post image
KOMENTAR

Modal esensial dalam pembangunan bangsa adalah kepercayaan terhadap institusi, kebijakan, dan data. Perdebatan ruang publik harus dikembalikan pada landasan empiris dan dialog berbasis bukti agar pesimisme tidak berkembang liar menutupi fakta ekonomi yang sebenarnya.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Direktur Global Research on Economics, Advance Technology, and Politics (GREAT) Institute, Dr. Syahganda Nainggolan ketika merilis laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026 bertajuk “Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme”, 29 Agustus 2026. 

“Bangsa ini memerlukan lebih banyak ruang untuk berpikir secara jernih. Kita membutuhkan keberanian untuk membaca persoalan secara utuh, melihat tantangan tanpa kehilangan harapan, serta membangun optimisme yang berakar pada fakta, bukan sekadar pada keinginan. Optimisme yang demikian bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan yang masih kita hadapi. Sebaliknya, optimisme adalah keyakinan bahwa setiap tantangan selalu dapat diatasi apabila bangsa ini mampu menjaga kualitas institusinya, memperkuat kolaborasi, dan terus menghasilkan kebijakan yang berpijak pada pengetahuan,” tulis Syahganda mengawali laporan.

Dia berharap laporan ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun optimisme yang rasional, memperkuat kualitas dialog publik,  dan mendorong lahirnya berbagai kebijakan yang semakin berpihak pada  kemajuan bangsa.

Secara umum publikasi ini mengkaji performa makroekonomi paruh pertama tahun 2026, menyajikan proyeksi pertumbuhan, serta mengevaluasi tantangan geopolitik dan struktural yang dihadapi Indonesia.

Dalam laporan setebal 115 halaman itu, GREAT Institute menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45 persen secara kumulatif pada Semester I 2026 merupakan bukti solidnya resiliensi domestik di tengah krisis dunia. Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata proyeksi ekonomi global IMF yang dipatok sebesar 3,0 persen untuk tahun 2026.

Dari sisi eksternal, ketidakpastian dunia kian meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur logistik krusial Selat Hormuz. Terganggunya jalur pelayaran ini memicu lonjakan harga minyak mentah internasional, mengerek biaya logistik, dan memberikan ancaman imported inflation bagi negara-negara pengimpor energi bersih seperti Indonesia.

Selain guncangan energi, perekonomian global diwarnai oleh kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Pada saat yang sama, arsitektur perdagangan AS kian proteksionis melalui penerapan rezim tarif baru Section 301 Trade Act dan kelanjutan kesepakatan bilateral Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Di kawasan Asia, Tiongkok mencatatkan pemulihan ekonomi yang timpang, di mana akselerasi ekspor dan manufaktur teknologi tinggi belum diimbangi oleh pemulihan daya beli serta krisis sektor properti domestiknya. Kondisi ini menyebabkan banjir produk manufaktur kompetitif ke pasar ASEAN, yang menuntut Indonesia untuk semakin memperkuat daya saing industri dalam negerinya.

Meskipun lanskap global penuh tantangan, GREAT Institute mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 di rentang 5,3 persen hingga 5,6 persen. Proyeksi ini ditopang oleh kinerja triwulan pertama yang tumbuh 5,61 persen dan triwulan kedua sebesar 5,29 persen (YoY).

Strategi frontloading belanja pemerintah melalui APBN menjadi motor penggerak utama pertumbuhan pada awal tahun, di mana konsumsi pemerintah melonjak hingga 21,81 persen pada Triwulan I 2026. Namun, memasuki paruh kedua tahun, fungsi fiskal diproyeksikan mulai beralih dari mesin belanja langsung (spending more) menjadi pengungkit efisiensi dan kapasitas produktif (spending better).

Kendati pertumbuhan makro solid, indikator daya beli rumah tangga mulai menunjukkan sinyal kehati-hatian. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat mengalami penurunan bertahap dari level 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, yang diiringi oleh pelemahan pada Indeks Penjualan Riil.

Tekanan daya beli tersebut turut merambat pada transaksi barang bernilai besar (durable goods), terlihat dari kontraksi tajam pada penjualan rumah komersial dan penurunan serapan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk masyarakat berpenghasilan rendah sepanjang Semester I 2026.

Di sektor investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan momentum positif dengan capaian realisasi Semester I 2026 sebesar Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Capaian ini didorong oleh pertumbuhan kredit investasi perbankan yang melesat 23,1 persen (YoY) per Juli 2026.

Terkait kebijakan moneter, Bank Indonesia menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin menjadi 5,75 persen hingga Agustus 2026 untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam arus keluar modal asing. GREAT Institute menilai pelemahan rupiah yang terjadi berlangsung secara bertahap (orderly depreciation) dan bukan merupakan penanda krisis ekonomi layaknya peristiwa 1998.

Tingkat inflasi domestik dinilai tetap terkendali dalam sasaran, berada di level 2,88 persen (YoY) pada Juli 2026 dengan inflasi inti di 2,76 persen. Cadangan devisa nasional juga berada di level aman sebesar 145,6 miliar dolar AS, setara dengan 5,5 bulan pembiayaan impor.

Dalam kajian sektoral, GREAT Institute menyoroti pentingnya Indonesia membangun ecosystem advantage pada rantai pasok industri semikonduktor global. Indonesia dinilai perlu fokus pada segmen strategis seperti pemrosesan material, desain chip, serta Assembly, Testing, and Packaging (ATP) melalui formulasi industrial policy yang konsisten.

Pada sektor komoditas dan pangan, laporan ini memperingatkan potensi El Niño kuat pada paruh kedua 2026 yang dapat mengancam produksi padi nasional. Berkaca dari anomali iklim 2023–2024, pemerintah diminta memprioritaskan ketersediaan air irigasi, adaptasi kalender tanam, dan stabilisasi distribusi beras lintas daerah.

Di samping itu, Care Economy (Ekonomi Perawatan) dinilai menjadi peluang strategis baru dalam merespons penuaan populasi (ageing population) dan mendorong penciptaan lapangan kerja formal. Investasi terintegrasi pada infrastruktur perawatan anak dan lansia diproyeksikan mampu menyerap jutaan tenaga kerja sekaligus mengerek tingkat partisipasi kerja perempuan menuju visi 2045.

Memasuki proyeksi tahun 2027 dengan target pertumbuhan 6,0 persen pada RAPBN, keterlibatan sektor swasta menjadi mutlak mengingat sekitar 89,8 persen kebutuhan investasi nasional ditanggung oleh non-pemerintah. Kepastian hukum, penyederhanaan perizinan, dan konsistensi regulasi menjadi syarat utama agar dunia usaha berani berekspansi secara optimal.

Sebagai kesimpulan, GREAT Institute menegaskan bahwa ketahanan makroekonomi Indonesia sepanjang 2026 harus dimanfaatkan sebagai batu loncatan menuju transformasi ekonomi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

Peminat laporan ini dapat mengirimkan pesan WhatsApp ke nomor 085691909712 dan 081290598903.


Tuntutan Keadilan Ekologis Menguat, Gakkum Kehutanan Didesak Tindak Tegas PT Star Energy di TNBBS

Sebelumnya

Surati UNESCO, Konsorsium Jaringan Rakyat Lampung Desak Penghentian Proyek Panas Bumi PT Star Energy di TNBBS

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekbis