post image
Presiden Iran Masoud Pezeshkian
KOMENTAR

Laporan mengenai maraknya aksi pencurian bahan pangan pokok seperti roti, keju, dan daging di berbagai supermarket di Iran memicu kekhawatiran mendalam mengenai kondisi krisis ekonomi negara tersebut. Situasi sosial yang kian memburuk ini dinilai para pengamat sebagai indikasi kuat bahwa perekonomian Iran sedang terdorong mendekati titik kehancuran total.

Sebuah investigasi yang dirilis oleh surat kabar lokal Iran, Jahan-e Sanat, mengungkapkan fenomena memprihatinkan di mana para pekerja toko swalayan kerap mendapati konsumen menyembunyikan barang dagangan bernilai murah atau mengonsumsi makanan kemasan langsung di dalam toko tanpa membayar. Fenomena ini mencerminkan tekanan hebat yang dialami masyarakat akibat lonjakan inflasi dan penurunan drastis daya beli.

Menanggapi situasi yang kian memanas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mengakui bahwa negaranya sedang menghadapi "berbagai kesulitan dan masalah." Namun, dalam pidato resminya yang disiarkan televisi nasional, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap berdiri kuat dan dihormati di panggung internasional.

Dalam pidatonya tersebut, Pezeshkian melempar tuduhan kepada pihak luar sebagai dalang utama di balik krisis domestik. Ia mengklaim bahwa musuh-musuh asing sengaja melancarkan tekanan ekonomi secara masif untuk memprovokasi rakyat Iran agar menggelar aksi protes dan memicu ketidakstabilan di dalam negeri.

Pakar ekonomi dan analis Senior dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), Miad Maleki, menilai bahwa pengakuan Pezeshkian dan laporan pencurian bahan pangan ini sejalan dengan data makroekonomi yang terverifikasi. Maleki menegaskan bahwa Iran saat ini telah berada dalam "zona kritis" akibat kegagalan sistemik dalam mengelola stabilitas harga.

Berdasarkan data Pusat Statistik Iran, tingkat inflasi tahunan untuk kategori bahan makanan dan minuman melonjak drastis hingga mencapai kisaran 112,5% hingga 113,8%. Kenaikan harga terparah terjadi pada komoditas utama seperti roti dan sereal yang melambung hingga 140%, diikuti oleh produk olahan susu, keju, dan telur yang naik lebih dari 116%.

Krisis ini semakin diperparah oleh merosotnya nilai tukar mata uang rial Iran secara ekstrem di pasar bebas. Kondisi keuangan masyarakat kian terpuruk setelah pemerintah mencabut subsidi nilai tukar untuk impor barang tertentu dan menggantinya dengan kredit tunai bulanan senilai sekitar $7, langkah yang justru memicu kenaikan harga barang yang lebih tinggi.

Tekanan terhadap perekonomian Tehran juga tidak lepas dari strategi "tekanan maksimum" yang dilancarkan Amerika Serikat, termasuk operasi blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade militer yang melibatkan puluhan kapal perang dan pesawat tempur AS tersebut diperkirakan menelan kerugian puluhan juta dolar bagi Iran setiap harinya.

Maleki memperingatkan bahwa ketahanan pangan yang memburuk berpotensi menjadi pemantik gelombang demonstrasi besar-besaran, menyerupai protes harga bahan bakar pada akhir 2019 lalu. Menurutnya, momen paling berbahaya bagi rezim Iran sepanjang sejarah selalu dipicu oleh faktor kejatuhan ekonomi, bukan masalah ideologi.

Kendati demikian, para ahli memperingatkan bahwa keputusasaan ekonomi masyarakat tidak serta-merta akan membawa perubahan politik secara instan. Pemerintah Iran yang didukung pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij diperkirakan akan tetap memilih tindakan represif untuk meredam kerusuhan daripada memberikan konsesi ekonomi yang signifikan.


Edy Mulyadi: Terlalu Lebay Narasi Nyawa Jenderal Listyo Hendak Dihabisi

Sebelumnya

Peluncuran Buku Sumitro, Mukit Hendrayatno Dorong Pengusaha Nasional Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional