Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan perjalanan ke luar negeri menggunakan pesawat Boeing 747-8 hibah dari Qatar pekan depan. Rencana penerbangan internasional ini tetap berjalan meskipun masih memicu perdebatan terkait belum terkonfirmasinya secara penuh pembaruan sistem pertahanan dan keamanan tingkat tinggi pada pesawat jumbo jet tersebut.
Kunjungan kerja ke luar negeri ini akan menjadi perjalanan internasional perdana bagi Trump menggunakan jet mewah seharga 400 juta dolar AS tersebut pascainsiden diplomatik dan keamanan di Turki. Berdasarkan jadwal, Trump akan bertolak menuju Irlandia pada tanggal 12 hingga 13 September guna menghadiri turnamen golf Irish Open di resor miliknya di Doonbeg, serta menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat di Dublin.
Sorotan tajam terhadap kesiapan operasional pesawat kembali mencuat setelah terjadinya insiden keamanan di Ankara pada Juli lalu. Saat itu, adanya indikasi ancaman pembunuhan dari pihak Iran membuat pihak keamanan secara diam-diam memindahkan Trump dari Boeing 747-8 ke armada cadangan C-32A Angkatan Udara AS menggunakan truk katering bandara, sementara rombongan penumpang lainnya tetap berada di dalam pesawat utama.
Tindakan taktis tersebut menuai tanda tanya di kalangan pengamat militer dan intelijen mengenai keandalan sistem pertahanan pesawat hibah tersebut. Prosedur penukaran pesawat ini memunculkan kekhawatiran mengapa penerbangan tidak dibatalkan sepenuhnya atau mengapa pesawat 747-8 bersama delegasi di dalamnya seolah dibiarkan menjadi umpan sementara Presiden berpindah armada.
Menyusul insiden di kawasan Timur Tengah tersebut, pesawat Boeing 747-8 sempat ditarik dari tugas operasional luar negeri guna menjalani perombakan dan peningkatan fitur keamanan tambahan. Trump sendiri sempat menyampaikan kepada media bahwa pesawat tersebut akan ditingkatkan hingga mencapai batas maksimal kapasitasnya (maxed out) agar dapat beroperasi secara aman di wilayah udara mana pun di dunia.
Kendati telah melalui modifikasi, para pakar keamanan penerbangan masih mempertanyakan apakah jet eks keluarga kerajaan Qatar itu memiliki kemampuan sistem penangkal serangan canggih yang setara dengan armada kepresidenan resmi sebelumnya. Ketika pertama kali dioperasikan, pesawat transisi ini dilaporkan belum dilengkapi sejumlah perangkat penangkal serangan rudal serta sistem pelindung dari pulsa elektromagnetik.
Pihak Angkatan Udara AS secara konsisten menolak membeberkan secara spesifik rincian pembaruan teknis pada armada kepresidenan demi menjaga kerahasiaan operasional militer. Militer AS hanya menegaskan bahwa postur keselamatan dan keandalan misi pengawalan Presiden tetap menjadi prioritas utama tanpa adanya toleransi terhadap risiko keamanan penerbangan.
Gedung Putih pun turut membela kelayakan terbang armada tersebut di tengah keraguan publik dan parlemen. Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menegaskan bahwa pesawat ini berteknologi mutakhir dan telah dipasangi protokol keamanan berlapis, seraya menambahkan bahwa pihak pengamanan siap memanfaatkan segala metode taktis, termasuk pengalihan rute dan misarah, guna menghadapi setiap potensi ancaman.
Pesawat Boeing 747-8 yang dikenal sebagai pesawat jembatan transisi VC-25B ini sengaja disiapkan sebagai solusi sementara akibat keterlambatan panjang proyek dua jet kepresidenan baru buatan pabrikan Boeing. Program pengadaan jet resmi dari Boeing tersebut mengalami lonjakan anggaran hingga miliaran dolar dan diperkirakan baru siap diserahterimakan pada rentang tahun 2027 hingga 2028.
Setelah masa tugas resminya berakhir dan unit pengganti baru dari Boeing beroperasi penuh, jet mewah eks Qatar ini direncanakan akan dipindahkan untuk melengkapi kompleks Perpustakaan Kepresidenan Trump. Departemen Kehakiman bersama penasihat hukum Gedung Putih dilaporkan telah menerbitkan kajian hukum yang menyetujui pemindahan status aset pesawat hibah negara asing tersebut ke tangan Trump.



KOMENTAR ANDA