post image
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Oval Office, Gedung Putih, 28 Juli 2026./ Axios
KOMENTAR

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan tertutup dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Oval Office, Gedung Putih, pada Selasa, 28 Juli 2026.

Pertemuan yang menjadi tatap muka kedelapan bagi kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat ini berlangsung di tengah dinamika perang Iran yang kian merenggangkan hubungan diplomatik kedua negara.

Berdasarkan laporan Axios, Netanyahu hadir dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut dalam posisi politik yang dinilai “lebih lemah dan kurang berpengaruh” dibandingkan masa-masa awal konflik. Setelah lima bulan eskalasi di Timur Tengah, kepentingan strategis antara Washington dan Tel Aviv dinilai makin bertolak belakang, diiringi oleh meningkatnya rasa saling curiga di antara kedua belah pihak.

Perbedaan mendasar ini tecermin dari keputusan Trump untuk menunda serangan militer AS ke wilayah Iran dan beralih membuka kembali opsi negosiasi dengan Teheran. Pihak militer Israel yang sebelumnya bersiap atas kemungkinan eskalasi serangan AS justru baru mengetahui keputusan pembatalan operasi militer tersebut pada menit-menit terakhir.

Laporan Axios menyebutkan bahwa intensitas komunikasi langsung antara kedua pemimpin telah menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir. Netanyahu dikabarkan sempat kesulitan mengamankan jadwal pertemuan di Gedung Putih dan kian mengandalkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk membaca arah kebijakan serta dinamika pemikiran Trump.

Ketegangan antar kedua pihak sempat mencuat ke publik setelah Trump mengkritik cara Netanyahu menyoroti situs nuklir Iran, seperti fasilitas di Pickaxe Mountain. Trump menilai manuver tersebut sebagai taktik untuk menarik Amerika Serikat lebih jauh ke dalam konflik bersenjata, seraya menegaskan bahwa ia tidak membutuhkan petunjuk dari pemimpin Israel dalam menentukan kebijakan luar negeri AS.

Juru bicara dan Direktur Komunikasi Netanyahu, Tzipi Hotovely, membantah anggapan bahwa Tel Aviv berupaya mendikte kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Pihaknya menegaskan bahwa diskusi di Oval Office merupakan wujud kemitraan strategis dengan fokus utama memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Di internal Gedung Putih, sikap terhadap kepemimpinan Netanyahu dilaporkan kian kritis. Sejumlah pejabat senior di lingkaran dalam Trump serta pendukung gerakan MAGA merasa janji dan estimasi yang disampaikan Netanyahu terkait perkembangan perang Iran tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Pertemuan tertutup yang berlangsung selama 90 menit di West Wing tersebut turut dihadiri oleh jajaran petinggi pemerintahan AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Menteri Keuangan Scott Bessent. Sementara dari pihak Israel, Netanyahu didampingi oleh Duta Besar Yechiel Leiter dan jajaran pejabat senior lainnya.

Pasca-pertemuan, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa diskusi berjalan positif dan produktif. Netanyahu sendiri menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai salah satu pertemuan terbaik yang pernah ia jalani bersama presiden AS, dengan menekankan kesamaan pandangan dalam menghadapi ancaman nuklir Teheran.

Kedatangan Netanyahu ke Washington kali ini juga bertepatan dengan menghadiri acara penghormatan bagi mendiang Senator Lindsey Graham, salah satu pendukung utama Israel di Kongres AS. Meskipun Trump menyebut perbedaan pendekatan antara dirinya dan Netanyahu hanya sebatas “perbedaan kecil,” pertemuan di Oval Office ini mempertegas adanya pergeseran cara pandang kedua sekutu dalam menangani krisis geopolitik di kawasan tersebut.

 


CENTCOM Konfirmasi Serangan Balistik Iran, Situasi Sangat Rapuh

Sebelumnya

Kepergian Lindsey Graham, Pukulan Telak bagi Zelensky dan Netanyahu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia