Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
NASKAH ini bukan membahas Filsafat di Irlandia, tapi Filsafat Irlandia tanpa “di”.
Irlandia tidak pernah punya sistem filsafat seperti Jerman atau Perancis. Ia tidak punya Kant atau Descartes. Karena selama 800 tahun Irlandia dijajah, rakyatnya tidak punya waktu untuk menulis buku tebal. Mereka berfilsafat sambil bertahan hidup. Maka filsafat Irlandia bukan filsafat menara gading, tapi filsafat pub, puisi, dan perlawanan.
1. AWAL: PARA BIARAWAN KELTIK (Abad 5-9)
Sebelum Eropa mengenal universitas, Irlandia sudah menjadi Pulau Orang Suci. Biarawan seperti Johannes Scotus Eriugena (810-877) adalah filsuf terbesar Eropa pada masanya.
Eriugena mengajarkan: Tuhan bukan makhluk di langit, Tuhan adalah segala sesuatu itu sendiri. Alam bukan ciptaan Tuhan, alam adalah Tuhan yang sedang menjadi. Pohon, batu, dan manusia adalah Tuhan yang sedang berpenampilan. Gereja Roma menganggap ini sesat, tapi inilah akar panteisme Eropa, 400 tahun sebelum Spinoza.
Gagasan Keltik ini: dunia tidak terbagi antara suci dan kotor. Semua suci. Maka orang Irlandia tidak pernah takut pada alam liar seperti orang Inggris. Alam liar adalah saudara.
2. KOLONIAL: BERKELEY (1685-1753)
George Berkeley adalah filsuf Irlandia paling terkenal di dunia. Ia orang Anglo-Irlandia, kaum penjajah Protestan yang memerintah orang Katolik.
Berkeley bertanya: apakah kursi tetap ada jika tidak ada yang melihatnya? Jawabannya: tidak. _Esse est percipi_ — ada adalah dipersepsi. Dunia hanya ada karena ada pikiran yang mempersepsinya. Jika tidak ada manusia yang melihat pohon tumbang di hutan, pohon itu tidak bersuara.
Kenapa orang terjajah seperti Berkeley berpikir begitu? Karena ia hidup di negeri di mana realitas memang disangkal. Inggris bilang Irlandia tidak ada sebagai bangsa, hanya sebagai properti. Maka Berkeley membalikkan: jika realitas tergantung persepsi, maka penjajah tidak bisa mengklaim realitas Irlandia lenyap hanya karena mereka tidak mengakuinya. Realitas Irlandia tetap ada selama orang Irlandia mempersepsinya. Ini adalah filsafat perlawanan yang dibungkus idealisme.
3. KEMERDEKAAN: OSCAR WILDE DAN ABSURDITAS
Pada abad 19-20, filsafat Irlandia menjadi filsafat absurditas.
Oscar Wilde berkata: "Kita semua berada di selokan, tapi beberapa dari kita melihat bintang-bintang." Ini adalah inti filsafat Irlandia modern. Hidup di bawah Imperium Inggris adalah hidup di selokan. Anda miskin, bahasa Anda dilarang, agama Anda dihina. Apa yang bisa Anda lakukan? Anda bisa melihat bintang-bintang. Anda bisa menertawakan selokan itu.
James Joyce melanjutkan: dalam Ulysses, satu hari orang biasa di Dublin sama epiknya dengan Odyssey milik Homer. Filsafat Irlandia menolak ide bahwa yang besar harus di London atau Athena. Yang kecil, yang lokal, yang mabuk di pub, juga mengandung keabadian.
Samuel Beckett menyimpulkan dengan Menunggu Godot: kita menunggu sesuatu yang tidak akan datang. Tidak ada kemerdekaan yang sempurna, tidak ada keadilan yang final. Tapi kita tetap menunggu bersama, dan sambil menunggu, kita mengobrol. Solidaritas dalam kesia-siaan — itu adalah kebijaksanaan Irlandia.
Jika filsafat Jerman bertanya "Apa itu Kebenaran?", filsafat Irlandia bertanya "Bagaimana tetap waras ketika Kebenaran tidak memihak kita?". Jawabannya: Jadikan dunia sebagai persepsi (Berkeley), jadikan penderitaan sebagai lelucon (Wilde), dan jadikan penantian sebagai persahabatan (Beckett). Filsafat Irlandia bukan untuk menjelaskan dunia. Filsafat Irlandia bertahan hadir di dalamnya.



KOMENTAR ANDA