Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
CETERIS paribus secara harfiah artinya "dengan asumsi hal lain tidak berubah" padahal pada kenyataan satu-satunya yang tidak pernah berubah di alam semesta justru adalah perubahan itu sendiri. Ironis. Justru dari rahim ironi itulah ilmu politik dilahirkan.
Bab 1: Yunani. Menipu Dengan Logika
400 SM, Athena. Sekelompok bapak-bapak yang tidak mau bekerja, duduk sambil minum anggur. Platon bersabda : "Ceteris paribus, negara ideal dipimpin filsuf-raja." Terjemahan: Asumsikan rakyat bodoh, ekonomi stabil, dan tidak ada kudeta. Maka teori saya sempurna.
Aristoteles mengoreksi: "Ceteris paribus, manusia adalah makhluk politik." Terjemahan: Asumsikan budak dan perempuan bukan manusia. Maka teori saya juga sempurna.
Jadi sejak awal, ilmu politik adalah seni membuat asumsi yang mustahil, lalu menyebutnya sebagai "ilmu".
Bab 2: Machiavelli. Melepas Topeng Asumsi
1513. Nicollo Machiavelli diPHK oleh penguasa, lalu menulis Il Principo . Isinya blak-blakan: "Ceteris paribus, penguasa boleh bohong, khianat, dan bunuh." Terjemahan: Asumsikan moral tidak ada, agama bisa dibeli, dan rakyat gampang lupa. Maka kau akan tetap berkuasa.
Ini jujur. Ilmu politik akhirnya mengaku: kami bukan mempelajari "yang benar". Kami mempelajari "yang berhasil berkuasa". Padahal jangan abai bahwa sebenarnya Machiavelli bicara Das Sein bukan Das Sollen!
Bab 3: Kampus Modern. Pabrik Asumsi Berbayar
Sekarang ilmu politik pakai jas dan SPSS. Ditemukan hukum: "Ceteris paribus, kalau ekonomi naik 2% maka petahana menang."
Padahal di dunia nyata tidak adaceteris paribus. Ada hoax, ada banjir, ada artis nyaleg. Tapi tidak apa-apa. Tugas ilmuwan politik bukan menjelaskan dunia. Tugasnya adalah membuat slide presentasi yang meyakinkan bahwa dunia seharusnya seperti di slide.
Ceteris paribus, lulusan ilmu politik hanya punya 3 jalan:
1. Jadi Politisi: Menggunakan teori untuk membenarkan tindakan.
2. Jadi Konsultan: Menjual teori kepada politisi.
3. Jadi Pengamat: Mengomentari dua-duanya sambil bilang "secara teoritis".
4. Jadi Lembaga Survey yang maju tak gentar membela yang bayar
Kesimpulan: Epitaf Untuk Sebuah Asumsi
Jadi apa asal muasal ilmu politik? Ia lahir dari keputusasaan manusia menghadapi fakta bahwa hanya ada satu kepastian yaitu segala sesuatu berubah. Satu-satunya yang tidak berubah adalah sang perubahan itu sendiri.
Karena dunia terlalu kacau-balau sambil morat-marit, maka kita bikin ilmu yang berpura-pura dunia diam. Karena kekuasaan terlalu cair, maka kita bikin teori yang berpura-pura ia padat.
Ceteris paribus adalah doa. Doa agar besok sama seperti hari ini. Padahal kita semua tahu: di alam semesta ini, satu-satunya yang konsisten hanyalah perubahan. Dan di tengah perubahan itulah para ahli politik berdiri, berteriak: "Tunggu! Jangan berubah dulu! Biarkan saya selesai menjelaskan!" . Sayang setriliun sayang , dunia tidak pernah mau menunggu.



KOMENTAR ANDA