Muktamar Nahdlatul Ulama secara resmi menetapkan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah berikutnya. Penetapan pucuk pimpinan tertinggi syuriyah ini berlangsung melalui mekanisme musyawarah mufakat sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sebelum musyawarah internal AHWA digelar, seluruh pengurus wilayah dan cabang NU di Indonesia menyalurkan usulan nama kiai sepuh melalui bilik penghitungan suara rekapitulasi nasional. Dari total ribuan usulan suara yang masuk, panitia mengumumkan sembilan kiai dengan perolehan dukungan terbanyak untuk mengemban mandat sebagai formatur AHWA.
KH Nurul Huda Djazuli memuncaki daftar perolehan dengan raihan 485 suara. Posisi kedua ditempati oleh ulama asal Aceh, TGH KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu), yang mengantongi 477 suara, disusul di posisi ketiga oleh AG Dr. KH Baharuddin HS., MA dengan perolehan 392 suara.
Urutan keempat dan kelima masing-masing diraih oleh KH Miftachul Akhyar dengan 350 suara dan pakar ushul fikih KH Afifuddin Muhajir dengan 339 suara. Selanjutnya, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menempati peringkat keenam dengan 326 suara, diikuti pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Anwar Manshur di posisi ketujuh dengan 303 suara.
Dua posisi terakhir dalam formatur sembilan besar diisi oleh mantan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj yang memperoleh 273 suara, serta ulama asal Purwakarta Dr. KH Abun Bunyamin, MA di urutan kesembilan dengan 268 suara. Sembilan kiai terpilih tersebut kemudian menggelar sidang tertutup dan sepakat mendaulat KH Nurul Huda Djazuli sebagai Rais Aam.
Latar belakang KH Nurul Huda Djazuli berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren salaf Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan ulama legendaris pendiri Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, KH Ahmad Djazuli Usman dan Nyai Hj. Rodliyah, yang mendedikasikan hidupnya untuk transmisi keilmuan Islam tradisional.
Pendidikan keagamaan beliau ditempa secara berkesinambungan sejak masa kanak-kanak di bawah bimbingan langsung sang ayah, sebelum melanjutkan pengembaraan ilmu ke sejumlah pesantren besar, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Tradisi talaqqi dan kajian mendalam atas kitab-kitab kuning (kutubut turats) membentuk keahlian beliau dalam bidang fikih dan tasawuf.
Di kalangan kiai dan santri nusantara, sosok KH Nurul Huda Djazuli dikenal sangat istiqamah dalam mengajar (ngaji) serta menjunjung tinggi ketawaduan. Keistiqamahan beliau dalam menjaga jarak dari pusaran politik praktis menjadikannya figur rujukan moral yang disegani lintas kelompok dan generasi nahdliyin.
Dalam pidato perdananya usai pengukuhan, KH Nurul Huda berpesan agar warga NU senantiasa menjaga keikhlasan berorganisasi dan mengokohkan komitmen ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah. Beliau menegaskan bahwa mandat sebagai Rais Aam merupakan amanah keumatan yang harus ditunaikan dengan menjaga marwah para ulama pendiri jam'iyyah.
Penetapan kepemimpinan syuriyah ini disambut antusias oleh seluruh peserta muktamar sebagai momentum konsolidasi organisasi. Dengan wibawa spiritual dan kepakaran fikih yang dimiliki KH Nurul Huda Djazuli, kepemimpinan PBNU diharapkan semakin kokoh dalam memandu arah gerakan keagamaan dan kemasyarakatan di tingkat nasional maupun internasional.



KOMENTAR ANDA