post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Edy Mulyadi, Wartawan Senior

NOMOR telepon Presiden Prabowo Subianto diduga disadap. Publik terkejut. Pelakunya mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Rakyat syok. Istana dan sejumlah kalangan mulai menyebut penyadapan itu berpotensi makar. Publik geram. Bisik-bisik di luar menyebut, Jokowi dan Geng Solonya ada di balik penyadapan ilegal. Rakyat murka! 

Jika benar, ini jadi skandal penyadapan paling memalukan dalam sejarah Indonesia modern. Tapi, perkara ini tak berhenti sampai di sini. Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penyadapan terhadap Presiden. Bila berbagai informasi yang beredar itu benar, Indonesia mungkin sedang berhadapan dengan sebuah operasi politik yang dirancang secara sistematis. Sasarannya bukan hanya Presiden Prabowo Subianto. Tapi juga arah kekuasaan dan masa depan pemerintahan.

Pertanyaan paling mendasar pun muncul: siapa sebenarnya yang berada di balik operasi ini?
Dalam sebuah podcast, Gema Goeyardi menyampaikan sejumlah klaim mengejutkan. Dia mengaku punya informasi kelas A1 mengenai dugaan operasi penyadapan terhadap Presiden yang dilakukan oleh mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah jenderal polisi. 

Bukan hanya soal siapa yang menyadap. Gema juga memaparkan dugaan adanya pihak yang memerintahkan, mendanai, serta mengambil keuntungan dari operasi tersebut. Angkanya tidak kecil. Ia menyebut uang muka Rp25 triliun. Sementara keseluruhan anggaran operasi diperkirakan mencapai Rp50 triliun-Rp60 triliun.

Tentu saja, angka sebesar ini bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja. Harus ada bukti aliran dana, identitas pemberi dana, penerima, serta mekanisme transaksinya. Tapi justru karena nilainya luar biasa besar, informasi ini tidak boleh berlalu tanpa penelusuran serius.

Prabowo Dua Tahun dan Skenario Kudeta

Gema menarik benang merah ke belakang. Dia menghubungkan dugaan operasi penyadapan dengan wacana bahwa Prabowo hanya akan memimpin selama dua tahun, sebelum kemudian digantikan oleh Gibran.

Wacana tersebut pernah mencuat pada 2024. Adalah Connie Rahakundini Bakrie yang "membocorkan" skenario ini. Saat itu Connie menceritakan ulang percakapannya dengan Ketua Tim Pemenangan pasangan Prabowo Gibran, Rosan Roeslani. Saat itu, kata Connie, dia ditawari masuk dalam tim. Menurut Connie, Rosan mengatakan Prabowo kelak cuma dia tahun jadi Presiden. Tiga tahun berikutnya diteruskan Gibran. Rosan sendiri membantah apa yang disampaikan Connie.

Apakah benar ada desain politik untuk membatasi masa pemerintahan Prabowo? Apakah wacana tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah operasi yang lebih besar? Ini pertanyaan penting. Tetapi hubungan antara peristiwa-peristiwa tersebut masih harus dibuktikan. Kesamaan waktu, kepentingan, atau aktor belum otomatis membuktikan adanya satu komando.

Gema kemudian menyebut nama mantan Menteri Koperasi Budi Arie sebagai salah satu titik awal terbukanya dugaan persoalan ini. Pernyataan Budi di hadapan relawan ProJo mengenai kemungkinan Prabowo jatuh sebelum 2029, disebut menjadi pemicu terbukanya sejumlah informasi.

Di sinilah persoalan menjadi menarik. Apakah memang ada faksi kekuasaan yang sejak awal tidak menghendaki Prabowo menyelesaikan masa jabatannya? Jika ada, siapa saja yang berada di dalamnya?

6.000 Nomor Telepon

Bagian paling mengkhawatirkan dari paparan Gema adalah klaim mengenai sekitar 6.000 nomor telepon yang diduga menjadi sasaran penyadapan. Bayangkan implikasinya jika informasi ini benar. Bukan hanya komunikasi Presiden yang berpotensi diketahui pihak lain. Peta hubungan, agenda pertemuan, arah kebijakan, dinamika kabinet, hingga rencana pergantian pejabat bisa menjadi informasi yang jatuh ke tangan pihak berkepentingan.

Gema menguraikan sedikitnya tujuh kategori informasi yang diduga bocor. Ada keputusan ekonomi sebelum diumumkan, rencana reshuffle kabinet, peta kepercayaan Presiden, serta target pemeriksaan dan penyitaan aset. Jenis informasi lain yang bocor adalah pergerakan Presiden, konflik internal pemerintahan, hingga peta hubungan politik di luar Istana.

Informasi seperti itu jelas bernilai strategis.
Bagi pelaku bisnis yang sedang menghadapi pemeriksaan pajak atau penertiban tambang ilegal, misalnya, mengetahui lebih awal langkah pemerintah bisa menjadi keuntungan besar. Mereka punya kesempatan memindahkan aset, mengamankan dokumen, atau menyusun langkah antisipasi. Begitu pula pihak yang berkepentingan terhadap kebijakan ekspor, hilirisasi, dan pengelolaan sumber daya alam.

Jika benar ada kebocoran informasi strategis, persoalannya bukan lagi sekadar keamanan telekomunikasi. Ini menyangkut kemampuan negara melindungi kepentingannya sendiri.

Gema memetakan tiga kelompok besar yang menurutnya berkepentingan terhadap operasi tersebut. Mereka adalah mafia koruptor, oligarki lokal dan asing, serta elite global. Ketiganya diduga memiliki kepentingan yang beririsan. Mereka berkepentingan agar kebijakan pemerintah yang mengganggu jaringan bisnis dan praktik lama dapat dihentikan. Isu under invoicing, transfer pricing, tambang ilegal, sawit ilegal, hingga pengawasan ekspor menjadi bagian dari paparan tersebut.

Gema bahkan menyebut Singapura dan China dalam konteks dugaan aliran informasi dan kepentingan ekonomi-politik. Namun, penyebutan nama negara tentu membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat. Jangan sampai analisis kepentingan berubah menjadi tuduhan tanpa dasar.

Yang patut dicermati adalah kemungkinan adanya pertemuan kepentingan antara kekuatan ekonomi domestik dan pihak luar. Dalam politik internasional, kepentingan ekonomi kerap berjalan beriringan dengan kepentingan politik. Negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah seperti Indonesia, tentu menjadi arena perebutan pengaruh.

Karena itu, kedaulatan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mempertahankan wilayah. Negara juga harus mampu menjaga informasi, kebijakan, sumber daya, dan proses pengambilan keputusannya dari intervensi pihak mana pun.

Pengganti Presiden yang Disiapkan

Ini bagian paling sensitif sekaligus paling mengundang tanda tanya. Gema mengklaim ada sosok yang dipersiapkan untuk menggantikan Prabowo. Dia bahkan menggambarkan adanya semacam kabinet bayangan. Dalam paparannya, sosok yang dituding sebagai calon presiden pengganti tersebut adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Namun, sekali lagi, ini masih merupakan klaim yang harus diuji. Tidak cukup hanya dengan menyusun potongan-potongan informasi, membuat diagram hubungan, kemudian menyimpulkan siapa dalangnya. Justru aparat penegak hukum harus bekerja secara transparan untuk menjawabnya.


Jaringan Progresif 98 Bandung: Jangan Lamban Tangani Makar Kelompok LSP

Sebelumnya

Menanti Hoegeng di Era Modern: Oase Kapolri Suyudi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional