post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Biro Keselamatan Transportasi Australia (Australian Transport Safety Bureau atau ATSB) kembali meluncurkan penyelidikan atas insiden nyaris bertabrakan (near-miss) di Bandara Kingsford Smith Sydney (SYD).

Peristiwa yang melibatkan dua pesawat milik maskapai Qantas di landasan hubung (taxiway) tersebut menandai insiden berisiko keempat yang terjadi di bandara tersibuk di Australia itu hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

Insiden terbaru terjadi pada Jumat, 21 Agustus 2026, ketika sebuah Airbus A321 milik Qantas yang bersiap lepas landas menuju Gold Coast (OOL) diberikan izin melaju (clearance) menuju landasan pacu. Pada saat bersamaan, pesawat Boeing 737 Qantas yang baru mendarat dari Melbourne (MEL) juga diarahkan oleh petugas pemandu lalu lintas udara (air traffic controller/ATC) menuju titik persimpangan taxiway yang sama.

Meskipun kedua pesawat meluncur menuju jalur yang saling berpotongan, ATSB mengonfirmasi bahwa tidak ada risiko tabrakan langsung yang berakibat fatal dan tidak ada laporan kerusakan maupun korban cedera. Namun, otoritas keselamatan penerbangan tetap menganggap serius kejadian ini dan melakukan investigasi mendalam untuk mencari faktor pemicu yang mendasarinya.

Proses penyelidikan awal diperkirakan memakan waktu hingga delapan pekan ke depan. Selama investigasi berlangsung, penyelidik ATSB akan mengumpulkan rekaman data penerbangan serta melakukan wawancara menyeluruh terhadap petugas menara pengawas dan awak kokpit kedua pesawat yang terlibat.

Pihak maskapai Qantas menegaskan bahwa kru mereka beroperasi sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh menara kontrol. Dalam sebuah pernyataan resmi, juru bicara Qantas menyampaikan bahwa pesawatnya bergerak setelah mendapatkan izin resmi dari pemandu lalu lintas udara dan maskapai berkomitmen untuk bersikap kooperatif penuh dalam penyelidikan bersama ATSB.

Rangkaian insiden keselamatan di Bandara Sydney bermula pada 27 Juli lalu, ketika sebuah Boeing 737 Qantas diizinkan melintasi landasan pacu saat pesawat turboprop QantasLink sedang berada dalam fase pendaratan di landasan yang sama. Beruntung, pilot Boeing 737 dapat segera melakukan pengereman mendadak tepat setelah melewati garis batas aman (safety hold point).

Kejadian menegangkan berlanjut pada awal Agustus ketika pesawat Airbus A320 Jetstar terpaksa mengerem mendadak guna menghindari pesawat Boeing 777-300ER Qatar Airways yang sedang ditarik (towed). Manuver darurat tersebut menyebabkan seorang awak kabin Jetstar mengalami cedera hingga harus mendapatkan perawatan medis, serta mengakibatkan penerbangan dibatalkan.

Pada hari yang sama dengan insiden Jetstar, pesawat Boeing 737 milik Virgin Australia (VA555) tujuan Perth yang telah mendapat izin lepas landas terpaksa membatalkan lajunya. Hal ini terjadi setelah pilot melihat pesawat Qantas lain melintas di area landasan pacu sekitar satu kilometer di depan mereka, sehingga penerbangan harus tertahan hingga jalur benar-benar steril.

Rentetan insiden beruntun ini menyoroti beban kerja ekstrem dan kelelahan staf yang dihadapi oleh para pemandu lalu lintas udara di Bandara Sydney. Lebih dari 50 staf pengatur lalu lintas udara sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran terkait kurangnya waktu pelatihan dan adaptasi terhadap regulasi ruang udara baru yang sangat rumit dan mendetail sejak diberlakukan pada bulan Juli.

Perubahan drastis prosedur ruang udara Sydney Basin ini merupakan bagian dari integrasi pengoperasian bandara baru, Western Sydney International Airport (WSI), yang membagi wilayah tersebut ke dalam empat zona kendali terpisah. Beban operasional yang melonjak dan kebingungan navigasi di darat kini menjadi sorotan utama regulator demi memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga di langit Australia.


Boeing Perbaiki Ratusan Retakan Mikrokospis pada Air Force One

Sebelumnya

Maskapai Digugat Karena Wajibkan Penumpang Bayar Rp 13 Juta untuk Kursi Bayi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews