Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menuai kontroversi setelah memberikan tanggapan santai berupa ucapan "sometimes things happen" (terkadang hal-hal seperti itu terjadi) saat ditanya mengenai dugaan keterlibatan militer AS dalam serangan udara mematikan di sebuah pesta pernikahan di wilayah selatan Iran. I
nsiden tragis tersebut dilaporkan telah menewaskan empat orang, termasuk seorang anak-anak.
Serangan rudal tersebut menghantam kawasan Kuhestak, sebuah kota di Kabupaten Sirik yang terletak tepat di tepi Selat Hormuz. Informasi mengenai korban jiwa ini dilaporkan langsung oleh Bulan Sabit Merah Iran, sebuah entitas kemanusiaan independen di bawah naungan Federasi Palang Merah Internasional yang selama ini dianggap kredibel oleh pengawas internasional independen, bukan oleh media resmi pemerintah Iran semata.
Dalam konferensi pers resmi di Gedung Putih pada Kamis, 3 September 2026, Vance menyatakan sikap skeptis yang mendalam terhadap laporan jatuhnya korban tersebut. Ia beralasan bahwa media pemerintah Iran selama ini tidak memiliki catatan yang baik dalam melaporkan fakta-fakta terkait dinamika konflik yang sedang berlangsung.
Meski demikian, Vance sama sekali tidak menyinggung bahwa data korban jiwa tersebut telah diverifikasi dan dikonfirmasi oleh badan kemanusiaan internasional yang diakui secara global. Ia justru berkeras dan menegaskan dengan keyakinan penuh bahwa militer AS memiliki kode etik ketat yang tidak pernah sengaja membidik warga sipil dalam pertempuran, sangat berbeda dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Vance menambahkan bahwa pihaknya belum memegang rincian lengkap mengenai serangan spesifik di Kuhestak tersebut, namun pihak militer AS sedang melakukan investigasi mendalam. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa eskalasi bersenjata antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama tujuh bulan dan merenggut nyawa 18 personel militer AS ini pada dasarnya belum dapat dikategorikan sebagai "sebuah perang".
Pernyataan Vance sontak memicu kecaman keras dari politisi Partai Demokrat dan kritikus militer di Washington. Anggota Kongres AS dari California, Ro Khanna, menyebut pernyataan Vance sebagai bentuk penyesatan opini publik yang luar biasa (gaslighting), sembari menegaskan bahwa situasi di lapangan sudah jelas merupakan perang nyata yang bahkan telah diklaim kemenangannya oleh mantan presiden Donald Trump.
Di sisi lain, Komando Pasukan Pusat AS (Centcom) mengakui telah meluncurkan paket serangan terpadu pada Selasa malam yang menyasar situs pertahanan udara, instalasi radar, armada maritim, serta fasilitas komunikasi milik Iran. Kendati demikian, pihak militer AS tidak mengonfirmasi apakah lokasi pemukiman pesta pernikahan tersebut termasuk salah satu target tembak atau tidak.
Menurut laporan Bulan Sabit Merah, serpihan peluru kendali menghantam rumah tinggal tempat pesta pernikahan berlangsung, yang menyebabkan empat korban tewas seketika serta melukai lebih dari 50 orang lainnya. Otoritas setempat dan sejumlah pengamat pemantau independen mencatat bahwa rangkaian serangan gabungan telah menimbulkan ribuan korban jiwa di pihak Iran sepanjang berbulan-bulan konflik.
Insiden berdarah di Kuhestak ini kembali membuka luka lama dan menghidupkan sorotan publik terhadap serangan AS pada 28 Februari 2026 lalu di Minab, yang berjarak sekitar 23 mil dari lokasi saat ini. Serangan tersebut menghantam kompleks sekolah dan menewaskan sedikitnya 156 orang, yang mayoritas merupakan anak-anak sekolah akibat kesalahan koordinat intelijen yang sudah kedaluwarsa.
Rangkaian serangan udara ini kian mengikis harapan terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah di tengah pembicaraan diplomatik yang kerap mandek. Tragedi terbaru di pesta pernikahan ini kian mempertegas tingginya risiko jatuhnya korban dari kalangan warga sipil tak berdosa seiring meningkatnya saling balas serangan antar-kedua negara.



KOMENTAR ANDA