Festival Film Kuba resmi digelar di Jakarta sebagai bagian dari rangkaian penghormatan terhadap pemimpin historis Revolusi Kuba, Fidel Castro. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati satu abad (100 tahun) kelahiran tokoh revolusioner tersebut sekaligus mengakui warisan pemikirannya di tingkat global.
Pembukaan acara berlangsung dalam sebuah malam apresiasi di Perpustakaan Umum Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026 . Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah Indonesia, perwakilan parlemen, korps diplomatik dari berbagai negara sahabat, hingga komunitas warga yang tinggal di ibu kota.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya festival ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya ekshibisi audiovisual ini serta signifikansi pengaruh figur Fidel Castro bagi peta perjuangan dunia.
Selain penayangan film, kegiatan ini juga diramaikan dengan pameran fotografi virtual karya fotografer asal Kuba yang menampilkan rekam jejak Fidel Castro. Salah satu materi visual yang menarik perhatian adalah dokumentasi pertemuan bersejarah antara Fidel Castro dan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, saat berkunjung ke Havana pada tahun 1960.
Pameran tersebut turut menyajikan berbagai arsip audio-visual yang mengabadikan momen-momen penting dalam perjalanan hubungan bilateral Kuba dan Indonesia. Dokumentasi ini mempertegas ikatan sejarah dan diplomasi yang kuat di antara kedua negara yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Dagmar González, dalam pidatonya menegaskan bahwa Fidel Castro memandang seni bukan sebagai hak istimewa segelintir orang, melainkan hak mendasar bagi seluruh rakyat. Pemikiran inilah yang mendasari komitmen Kuba untuk terus memajukan industri kreatif dan kebudayaan.
Berkat visi dan dorongan Fidel Castro pula, institusi perfilman terkemuka dunia berhasil didirikan di Kuba. Di antaranya adalah Institut Seni dan Industri Sinematografi Kuba atau Instituto Cubano del Arte e Industria Cinematográficos (ICAIC) serta Sekolah Film dan Televisi Internasional (EICTV) di San Antonio de los Baños.
Mengenai kurasi karya yang ditampilkan, Dubes González menjelaskan bahwa film-film pilihan tersebut tidak hanya mencerminkan identitas dan semangat ketahanan rakyat Kuba, tetapi juga mencerminkan keyakinan Fidel bahwa sinema merupakan media yang sangat kuat untuk mengubah kesadaran manusia.
Dalam kesempatan tersebut, González juga menyinggung situasi geopolitik dengan menyatakan bahwa budaya dan identitas Kuba tidak terlepas dari tantangan embargo ekonomi Amerika Serikat yang telah berlangsung lebih dari 67 tahun. Ia menambahkan, tekanan tersebut makin berat dengan adanya pembatasan pasokan energi dan bahan bakar ke wilayah Kuba.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa penyelenggaraan festival film di Jakarta menjadi bukti nyata bahwa kebudayaan Kuba tetap hidup, tangguh, dan senantiasa terbuka untuk dibagikan kepada bangsa-bangsa sahabat seperti Indonesia.



KOMENTAR ANDA