Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa China telah setuju untuk membeli 200 pesawat dari Boeing. Kesepakatan ini berpotensi mengakhiri masa paceklik penjualan paling kritis bagi produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut dalam sejarah komersial modernnya, terutama di pasar Asia yang sangat kompetitif.
Dalam sebuah wawancara dengan FOX News, Trump mengungkapkan bahwa awalnya Boeing hanya menargetkan kesepakatan untuk 150 pesawat. Namun, melalui proses negosiasi selama kunjungannya ke Beijing, pemerintah China justru sepakat untuk meningkatkan jumlah pesanan menjadi 200 unit jet komersial.
Kabar mengenai kesepakatan besar ini dilaporkan selama kunjungan diplomatik Trump ke China, di mana sektor penerbangan, energi, dan pertanian menjadi agenda utama. Meskipun jumlah total pesawat telah disebutkan, hingga saat ini belum ada rincian resmi mengenai jenis pesawat spesifik yang akan dipesan oleh pihak China.
Para analis industri memperkirakan bahwa pesanan tersebut akan didominasi oleh Boeing 737 MAX yang kini mulai bangkit kembali. Namun, kepastian mengenai maskapai mana yang akan menerima unit tersebut, jadwal pengiriman, serta nilai kontrak total masih menunggu klarifikasi lebih lanjut dari pihak terkait.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa pembelian pesawat merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan ekspor Amerika ke China. Dalam kunjungan ini, CEO Boeing Kelly Ortberg juga turut hadir sebagai bagian dari delegasi pemimpin bisnis senior AS.
Pengumuman ini muncul setelah berminggu-minggu spekulasi bahwa Boeing mengejar paket pesanan yang jauh lebih besar. Beberapa laporan sebelumnya menyebutkan adanya kemungkinan kesepakatan hingga 500 unit pesawat, sehingga angka 200 unit ini dianggap sebagai tahap awal atau bentuk penyesuaian dari rencana semula.
Reaksi pasar terhadap pengumuman ini terpantau cukup beragam. Saham Boeing sempat mengalami penurunan lebih dari 4% karena para investor menilai jumlah 200 pesawat tersebut lebih kecil dibandingkan ekspektasi pasar yang sempat mengharapkan pesanan dalam skala masif.
Jika diformalkan, ini akan menjadi pesanan pesawat negara China yang pertama bagi Boeing sejak tahun 2017. Selama hampir satu dekade terakhir, hubungan Boeing dengan China membeku, terutama setelah krisis Boeing 737 MAX yang mengakibatkan larangan terbang di banyak negara, termasuk China sebagai negara pertama yang mengambil tindakan.
Sejak krisis MAX meletus tujuh tahun lalu, Boeing dilaporkan hanya mengirimkan sekitar 100 pesawat ke China. Angka ini sangat kontras dengan periode sebelum krisis, di mana produsen ini biasanya rutin membukukan pesanan besar setiap beberapa tahun sekali dari maskapai-maskapai di Negeri Tirai Bambu.
Selama masa absennya Boeing, kompetitor utamanya, Airbus, berhasil mengambil keuntungan besar dengan mendominasi pasar China melalui berbagai kontrak pengadaan. Kesepakatan baru yang diumumkan oleh Presiden Trump ini diharapkan dapat memulihkan kembali posisi tawar Boeing di pasar penerbangan terbesar kedua di dunia tersebut.




KOMENTAR ANDA