Sebuah insiden meresahkan menimpa seorang penumpang pesawat bernama Noa Sabar Dvoskin setelah menemukan secarik kertas bertuliskan pesan kebencian anti-Israel di dalam koper bagasi terdaftarnya (checked baggage). Temuan tersebut terjadi setibanya ia bersama keluarga di Tel Aviv, Israel, usai menyelesaikan perjalanan jarak jauh dari Amerika Serikat.
Penerbangan tersebut dilakukan pada 22 Agustus 2026 dengan rute awal berangkat dari Bandara Internasional Seattle-Tacoma (SEA) menggunakan maskapai Alaska Airlines (penerbangan AS583). Setelah mendarat di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), ia melanjutkan penerbangan lanjutan langsung menuju Tel Aviv dengan maskapai El Al (penerbangan LY106).
Perjalanan multi-maskapai tersebut menggunakan tiket terpadu melalui skema perjanjian kemitraan codeshare antara Alaska Airlines dan El Al. Dengan sistem integrasi ini, seluruh koper bagasi terdaftar langsung ditransfer dari pesawat pertama ke pesawat kedua di LAX tanpa perlu diambil kembali oleh penumpang.
Setibanya di rumah dan membuka kopernya, Dvoskin terkejut mendapati secarik catatan tulisan tangan bernada kasar dan provokatif yang berbunyi "F Israel"*. Ia mengaku sangat terguncang, merasa tidak aman, dan langsung memeriksa seluruh isi kopernya guna memastikan tidak ada barang berharga yang hilang atau dirusak.
Dvoskin, yang baru pindah ke Israel dua tahun lalu, baru saja menyelesaikan liburan keluarga di Seattle bersama anak-anaknya yang masih kecil. Meski merasa ngeri dan kecewa dengan pengalaman tersebut, ia mengaku bersyukur anak-anaknya tidak sempat melihat langsung pesan bernada kebencian yang terselip di dalam koper.
Atas kejadian yang menimpanya, Dvoskin telah melayangkan laporan resmi ke sejumlah otoritas terkait. Laporan tersebut diajukan ke pihak pengelola Bandara Seattle (SEA), Bandara Los Angeles (LAX), Kedutaan Besar AS di Israel, serta dua badan keamanan federal AS, yakni Transportation Security Administration (TSA) dan Department of Homeland Security (DHS).
Insiden ini memicu kekhawatiran serius terkait protokol keamanan dan penanganan bagasi penumpang di bandara. Munculnya catatan tersebut mengindikasikan adanya pihak tidak berwenang yang berhasil membuka dan menyusupkan benda ke dalam koper penumpang di sela-sela proses penanganan bagasi.
Para pengamat penerbangan menilai pembobolan atau perusakan koper bagasi bukan sekadar pelanggaran hukum atas privasi, melainkan potensi ancaman keselamatan udara. Jika seseorang dapat dengan leluasa memasukkan secarik kertas ke dalam bagasi, dikhawatirkan celah yang sama dapat dimanfaatkan untuk menyusupkan benda-benda terlarang atau material yang jauh lebih berbahaya.
Kejadian ini bukanlah insiden bermuatan politis pertama yang terjadi di bandara transit LAX. Beberapa bulan sebelumnya, sebuah penerbangan El Al dari Los Angeles menuju Tel Aviv sempat mengalami keterlambatan operasional parah setelah ditemukannya stiker bertuliskan "Free Palestine" yang ditempelkan pada peralatan penanganan darat, yang berujung pada pemecatan staf ground handling dan pemeriksaan ulang seluruh bagasi.
Bagi Dvoskin dan keluarganya, insiden tak menyenangkan ini menjadi penutup yang pahit bagi perjalanan liburan mereka di Amerika Serikat. Penyelidikan oleh otoritas penerbangan AS kini dinantikan untuk mengungkap di titik mana pelanggaran penanganan bagasi tersebut terjadi serta pihak yang bertanggung jawab atas aksi penyusupan itu.



KOMENTAR ANDA