Oleh: Dr. Ahmad Yani, Ketua Umum Partai Masyumi
KEMENANGAN Aisha Wahab dalam pemilihan khusus untuk mengisi kursi DPR Amerika Serikat dari California memberikan pelajaran menarik tentang demokrasi elektoral dan masa depan politik. Wahab, senator negara bagian California, memenangkan pertarungan melawan Melissa Hernandez dengan perolehan lebih dari 53 persen suara berbanding sekitar 47 persen. Ia sekaligus mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim dan warga Amerika keturunan Afghanistan pertama yang akan duduk di Kongres Amerika Serikat.
Namun, yang menarik dari kemenangan Aisha Wahab bukan semata-mata identitasnya maupun hasil pemilihannya, melainkan konteks pertarungan elektoral tersebut. Menjelang pemilihan, kelompok-kelompok eksternal mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mendukung Hernandez. United Democracy Project, super PAC yang terkait dengan AIPAC, mengeluarkan hampir US$2,5 juta untuk mendukung Hernandez. Secara keseluruhan, kelompok eksternal telah membelanjakan sekitar US$4,1 juta sejak pertengahan Juli, dengan sekitar US$3,7 juta menguntungkan Hernandez dan kurang dari US$400 ribu menguntungkan Aisha Wahab. Tetapi Aisha Wahab tetap menang.
Tentu, fakta tersebut tidak berarti bahwa uang tidak penting dalam politik. Uang tetap merupakan instrumen penting dalam kampanye modern. Ia diperlukan untuk membiayai organisasi, komunikasi, iklan, mobilisasi, dan berbagai kegiatan politik. KH. Zainuddin MZ pernah menyatakan “uang bukan segala galanya tapi segala galanya membutuhkan uang”.
Namun, kemenangan Aisha Wahab memberikan pelajaran yang fundamental modal dapat memperbesar kekuatan politik, tetapi tidak otomatis membeli kepercayaan rakyat.
Kemenangan aisha wahab membuktikan kekuatan modal besar bukan segala galanya adalah fakta bahwa modal besar tidak otomatis di konversi menjadi kemenangan legitimasi elektoral. Kemenangan merupakan hasil pertemuan berbagai faktor gagasan, isu yang ditawarkan, rekam jejak, jaringan organisasi, dukungan masyarakat, kemampuan membaca kebutuhan rakyat, identitas politik, dan kepercayaan pemilih.
Sebelum pemilihan khusus tersebut, Aisha Wahab juga telah memperoleh keunggulan yang signifikan dalam primary. Ia memimpin Hernandez lebih dari 20 poin dalam primary sebelumnya, sementara Hernandez telah mengeluarkan dana lebih besar dan memperoleh dukungan besar dari kelompok-kelompok eksternal. Fakta tersebut menunjukkan bahwa politik tidak dapat direduksi menjadi persoalan uang.
Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia. Politik harus kembali menjadi pertarungan gagasan, nilai, kepemimpinan, organisasi (jejaring), integritas, dan solusi atas persoalan rakyat. Sebab pada akhirnya, elektoral bukan tujuan. Elektoral adalah jalan menuju Politik Peradaban.
Salah satu penyakit demokrasi modern adalah kecenderungan menjadikan politik sebagai transaksi. Kandidat membutuhkan modal untuk memenangkan pemilu, partai membutuhkan biaya untuk bergerak, dan organisasi politik membutuhkan sumber daya. Persoalannya bukan pada keberadaan uang. Persoalannya adalah ketika uang berubah dari instrumen politik menjadi penentu politik.
Ketika itu terjadi, suara rakyat dapat diperlakukan sebagai komoditas, jabatan dapat diperlakukan sebagai investasi, kebijakan dapat menjadi objek transaksi, dan kekuasaan dapat digunakan untuk mengembalikan modal politik. Di titik inilah demokrasi menghadapi bahaya oligarki. Pemilu tetap berlangsung, rakyat tetap datang ke tempat pemungutan suara, tetapi kekuatan modal dapat menentukan siapa yang memiliki akses paling besar terhadap kekuasaan.
Karena itu, demokrasi membutuhkan mekanisme yang memastikan bahwa modal tidak menguasai politik, dan politik tidak kemudian digunakan untuk menguasai sumber daya negara bagi kepentingan modal.
Politik yang sehat harus dimulai dengan pertanyaan apa persoalan rakyat? Bukan semata-mata berapa biaya yang diperlukan untuk memenangkan pemilu. Pertanyaan berikutnya adalah apa solusi yang kita tawarkan? Bukan hanya berapa kursi yang dapat kita peroleh. Dan pertanyaan yang paling penting adalah jika rakyat memberikan mandat, perubahan apa yang akan kita lakukan?
Inilah politik gagasan. Partai politik harus mempunyai ideologi, platform, dan agenda kebijakan yang dapat diuji publik. Rakyat harus mengetahui apa yang akan dilakukan sebuah partai terhadap kemiskinan, pendidikan, lapangan kerja, korupsi, sumber daya alam, fiskal, teknologi, lingkungan, dan masa depan generasi muda. Identitas politik saja tidak cukup. Slogan saja tidak cukup. Simbol agama saja tidak cukup. Bahkan kemenangan elektoral saja tidak cukup. Politik harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan rakyat.
Di sinilah Islam memberikan fondasi moral yang sangat kuat. Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمْنَتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini memberikan prinsip fundamental bahwa kekuasaan adalah amanah. Mandat rakyat bukan cek kosong. Kemenangan pemilu bukan lisensi untuk memperkaya diri. Kursi parlemen bukan hak untuk memperdagangkan kebijakan. Jabatan pemerintahan bukan sarana membangun dinasti kekuasaan. Kekuasaan adalah amanah untuk menegakkan keadilan.
Allah SWT juga berfirman:
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُوْنُوْا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri..." (QS. An-Nisa: 135)
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُوْنُوْا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Maka ukuran keberhasilan politik bukan sekadar kemenangan. Ukuran keberhasilan politik adalah keadilan yang lahir dari kekuasaan.
Rasulullah SAW juga bersabda :



KOMENTAR ANDA