga harga minyak mentah dalam kisaran yang relatif tinggi dalam jangka pendek.



KOMENTAR ANDA