post image
KOMENTAR

Oleh: Moh Samsul Arifin, Pecinta Sepakbola

COMO 1907 meletakkan diri dengan anggun di babak awal Liga Champions Eropa musim 2026/2027. Di laga ketiga (21/10/2026), tim asuhan Cesc Fabregas itu melumat Manchester United, 4-1. Menjadikan MU, peringkat ketiga Liga Premier Inggris (EPL) musim 2025/2026 tersebut bak klub ingusan. 

Dalam pentas Eropa, MU sebetulnya bukan ingusan. Dia penguasa Inggris, terutama di era Alex Ferguson, dan ingat kuat-kuat sudah tiga kali MU menjadi kampiun Piala dan Liga Champions Eropa. Dengan reputasi gemerlap, MU seharusnya gampang menerkam Como 1907--klub 'anak kemarin sore' di daratan Eropa. 

Namun, sepak bola bukan permainan di atas kertas. Di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como 1907 pasang aksi. Tim anak bawang itu menunjukkan kekuatan Como 1907 sebagai wakil Serie A.

Bintang muda berpaspor Argentina, Nicolas Paz Martínez menginspirasi kawan-kawannya bahwa melawan siapa pun pantang minder. Paz melesakkan dua gol dan satu assist. 

Hingga menit 76, Como menjebol gawang MU hingga empat kali. Bila tak ada gol hiburan Joshua Zirkzee di menit 90+1, Setan Merah akan pulang ke Manchester dengan malu berat. Satu gol itu agak sedikit menolong ketimbang digunduli empat gol tanpa balas.

Belakangan MU asuhan Michael Carrick sedang sakit berat. Di artikel "Cinta Satu Malam Manchester United", 18 Januari 2026, saya menandai kemenangan MU atas Manchester City sebagai kejutan satu malam. Setelah itu, MU ternyata berjodoh dengan Carrick: Merangkai kemenangan demi kemenangan dan akhirnya finish di peringkat tiga EPL. 

Bekas gelandang enerjik itu cuma caretaker selepas MU berpisah dengan Ruben Amorim. Namun sentuhan Carrick membuahkan hasil mengejutkan. Sengitnya persaingan EPL serta pamor MU yang kian pudar, justru dibayar pelatih kalem dan tidak suka bicara itu dengan tiket ke UCL musim 2026/2027.

Di awal musim ini, kinerja Bruno Fernandes dkk berubah menjadi minor. Sebelum duel dengan Como 1907, MU terpojok di peringkat 13 Liga Premier Inggris hasil sekali menang, 4 kali seri, 2 kali keok. Gara-gara itu kursi kepelatihan Carrick goyah. Lebih goyang lagi setelah The Red Devils dilabrak Como 1907--klub Italia milik SENT Entertainment Ltd (Hartono Bersaudara/ Grup Djarum). 

Akibat dihantam Como, MU terjun di peringkat 20 Liga Champions. Sementara Como 1907 duduk manis di peringkat 9 hasil dua kali menang dan sekali tumbang. Lebih dari cukup atau bahkan di luar prediksi.

SENT Entertainment membeli Como 1907 pada 2019 silam. Dari sini, klub ini menaiki anak tangga secara tertib: Promosi dari Serie D (amatir) ke Serie C. 

Pada 2020/2021, juara Serie C sehingga naik ke Serie B. Selanjutnya merangkak kasta tertinggi Italia, Serie A, di musim 2023/2024 (CNNIndonesia.com, 9/9/2026).

Musim lalu, Fabregas menyegel peringkat 4 Serie A sehingga berhak tampil di Liga Champions Eropa musim ini. Bergabung sejak 1 Agustus 2022, Fabregas menyulap Como sebagai tim yang menyegat. Kisah empat tahun bersama Como menunjukkan bahwa sepak bola adalah tentang visi dan filosofi.

Berada di wilayah Lombardia, Italia Utara, Como 1907 tidak identik dengan pemain Italia. Skuad utama tim ini bertopang pada pemain non-Italia sehingga dipertanyakan di tengah porak-porandanya prestasi tim nasional Italia--tidak lolos dalam tiga edisi terakhir Piala Dunia. 

Fabregas berkilah karena itu berkaitan dengan pendekatan teknis dan taktis. Namun begitu, Como 1907 mengaku telah memoles bibit muda lewat tim Primavera (Bola.net, 7/2/2026).

Sentuhan dingin Fabregas terlihat dari sosok Nico Paz. Talenta ini dulu gagal bersaing di Real Madrid. Pada 2024, Paz lalu nekat pergi ke Como 1907. Pertemuan dengan Fabregas adalah titik balik yang menjelaskan kecemerlangan Paz saat ini. 

Di Liga Italia musim lalu, Paz bermain 35 kali, mencetak 12 gol, dan 6 assist. Naik dari musim sebelumnya (35 laga, 6 gol, 8 assist). Titel gelandang terbaik Serie A 2025/2026 adalah mahkota awal dari potensi penghargaan yang dapat diraihnya di masa mendatang. 

Di usia 22 tahun 43 hari, Paz begitu dingin menceploskan dua gol dan satu assist ketika Como menang 4-1 atas MU di Liga Champions. Rekor itu mengingatkan pada Lionel Messi ketika membela Barcelona kontra Bayern Munich pada April 2009. 

Sejauh ini, dalam tiga laga awal Liga Champions, Nico Paz merupakan pemain dengan peran yang lentur. Sekali waktu dipasang jadi striker, lain waktu penyerang lubang (nomor 10), kali lain gelandang serang. Dari tiga laga, yakni melawan Leipzig, Feyenoord, dan MU, Paz membukukan dua gol dan tiga assist. 

Kiprah Paz dan kawan-kawan di kancah Eropa bisa ditonton dalam lima laga sisa (babak awal Liga Champions). Setiap klub terundi melakoni 8 laga (4 kandang, 4 tandang). Como 1907 masih memiliki lima laga, yakni kontra Lens, Real Betis, AEK Athena, PSG, dan Barcelona.

Duel terakhir versus PSG dan Barca layak ditunggu. PSG adalah raja Eropa di dua musim terakhir. Luis Enrique meletakkan filosofi sepak bola yang rancak dan indah. Adapun Barca (terakhir digulung PSG, 4-2) juga memamerkan sepak bola ofensif yang memukau. 

Duel taktik Fabregas vs Enrique (keduanya berasal dari Spanyol) serta Hansi Flick vs Fabregas (Barcelona pernah jadi klub Fabregas) memiliki bobot sejarah. Sanggupkah langkah pertama (debut) sebagai pelatih di Liga Champions diakhiri Fabregas dengan manis? Seandainya kalah pun mestilah tidak memalukan.

Fabregas memainkan pola 4-2-3-1. Tak ada yang berbeda secara drastis dari racikan pelatih lain yang gandrung skema ini. Yang beda, Fabregas dan Como 1907 menginjakkan kaki ke stadion-stadion di Eropa sebagai 'anak baru'--tidak berpengalaman, namun menabur peluang menciptakan kejutan dan sensasi.

Fabregas meramu taktik dan teknis. Namun tanpa dukungan manajemen klub, Como 1907 tidak mungkin melompat ke barisan klub elite Italia serta merumput di pentas Eropa. Dalam urusan ini, Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907 asal Indonesia, memegang peran. 


KOMENTAR ANDA