Oleh: Dr. Teguh Santosa, Dosen Hubungan Internasional, UIN Jakarta
KARYA jurnalistik yang melampaui zamannya sering kali tidak sekadar merekam peristiwa, melainkan membedah arus bawah sejarah yang kelak membentuk wajah dunia.
Buku “People on Our Side” karya jurnalis terkemuka Amerika Serikat, Edgar Snow, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1944 oleh The World Publishing Company, adalah salah satu monumen literatur geopolitik perang yang paling berani dan komprehensif.
Melalui catatan perjalanannya di front Timur selama Perang Dunia II, Snow menghadirkan rekaman faktual sekaligus analisis tajam mengenai bangsa-bangsa yang kala itu berjuang bersama Sekutu.
Edgar Snow dikenal luas oleh komunitas internasional melalui adikaryanya, “Red Star Over China” (1937), yang memperkenalkan gerakan revolusi Tiongkok ke panggung global. Namun, dalam “People on Our Side”, cakrawala liputan Snow meluas drastis, merambah wilayah-wilayah vital yang menjadi episentrum pergolakan anti-fasisme dan anti-kolonialisme: Uni Soviet, Tiongkok, dan India, serta persinggahannya di Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Kekuatan utama buku ini berakar pada kemampuan Snow menempatkan Perang Dunia II bukan sekadar sebagai benturan militer antardaulat, melainkan sebagai krisis struktural dari tata dunia lama.
Snow menyadari betul bahwa kemenangan Sekutu atas fasisme poros Poros Roma-Berlin-Tokyo tidak akan mengembalikan dunia ke status quo ante bellum, melainkan membuka babak baru dekolonisasi dan kebangkitan massa rakyat di Asia dan Eurasia.
Judul buku ini sendiri, “People on Our Side” mengandung pesan provokatif bagi publik Barat pada masanya. Snow secara sadar mendefinisikan “pihak kita” bukan hanya kekuatan militer imperial Inggris atau modal kapitalis Amerika Serikat, melainkan ratusan juta rakyat biasa di pedesaan Henan, buruh pabrik di Stalingrad, hingga para aktivis kemerdekaan di Bombay yang menuntut hak menentukan nasib sendiri.
Pada bagian liputannya mengenai India, Snow membedah ketegangan mendalam antara ambisi mempertahankan imperium oleh Kerajaan Inggris dan gelora gerakan Quit India yang dipimpin Mahamtma Gandhi.
Snow merekam dinamika psikologis para pemimpin nasionalis seperti Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru dengan kejernihan luar biasa, menggambarkan bagaimana penindasan kolonial justru memperlemah moral pertahanan India menghadapi ancaman invasi Jepang.
Kritik Snow terhadap keangkuhan birokrasi kolonial Inggris di India menunjukkan keberanian moralnya sebagai jurnalis independen. Ia berargumen secara lugas bahwa demokrasi yang diperjuangkan Sekutu di front Eropa akan menjadi retorika hampa jika jutaan penduduk Asia di bawah jajahan Barat tetap dibiarkan hidup dalam jerat kemiskinan, kelaparan, dan ketiadaan hak politik.
Ketika mengalihkan fokus ke Tiongkok, Snow memperlihatkan kepiawaian investigatif yang telah menjadi ciri khasnya. Ia menggambarkan polarisasi politik yang meruncing antara pemerintahan Kuomintang di bawah Chiang Kai-shek di Chongqing yang korup serta rapuh, dengan determinasi gerilyawan Komunis di Yan’an di bawah pimpinan Mao Zedong.
Snow tidak memandang Tiongkok melalui kacamata romantis, melainkan mengkaji ketahanan sosial kaum tani yang menjadi tulang punggung pertahanan nasional melawan agresi militer Jepang.
Ia menguraikan secara rinci bagaimana mobilisasi rakyat bawah, reformasi agraria bertahap, dan pengorganisasian koperasi industri gerilya menjadi mesin penggerak yang mampu menahan gempuran kekuatan modern kekaisaran Jepang.
Bagian yang membahas Uni Soviet memberikan perspektif yang jarang didapatkan pembaca Amerika Serikat pada dekade 1940-an. Snow melaporkan langsung dari medan pertempuran Rusia, mencatat skala pengorbanan manusia Soviet dalam mempertahankan wilayah mereka dari serangan Nazi, termasuk kebrutalan kehancuran pasca-pengepungan Stalingrad.
Snow berupaya mendemistifikasi Uni Soviet bagi publik Barat dengan memaparkan fakta di lapangan: keberhasilan evakuasi industri berat ke timur Pegunungan Ural, ketahanan psikologis rakyat Soviet, serta efektivitas komando militer Marsekal Zhukov.
Tulisan ini berhasil menjembatani jurang pemahaman ideologis antara Barat dan Moskow saat aliansi taktis anti-Hitler berada pada titik puncaknya.
Gaya penulisan Snow menonjol karena selalu berpijak pada metode reportase langsung dan wawancara lapangan yang mendalam. Ia tidak membatasi ruang obrolannya di ruang-ruang diplomasi berkarpet tebal, melainkan turun langsung mencium debu medan tempur, berbicara dengan perwira lapangan, petani gandum, dokter militer, dan buruh pabrik amunisi.
Pendekatan sosiologis yang diterapkan Snow memberikan bobot akademis yang melampaui batas jurnalisme harian biasa. Masalah logistik pangan, distribusi lahan, inflasi moneter, hingga penyakit menular dibedah sebagai variabel penentu yang sama pentingnya dengan pergerakan divisi lapis baja di garis depan.
Melalui buku ini, Snow secara visioner telah memprediksi retaknya konsensus global pascaperang. Ia melihat dengan jelas jurang pemisah antara kepentingan kekuatan imperial lama yang ingin mempertahankan cengkeraman hegemoninya di Asia dengan kehendak bebas bangsa-bangsa terjajah yang menuntut kedaulatan penuh.
Gejala dekolonisasi massal di Asia pasca-1945 yang kemudian melahirkan kemerdekaan Indonesia, India, Vietnam, serta transformasi radikal di Tiongkok secara akurat telah dipetakan Snow dalam buku ini. Snow menegaskan bahwa masa depan abad ke-20 akan sangat ditentukan oleh dinamika politik di kawasan Asia, bukan semata-mata perimbangan kekuasaan di Eropa Barat.
Ironisnya, visi Snow mengenai perlunya pemahaman mutualistik antara kekuatan Barat dan gerakan revolusioner Asia justru tersingkir ketika Perang Dingin meletus beberapa tahun kemudian.
Snow sendiri kelak menjadi korban histeria anti-komunis era McCarthyisme di Amerika Serikat, yang membuktikan betapa tulisan-tulisannya kerap dianggap terlalu maju dan mengganggu ilusi hegemoni Barat.
Membaca kembali “People on Our Side” saat ini memiliki relevansi strategis bagi pengkaji hubungan internasional dan jurnalisme geopolitik kontemporer. Di tengah rekonfigurasi tatanan global menuju multipolaritas, pembaca diingatkan kembali bahwa aktor-aktor non-Barat memiliki agensi historis yang kokoh dan tidak boleh diabaikan.



KOMENTAR ANDA