Politikus senior PDI Perjuangan sekaligus mantan Wali Kota Surakarta, F.X. Hadi Rudyatmo, baru-baru ini tampil dalam bincang-bincang eksklusif dalam program Akbar Faizal Uncensored (AFU) untuk membedah perjalanan panjang karier politiknya. Dalam kesempatan tersebut, tokoh yang akrab disapa Pak Rudi ini menceritakan banyak hal mulai dari sejarah perjuangannya di Solo hingga dinamika politik yang melibatkan lingkaran kekuasaan nasional.
Sebagai salah satu kader yang dikenal memiliki loyalitas tinggi, Rudi menegaskan bahwa ikatan emosional dan ideologisnya dengan Megawati Soekarnoputri telah terjalin sejak dekade 1980-an. Ia memegang teguh prinsip-prinsip keteladanan yang ditunjukkan oleh sang ketua umum, yang menurutnya menjadi landasan moral dalam menjalankan setiap penugasan partai demi kepentingan rakyat banyak.
Dalam perbincangan tersebut, Rudi juga mengenang berbagai momen loyalitas tanpa pamrih yang pernah ia tunjukkan secara langsung kepada Megawati. Salah satu kisah yang paling ikonik adalah ketika ia rela menahan kursi yang diduduki Megawati dengan kakinya sendiri selama berjam-jam agar tidak patah dan jatuh dalam sebuah acara penting di masa lalu.
Selain kisah kesetiaannya, Rudi turut meluruskan sejumlah narasi dan mitos politik yang sempat beredar di tengah publik seputar masa lalu kepemimpinan di Solo. Ia secara terbuka mengklarifikasi ihwal klaim pertemuan puluhan kali dengan para pedagang kaki lima, serta meluruskan cerita mengenai peristiwa penggusuran tempat tinggal yang sebenarnya dialami oleh dirinya sendiri, bukan oleh Joko Widodo.
Rudi juga mengenang babak ketika Jokowi masih memimpin Kota Solo sebelum akhirnya memutuskan melangkah ke panggung politik ibu kota. Rudi menceritakan bagaimana pemerintahannya saat itu harus menghadapi berbagai tantangan manajerial, termasuk mengamankan pasokan listrik daerah melalui pelunasan kewajiban anggaran yang mendesak.
Isu mengenai kendaraan buatan SMK yang sempat melambung sebagai simbol kemandirian teknologi turut diulas secara transparan oleh Rudi. Ia menjelaskan bahwa mobil tersebut pada mulanya merupakan sarana praktikum pendidikan kejuruan yang kemudian disesuaikan untuk keperluan operasional dinas pemerintahan daerah sebelum diangkat ke ranah narasi publik yang lebih luas.
Seiring dengan berjalannya waktu dan pergeseran konstelasi politik nasional, hubungan antara Rudi dan Jokowi mulai mengalami keretakan. Ia tidak menepis adanya rasa kecewa akibat sejumlah perbedaan prinsip serta komitmen politik yang dinilai tidak sejalan dengan apa yang pernah disepakati pada masa-masa awal perjuangan bersama.
Kendati dihadapkan pada dinamika kekecewaan yang mendalam, Rudi tetap menegaskan sikap politiknya yang tegak lurus terhadap garis instruksi partai. Bagi dirinya, loyalitas kepada organisasi dan ketua umum adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, terlepas dari berbagai manuver politik maupun perubahan arah dukungan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh lain.
Menghadapi masa depan konstelasi politik di Kota Solo yang kerap dijadikan tolok ukur kekuatan berbagai kubu, Rudi menyatakan kesiapannya untuk terus berjuang menjaga basis suara partainya. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran politik masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh praktik-praktik transaksional demi menjaga masa depan daerah dalam jangka panjang.
Wawancara mendalam ini ditutup dengan refleksi filosofis mengenai perjalanan hidup dan profesi lamanya sebagai seorang tukang las. Bagi Rudi, filosofi menyatukan dua benda keras menjadi satu karya yang indah adalah cerminan dari semangat perjuangannya untuk terus merajut persatuan di tengah kerasnya dunia politik demi kebaikan bangsa.



KOMENTAR ANDA