post image
Hamid Karzai ketika masih menjabat sebagai Presiden Afghanistan.
KOMENTAR

Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai kembali bersuara mengenai masa depan negaranya. Dalam wawancara mendalam di program The Mishal Husain Show bersama jurnalis Mishal Husain dari Bloomberg, Karzai merefleksikan perjalanan panjang Afghanistan serta realitas keras yang dihadapinya saat ini di bawah kekuasaan Taliban.

Karzai, yang memimpin Afghanistan dari era transisi pasca-2001 hingga tahun 2014, pernah menjadi simbol utama upaya pembangunan kembali negara yang luluh lantak akibat perang puluhan tahun. Di bawah kepemimpinannya, institusi pemerintahan dibangun kembali dengan dukungan komunitas internasional, meski jalannya dipenuhi dinamika politik yang rumit serta ancaman konflik berkepanjangan.

Ketika pasukan koalisi pimpinan AS menarik diri secara mendadak pada Agustus 2021 dan Taliban kembali menguasai Kabul, banyak tokoh politik dan pejabat tinggi memilih melarikan diri ke luar negeri. Namun, Karzai mengambil keputusan berbeda dengan tetap bertahan di tanah airnya, memilih untuk menghadapi ketidakpastian bersama rakyat Afghanistan daripada hidup dalam pengasingan.

Kini, kehidupan Karzai berlangsung di bawah pembatasan ketat yang menyerupai tahanan rumah virtual di Kabul. Ia jarang memberikan wawancara publik maupun bepergian secara bebas, menjadikan setiap pernyataannya sebagai jendela langka mengenai kondisi politik internal dan dinamika kehidupan di ibu kota Afghanistan saat ini.

Salah satu isu paling menyentuh yang diungkapkan Karzai dalam wawancara adalah nasib pendidikan anak-anak perempuan di Afghanistan. Di bawah kebijakan Taliban, anak perempuan di atas usia 12 tahun dilarang melanjutkan pendidikan formal di sekolah menengah dan universitas, sebuah aturan yang secara langsung berdampak pada putri sulungnya sendiri.

Meskipun memiliki peluang dan jaringan untuk menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, Karzai secara tegas menolak opsi tersebut. Ia memilih agar putrinya tetap tinggal di Afghanistan sebagai bentuk solidaritas moral terhadap jutaan anak perempuan Afghanistan lainnya yang kehilangan hak atas pendidikan dan tidak memiliki pilihan untuk pergi ke luar negeri.

Selain menyoroti krisis hak asasi dan pendidikan, Karzai juga menyinggung hubungan geopolitik yang rumit antara Afghanistan dan negara tetangganya, khususnya Pakistan. Ketegangan perbatasan dan dinamika keamanan kawasan tetap menjadi tantangan besar yang memperumit stabilitas internal dan proses rekonsiliasi politik.

Karzai menekankan bahwa masa depan Afghanistan tidak dapat dibangun di atas isolasi dan pengucilan kelompok tertentu, melainkan melalui dialog nasional yang inklusif. Menurutnya, sebuah konsensus nasional di antara seluruh elemen masyarakat Afghanistan merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai perdamaian jangka panjang yang berkelanjutan.

Ia juga terus mendesak otoritas Taliban untuk membuka kembali akses pendidikan bagi perempuan serta memulihkan hak-hak dasar warganya. Karzai berpendapat bahwa kemajuan dan pengakuan internasional terhadap Afghanistan mustahil terwujud tanpa partisipasi penuh perempuan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Meski menghadapi pembatasan ruang gerak dan situasi negara yang penuh ketidakpastian, Karzai menegaskan bahwa ia tetap memiliki harapan terhadap masa depan Afghanistan. Ia percaya ketangguhan rakyat Afghanistan akan mampu membawa negara tersebut melewati masa-masa sulit menuju tatanan yang lebih adil dan damai.

Jejak Afghanistan 

Perjalanan Afghanistan dari awal abad ke-20 hingga saat ini merupakan rangkaian panjang modernisasi, perebutan pengaruh kekuatan global, serta pergolakan politik dan konflik bersenjata:

Era Kerajaan dan Kemerdekaan (1900–1933)
Pada awal abad ke-20, Afghanistan berada di bawah kekuasaan Amir Habibullah Khan (1901–1919) yang berupaya menjaga netralitas negara dalam Perang Dunia I. Setelah pembunuhannya, putranya, Amanullah Khan, memimpin Afghanistan memenangkan Perang Anglo-Afghan Ketiga pada tahun 1919 dan mendeklarasikan kemerdekaan penuh dari kendali protektorat Inggris. Amanullah memulai program modernisasi dan reformasi sosial yang pesat, namun reformasi tersebut memicu penolakan kaum konservatif hingga ia digulingkan pada 1929. Tak lama setelahnya, Nadir Shah naik takhta dan menstabilkan monarki sebelum tewas dibunuh pada 1933.

Masa Stabilitas Monarki Zahir Shah (1933–1973)
Raja Mohammad Zahir Shah memimpin Afghanistan selama empat dekade yang relatif damai dan stabil. Pada dekade 1950-an dan 1960-an, di bawah Perdana Menteri Mohammed Daoud Khan, Afghanistan melakukan modernisasi infrastruktur, membuka akses pendidikan bagi perempuan, serta mengadopsi Konstitusi 1964 yang memperkenalkan monarki parlementer dan kebebasan pers.

Kudeta Republik dan Naiknya Rezim Komunis (1973–1979)
Pada tahun 1973, Mohammed Daoud Khan menggulingkan sepupunya, Raja Zahir Shah, melalui kudeta tak berdarah dan mendirikan Republik Afghanistan. Lima tahun kemudian, pada April 1978 (Revolusi Saur), Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (PDPA) yang berhaluan Marxis-Leninis membunuh Daoud Khan dan merebut kekuasaan. Kebijakan reformasi radikal serta represi politik rezim komunis memicu pemberontakan bersenjata massal di kalangan masyarakat pedesaan.

Invasi Uni Soviet dan Perang Mujahidin (1979–1989)
Demi menopang rezim komunis di Kabul yang terdesak, Uni Soviet melancarkan invasi militer ke Afghanistan pada Desember 1979. Perang gerilya berkecamuk selama satu dekade, di mana kelompok perlawanan Mujahidin mendapat dukungan dana dan senjata dari Amerika Serikat, Pakistan, Arab Saudi, dan negara-negara lain. Soviet akhirnya menarik pasukannya sepenuhnya pada Februari 1989 dengan menelan kerugian besar.

Perang Saudara dan Kebangkitan Taliban Pertama (1989–2001)
Setelah penarikan pasukan Soviet dan runtuhnya pemerintahan komunis pimpinan Najibullah pada 1992, faksi-faksi Mujahidin terpecah dan saling berebut kekuasaan dalam perang saudara yang menghancurkan Kabul.

Di tengah kekacauan tersebut, gerakan Taliban muncul di Kandahar pada 1994, menjanjikan ketertiban hukum berbasis syariat Islam secara ketat. Pada 1996, Taliban menguasai Kabul dan memproklamasikan Keamiran Islam Afghanistan, memberlakukan pembatasan ekstrem terhadap hak-hak perempuan serta melindungi kelompok militan seperti Al-Qaeda.

Invasi Pimpinan AS dan Era Republik Islam (2001–2021)
Menyusul serangan teror 11 September 2001, koalisi militer pimpinan AS menggulingkan rezim Taliban yang menolak menyerahkan Osama bin Laden. Konferensi Bonn membentuk pemerintahan transisi yang dipimpin Hamid Karzai, disusul pembentukan Republik Islam Afghanistan dan pengesahan konstitusi baru pada 2004.

Karzai memimpin negara ini hingga 2014, sebelum digantikan oleh Ashraf Ghani. Selama dua dekade, kendati terjadi kemajuan di bidang pendidikan, kebebasan pers, dan partisipasi publik perempuan, pemerintah terus dilanda korupsi sistemik serta serangan pemberontakan gerilya Taliban yang tak kunjung padam.

Kembalinya Taliban ke Kekuasaan (2021–Sekarang)
Menyusul penarikan penuh pasukan militer AS dan NATO, Taliban melancarkan serangan kilat ke seluruh penjuru negeri dan merebut kembali Kabul pada 15 Agustus 2021, sementara Presiden Ashraf Ghani melarikan diri.

Taliban kembali mendirikan Keamiran Islam Afghanistan dan memberlakukan pembatasan ketat terhadap hak-hak warga sipil, termasuk melarang pendidikan formal di atas sekolah dasar serta pekerjaan bagi perempuan di sebagian besar sektor.

Hingga hari ini, Afghanistan menghadapi isolasi diplomatik global, krisis ekonomi dan kemanusiaan yang berat, serta ketidakpastian masa depan di tengah aspirasi warganya yang merindukan stabilitas dan pemenuhan hak-hak asasi.


Ratusan ABK Indonesia Gelar Demonstrasi di Taiwan

Sebelumnya

Jubir Kemlu Tiongkok: Prabowo Janji Iklim Investasi Sehat untuk Investor Tiongkok

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Dunia