post image
Betrawati Bazaar, sebelum dan sesudah tsunami dari hulu Sungai Trishuli di perbatasan Nepal dan Tibet.
KOMENTAR

TSUNAMI itu datangnya dari langit Tibet. Dingin, pekat, dan membawa amarah Himalaya.

Rabu pagi, 26 Agustus 2026. Bongkahan es di Gletser Zhangzangbo Tibet, Tiongkok, runtuh. Menghantam tebing es, membawa bebatuan purba, lalu meluncur deras menyusuri celah sempit Bhote Koshi menuju Sungai Trishuli di selatan. Airnya bukan lagi air sungai biasa: lumpur hitam, batu-batu raksasa, dan gelombang setinggi atap rumah.

Tragedi tak terhindarkan. Sampai Jumat pagi ini, 28 Agustus 2026, ratusan orang telah dinyatakan tewas dan lebih dari 1.500 lainnya yang tersapu air bah di sepanjang bantaran sungai dari Rasuwa hingga Nuwakot belum ditemukan. Kerugian material belum terhitung. Kerugian moral tak akan bisa dihitung. 

Dalam hitungan jam, jalan raya strategis sepanjang 42 kilometer dari Rasuwagadhi menuju Betrawati putus total. Seperti yang kita saksikan dalam video-video amatir warga yang berhasil selamat, jembatan beton hanyut seperti mainan kayu. Tiang listrik patah. Telekomunikasi padam. 

Di hilir, Betrawati Bazaar pasar kecil yang biasanya riuh dengan deru truk berbagai muatan dari Tiongkok dan langkah kaki peziarah ikut tersapu amarah Himalaya. Kios-kios terendam lumpur tebal.

Bagi masyarakat Nepal, Betrawati bukan sekadar pasar di perbatasan Distrik Nuwakot dan Rasuwa. Betrawati adalah tanah suci. Orang menyebutnya Uttar Gaya atau Gaya di Utara.

Sekitar 80 kilometer di utara Kathmandu, di sinilah tiga sungai sakral bertemu: Betran Ganga, Rudra Ganga, dan Trishul Ganga. Pertemuan tiga arus air yang disebut Triveni.

Di tempat inilah mitologi tertua bersemayam.

Kisahnya bermula dari zaman Satya Yuga. Ini era ketika umat manusia sangat dekat dengan para Dewa, ketika kebenaran ada di mana-mana, dan kejahatan adalah sesuatu yang tak biasa. 

Saat para dewa dan asura mengaduk Samudra Manthan atau samudra susu. Yang pertama kali memancar bukanlah ramuan hidup abadi, melainkan racun Halahala yang luar biasa mematikan. Begitu panasnya racun itu sampai semesta terancam terbakar.

Adalah Siwa, sang Dewa Mahadewa yang tampil ke depan. Menenggak racun itu sendirian demi menyelamatkan jagat raya. Tenggorokannya membiru. Tubuhnya terbakar rasa sakit yang tak tertahankan.

Dalam sekarat yang dahsyat, Siwa menghentakkan tongkatnya yang dikenal sebagai betra ke tanah. Muncullah mata air panas yang menjelma menjadi Sungai Betrawati. Belum reda rasa perihnya, untaian biji rudraksha di lehernya Ia hempaskan ke bukit, melahirkan Sungai Rudravati. Baru ketika Ia menancapkan trisula saktinya di puncak Gosainkund dan meminum air Trishuli, racun di dadanya padam.

Itulah sebabnya tempat ini begitu keramat. Bagi anak-cucu penganut Hindu, Betrawati adalah muara bakti. Di tepian sungai inilah ritual Gaya Śrāddha digelar—mempersembahkan bola-bola nasi (pinda dāna) demi menuntun arwah orang tua dan leluhur menuju kedamaian abadi di Pitṛloka. Konon, bahkan sebelum berziarah ke Gaya di India, orang Nepal merasa belum genap baktinya jika belum membasuh kaki di Uttar Gaya.

Kini, air Trishuli dan Betrawati kembali meluap liar. Menghantam jalan, menenggelamkan pasar, dan menelan korban jiwa, mengingatkan manusia betapa perkasanya alam di tapal batas Himalaya.

Banjir bandang boleh saja memutus aspal dan melumpuhkan bazar. Namun bagi jutaan peziarah, legenda tentang racun yang ditelan Siwa dan doa-doa untuk para leluhur di Uttar Gaya tak akan pernah bisa hanyut begitu saja.


Maroko Memilih Jalin Hubungan Bertetangga yang Baik dengan Spanyol, Sayangkan Berbagai Pihak yang Bikin Keruh

Sebelumnya

Kemlu RI Sikapi Kondisi Terakhir di Yaman: Hentikan Serangan Houthi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia