11. Lalu orang ribut soal revenue recognition yang diakui tahun 2018 dan dicatat oleh kantor akuntan publik. Ini juga debatable. Namanya juga startup. Mahata itu, model bisnisnya benar-benar baru bagi banyak orang.
Cara pembayarannya juga banyak yang belum dikenal orang. Sewaktu Gojek, valuasinya dinilai melebihi Garuda yang assetnya segambreng dan riil itu, sebagian orang juga ribut kok. Debatable, tapi mereka tidak mencuri.
Masing-masing punya logikanya sendiri, ada cara lama dan ada cara-cara baru yang belum banyak dikenal orang lama. Selalu ribut.
12. Setelah itu ribut soal lain-lain. Semua terjadi saat dunia airlines sedang melakukan konsolidasi, saat jumlah penumpang di Asia sedang menurun, harga tiket full service airlines naik, saat penumpang Indonesia lagi takut naik Lion dan AirAsia yang kecelakaan tahun lalu, saat Sriwijaya tak bisa bayar hutangnya ke garuda di GMF sehingga ia minta di-takeover Garuda, saat jalan tol darat dan laut membaik (sehingga penumpang lebih suka lewat darat dan shifting)... ditambah kemarin saat pilpres... rame deh.
13. Lalu ribut lagi soal jabatan sebagai komisaris di Sriwijaya. Hmmm...ini juga ramai. Lagi-lagi di BUMN memang direksilah yang ditunjuk untuk mengawasi anak-anak perusahaannya.
Hanya saja mereka berbeda layanan, beda segmen. Yang satu full service, yang satunya minimum service. Marketnya beda. Kalau sama mah, sudah pasti dia akan beli pesawatnya saja, bukan perusahaannya.
14. Saya dengar dan amati anak ini, Ari Askhara, orang baik, lurus, pandai, dan pekerja keras. Dia mau mengotori tangannya untuk lakukan hal-hal yang blm tentu orang mau melakukannya demi memajukan Garuda.
Hanya saja dia adalah #newpower yang berhadapan dengan logika-logika lama, #oldpower. Jadi kita harus sedikit sabar dan mau lebih terbuka. Jangan gegabah, jangan salah tembak.




KOMENTAR ANDA