Ada amanah yang harus dibawa pulang.
Jika para pemuda pada 1946 sanggup mempertaruhkan nyawa untuk sebuah negara yang bahkan masa depannya belum pasti, kita yang hidup dalam negara yang telah berdiri lebih dari delapan dekade seharusnya mampu mempertaruhkan kenyamanan untuk menjaga integritas.
Tidak mengambil yang bukan hak kita adalah nasionalisme.
Melayani masyarakat tanpa mempersulit adalah nasionalisme.
Menolak suap adalah nasionalisme.
Menjaga perbatasan dan kedaulatan hukum Indonesia adalah nasionalisme.
Memastikan kebijakan negara benar-benar dirasakan rakyat juga nasionalisme.
Kita sering membayangkan pahlawan sebagai manusia luar biasa yang hidup pada masa lampau. Padahal mungkin pesan terpenting dari sebuah makam pahlawan justru sebaliknya: mereka adalah manusia-manusia biasa yang ketika sejarah memanggil memilih melakukan sesuatu yang luar biasa.
Karena itu, penghormatan terbaik kepada Daan Mogot dan para taruna Lengkong bukan hanya tabur bunga.
Penghormatan terbaik adalah membangun negara yang pantas diperjuangkan oleh mereka.
Indonesia yang pemerintahannya bersih. Hukumnya berwibawa. Perbatasannya terjaga. Pelayanannya manusiawi. Aparaturnya bekerja bukan karena ingin dipuji, tetapi karena memahami bahwa jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu harus dipertanggungjawabkan.
Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi, medan perjuangan memang telah berubah. Tidak ada lagi suara tembakan seperti yang pecah di Lengkong pada Januari 1946. Tetapi Republik tetap membutuhkan keberanian.
Keberanian mengatakan yang benar ketika lebih mudah diam. Keberanian memperbaiki institusi ketika lebih nyaman mempertahankan kebiasaan lama. Keberanian menjaga kepentingan negara ketika kepentingan pribadi menawarkan jalan yang lebih menguntungkan.
Di depan pusara para taruna itu, kemerdekaan terasa mempunyai harga.
Mereka telah membayarnya.
Dengan darah, usia muda, dan masa depan yang tidak pernah sempat mereka jalani.
Kita tidak diminta membayar dengan cara yang sama.
Kita hanya diminta menjaga republik ini dengan sebaik-baiknya.
Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari Lengkong kita belajar: kemerdekaan diwariskan, tetapi tanggung jawab untuk menjaganya selalu berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.



KOMENTAR ANDA