post image
Pelatih Valencia FC, Fernando Martin Carreras, dan tiga anaknya menjadi korban dalamn kecelakaan kapal wisata phinisi di Taman Nasional Komodo, 26 Desember 2025.
KOMENTAR

Pemerintah diminta untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan keamanan sektor pariwisata nasional. Desakan ini muncul menyusul rentetan kecelakaan fatal yang menewaskan wisatawan sepanjang 2025, termasuk insiden kapal wisata tenggelam dan kasus penyelaman berujung maut di akhir tahun.

Permintaan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty di Jakarta, Senin, 5 Januari 2025.

“Faktor keselamatan dan keamanan harus menjadi fondasi utama dalam pengembangan destinasi wisata Indonesia,” ujarnya.

“Harus ada perbaikan serius dari sisi tata kelola pariwisata nasional dengan menempatkan faktor safety and security sebagai prioritas utama setelah aksesibilitas, amenitas, dan atraksi atau 3A+S. Safety and security tourism harus menjadi pilar utama pariwisata Indonesia agar sektor ini tumbuh aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” sambung Evita.

Lebih lanjut Evita menegaskan bahwa jaminan keselamatan bagi wisatawan, pekerja pariwisata, dan masyarakat lokal harus berjalan seiring dengan target peningkatan jumlah kunjungan, lama tinggal, dan belanja wisatawan.

Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia serta berada di kawasan Ring of Fire yang rawan bencana, wajib menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama, termasuk dalam transportasi laut, darat, dan udara.

“Berulangnya kecelakaan di destinasi wisata menunjukkan bahwa keselamatan dan keamanan belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan pariwisata. Satu nyawa yang hilang adalah kegagalan sistem dan tidak boleh dianggap hal biasa,” tegas Evita.

Evita mendorong Kementerian Pariwisata untuk menginisiasi reformasi komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Basarnas, Polri, BNPB, Kementerian Perhubungan, BSN, BMKG, TNI, pemerintah daerah, serta asosiasi terkait. Reformasi tersebut mencakup aspek regulasi, koordinasi, kelembagaan, operasional, hingga penegakan hukum.

Usulan konkret meliputi penerapan standar nasional keselamatan pariwisata, sistem respons cepat darurat, sertifikasi wajib bagi operator wisata, sistem peringatan dini, serta pembentukan desk koordinatif khusus untuk pengawasan harian tanpa mengganggu fungsi lembaga yang sudah ada.

“Harus ada pihak yang menjadi koordinator utama untuk mengatur seluruh sumber daya secara cepat. Semua lembaga sebenarnya sudah ada dan menjalankan fungsinya masing-masing. Yang lemah adalah pelaksanaan di lapangan, mulai dari pengawasan harian hingga langkah preemtif dan preventif. Ini perlu dibedah kembali, apakah syahbandar, penjaga pantai, petugas taman nasional, atau pihak lainnya sudah benar-benar menjalankan tugasnya,” jelasnya.

Dari sisi wisatawan, Evita mengajak masyarakat agar lebih sadar dan kritis terhadap aspek keselamatan. “Wisatawan harus berani meminta jaminan keselamatan dari operator. Jika ragu, sebaiknya tidak ikut,” ungkapnya.

Seruan ini diharapkan menjadi momentum bagi Indonesia untuk membangun sektor pariwisata yang tidak hanya mengejar kunjungan massal, tetapi juga mengedepankan keselamatan dan keberlanjutan di tengah potensi alam yang luar biasa.

Kecelakaan Pariwisata 2025

Sepanjang 2025, sejumlah insiden tragis mencoreng industri pariwisata Indonesia. Di antaranya tenggelamnya kapal wisata phinisi di perairan Selat Padar dekat Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada 26 Desember 2025, yang menewaskan empat wisatawan asal Spanyol.

Kejadian ini merenggut nyawa pelatih Valencia FC, Fernando Martin Carreras, dan tiga anaknya yang terjebak di kabin saat kecelakaan. Adapun istri Martin, Mar Martinez Ortuno, beserta satu anak perempuan mereka yang berusia tujuh tahun berhasil menyelamatkan diri.

Tak lama setelah itu, seorang wisatawan Australia meninggal dunia saat melakukan scuba diving di perairan Segara Beach, Tulamben, Bali, pada 30 Desember 2025.

Sebelumnya, wisatawan asal Brasil yang meninggal setelah tergelincir dan jatuh ke jurang saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kejadian lain meliputi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada 2 Juli 2025 yang menewaskan 17 orang dan menyebabkan puluhan lainnya hilang.

Masih di akhir Desember 2025, dua wisatawan terseret ombak di kawasan Pasir Putih, Taman Wisata Alam Cagar Alam Pananjung, Pantai Pangandaran, pada Hari Natal. 

Sehari setelah kecelakaan di Taman Nasional Komodo, seorang wisatawan meninggal dunia akibat terseret arus di Pantai Karanghawu, Sukabumi, Jawa Barat.

 


Nyanyi Bali Luncurkan Pesan 2026, 'A Legacy of Stewardship'

Sebelumnya

Batik Air Jelajahi Destinasi Favorit: Malaysia dan UEA

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Destinasi