post image
Foto: Kementerian Pertahanan RI
KOMENTAR

Indonesia resmi menorehkan tonggak sejarah baru dalam penguatan kemandirian industri pertahanan dan kedirgantaraan nasional. Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa Indonesia kini mampu melakukan modernisasi pesawat angkut militer C-130 Hercules secara mandiri di dalam negeri tanpa ketergantungan asistensi langsung dari pihak luar.

Keberhasilan ini ditandai dengan rampungnya pembaruan menyeluruh atas pesawat C-130 bernomor ekor A-1319 oleh PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk yang resmi diserahkan kepada Kementerian Pertahanan di Hangar 4 GMF, Tangerang, Banten, Rabu, 19 Agustus 2026. 

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi kado istimewa dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menyebut momentum ini sebagai garis awal bahwa pertahanan udara Indonesia telah mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari). Jika selama ini proses pemeliharaan berat dan modernisasi armada C-130 Hercules selalu bergantung pada asistensi pabrikan asalnya, Lockheed Martin asal Amerika Serikat, kini teknisi dan putra-putri terbaik bangsa telah membuktikan kapasitas teknologinya secara mandiri.

Pesawat C-130 Hercules sendiri memiliki ikatan sejarah yang sangat panjang dan legendaris dengan Indonesia. Sejak era Presiden Soekarno pada awal dekade 1960-an, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan pesawat angkut bermesin empat turboprop buatan Lockheed ini. Armada C-130B pertama kali didatangkan untuk memperkuat AURI (kini TNI AU) dalam rangka operasi pembebasan Irian Barat (Operasi Trikora), menjadikannya tulang punggung utama mobilitas udara militer Indonesia selama lebih dari enam dekade.

Karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menjadikan peran C-130 Hercules sangat vital dan tak tergantikan. Dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pacu pendek maupun darurat yang belum beraspal, pesawat tangguh ini menjadi andalan dalam berbagai operasi militer perang (OMP) hingga operasi militer selain perang (OMSP). Hercules tercatat selalu berada di garda terdepan saat misi penanggulangan bencana alam, seperti evakuasi dan penyaluran logistik bencana tsunami Aceh 2004, gempa Palu, hingga berbagai operasi kemanusiaan internasional.

Dalam proses penyerahan resmi tersebut, Direktur Utama GMF AeroAsia Andi Fahrurrozi menyerahkan pesawat A-1319 secara simbolis kepada Menhan Sjafrie, yang kemudian langsung meneruskannya kepada Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono. Pesawat angkut berat ini menjadi armada pertama yang sukses menjalani paket modifikasi skala besar (major modification) secara penuh di fasilitas hanggar GMF.

Modifikasi komprehensif yang dikerjakan teknisi GMF mencakup penggantian komponen vital center wing box (CWB), pembaruan sistem avionik modern berbasis digital (glass cockpit), serta inspeksi struktural mendalam guna memastikan kelaikudaraan dan keandalan operasional. Andi Fahrurrozi menjelaskan bahwa peningkatan teknologi dan peremajaan struktur ini berhasil memperpanjang usia pakai (service life) pesawat Hercules tersebut hingga 15 sampai 20 tahun ke depan.

Pesawat bernomor ekor A-1319 ini tercatat sebagai unit C-130 Hercules kedua yang berhasil dituntaskan oleh GMF AeroAsia, menyusul keberhasilan sebelumnya dalam pengerjaan penggantian center wing box pada unit bernomor ekor A-1315. Keberhasilan beruntun ini kian memantapkan posisi GMF AeroAsia tidak hanya sebagai fasilitas MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) komersial bertaraf global, tetapi juga sebagai pilar strategis pemeliharaan alutsista nasional.

Menhan Sjafrie menegaskan, langkah kemandirian kedirgantaraan ini tidak akan berhenti pada armada C-130 Hercules semata. Pemerintah berkomitmen penuh mendorong seluruh pemeliharaan dan perawatan pesawat transportasi serta armada udara TNI lainnya agar dikerjakan di dalam negeri dengan memanfaatkan keahlian tenaga teknis lokal. Sinergi industri pertahanan nasional akan terus diperluas dengan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis lainnya, termasuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pengembangan ekosistem kedirgantaraan tersebut akan meluncurkan capaian baru pada tahun mendatang melalui peran aktif PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Sjafrie mengungkapkan bahwa hasil modernisasi alutsista udara yang digarap oleh PTDI dijadwalkan meluncur pada 2027. Kolaborasi antara GMF AeroAsia, PTDI, dan TNI AU dirancang untuk menciptakan rantai pasok dan kemampuan pemeliharaan alutsista mandiri yang berkelanjutan, memangkas devisa negara, sekaligus mempercepat kesiapan tempur TNI.

Guna mendukung peningkatan armada TNI AU di masa depan, Kementerian Pertahanan juga berencana mengoptimalkan aset negara di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka. Kawasan Kertajati disiapkan sebagai pangkalan penyimpanan armada (aircraft staging base) sekaligus fasilitas pemeliharaan terpadu untuk pesawat angkut maupun pesawat tempur TNI. Langkah strategis jangka panjang ini diharapkan semakin mengukuhkan kedaulatan wilayah udara dan kemandirian pertahanan Indonesia di kancah global.


Sjafrie dan Dong Jun Sepakat Perkuat Kerja Sama Pertahanan

Sebelumnya

Penerbangan Pesawat C-17 US Air Force Dibatalkan Akibat Peringatan Peluncuran Rudal Rusia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer