post image
KOMENTAR

Garuda Indonesia, maskapai penerbangan nasional kebanggan seluruh anak bangsa, sedang dirudung berbagai persoalan yang seakan tak  berkesudahan.

Mulai dari indikasi kerugian karena ekspansi yang dinilai gagal, laporan keuangan yang kontroversial, sampai rangkap jabatan Dirut Garuda Ari Ashkara dengan perusahaan penerbangan plat hitam Sriwijaya Air.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga, rangkap jabatan ini ada kaitannya dengan harga tiket yang mahal karena penyedia jasa penerbangan praktis hanya tinggal dua kelompok, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air.

Beberapa waktu lalu, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali ikut memberikan pandangan terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi Garuda ini.

Rhenald mengatakan bahwa mengurus maskapai penerbangan bukan pekerjaan mudah. Apalagi di era kekinian, dimana persaingan semakin ketat dan praktik bisnis sudah tidak sesederhana pada era-era sebelumnya.

Dalam situasi seperti itu, seorang CEO dituntut untuk berpikir kreatif, mencari peluang dari kegiatan-kegiatan lain yang potensial. Maskapai penerbangan, sambungnya, tidak bisa mengandalkan keuntungan hanya dari traffic penumpang yang menggunaan jasa penerbangan.

Dengan cara pandang seperti itu, Rhenald mengatakan, dirinya dapat memahami apa yang sedang dilakukan Ari Ashkara, yakni berusaha untuk membuka peluang usaha baru.

Berikut petikan lengkapnya.  

1. Kalau soal Garuda, kita harus bicara dengan kepala dingin. Sebab, jangan-jangan banyak yang salah dan gagal paham dalam banyak hal.

2. Pertama, urus airlines itu memang rumit. Selain harus utamakan keselamatan penumpang, juga urus servis dan high tech. Harga pesawat berubah-ubah tergantung siapa yang kuasai pesawat dan keadaan supply-demand saat kita beli atau saat negosiasi. Dan itu menggunakan dolar, sementara penghasilan rupiah dan mayoritas penumpang kita price sensitive.

3. Investasinya besar, resiko besar, sudah begitu airlines adalah industri yang sudah semakin sulit meraih untung.

4. Jadi, hampir tak ada airlines corporation di dunia yang stand alone, hanya hidup dari traffic penumpang atau cargo dan bisa untung. Itu sudah tak bisa lagi. Maka CEO harus berpikir, cari cara-cara baru.

Value creation dalam dunia bisnis, maaf ini agak teknis, sudah tidak bisa lagi dari supply chain karena mahal. Business model dunia baru menandaskan, semua bisnis harus explore value dari ekosistemnya.

Jadi itu sebenarnya yang saya lihat sedang dilakukan oleh Ari Askhara, anak muda yang dibesarkan oleh zamannya. Maka, dia gandeng Mahata, sebuah startup.

5. So, bisnis airline memang tak bisa lagi hidup dari pendapatan tiket. The main is no longer the main. Sama seperti surat kabar tak bisa lagi hidup dari jualan koran. Nokia saja sebagai stand alone ponsel mati. Semua bisnis sudah berpindah ke Superaps karena ini adalah eranya mobilisasi dan orkestrasi (#MO).

Hidup berubah, didapat keuntungan di masa depan hanya kalau kita menciptakan network value. Celakanya ini belum dipahami orang-orang lama, baik sebagai eksekutif, pengusaha lama, atau regulator yang tak mau sabar melihat cara baru tumbuh. Ditambah banyak mental "menghakimi" yang hidup di sini.

6. Jadi, Ari Askhara sebagai #newpower seperti tengah berhadapan dengan #oldpower yang punya uang, jabatan atau kekuasaan. Kita masyarakat harus lebih jernih dan menghargai sosok-sosok exploratif.

7. Mungkin dia salah, mungkin juga tidak. Semua debatable. Perlu waktu dan saling memahami what's going on. Mungkin dia salah kalau pakai kriteria lama. Mungkin juga tidak kalau pakai kriteria baru.

Dunia yang saling mengorkestrasi dan tak harus menguasai asset. Rezekinya dari jejaring yang saling menciptakan create value seperti Gojek yang tak harus bermodal besar tetapi valuasinya bisa lebih besar dari yang punya asset kendaraan banyak.

8. Jadi memangnya gampang cari yang mau kerja dan mau dicaci maki sebagai CEO Garuda sperti Ari Askhara? Kalau diganti saja sih gampang. Cari penggantinya yang sulit, apalagi yang mau mikir dan cari alternatif.

Sudah begitu, perusahaan ini sulit sekali meraih untung. Mana ada insentif untuk eksekutif hebat duduk di sana, kecuali tentunya yang punya pikiran lain atau ada misi lain. Baiknya kita jernih melihat ini.

9. Harap kita catat, dari dulu, setiap ada perbaikan di Garuda, selalu ada yang ribut kok. Itu harusnya kita bertanya mengapa?.

10. Sekarang zamannya tak ada stand alone business model hidup. Cari-cari sumber lain. Itu sebenarnya yang dilakukan Ari Askhara. Namanya dalam airlines: ancillary income. Pendapatan lain-lain dari network effect. Nah ini yang ramai saat dia dapat kontrak dari Mahata.

Debatable tentang sesuatu yang baru. Ya wajar saja kan. Gojek saja dulu diributkan waktu masuk menjadi sharing ride. Orang tak kenal model businessnya. Wajar saja


Trump Sebut AS Bisa Janjikan hingga 750 Pesawat Boeing Baru ke China “Jika Mereka Bekerja dengan Baik”

Sebelumnya

Ethiopian Airlines Lirik Airbus A220 untuk Perkuat Konektivitas Regional Afrika

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews