Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan mengejutkan pada Rabu malam, 8 Juli 2026, terkait ketegangan yang kembali memuncak antara Washington dan Teheran. Dalam keterangannya kepada wartawan di atas Air Force One, Trump mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah kedua negara akan kembali terlibat dalam perang skala penuh.
Saat bertolak dari Pangkalan Angkatan Udara Mildenhall di Inggris, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat telah memberikan respons militer yang sangat keras terhadap Iran. Ia mengklaim bahwa setiap serangan yang dilancarkan Iran akan dibalas dengan kekuatan 20 kali lipat lebih besar sebagai bentuk tindakan tegas.
Terkait prospek perdamaian, dikutip dari CNBC, Trump menyatakan keraguannya meskipun ia menyebut pihak Iran sangat menginginkan sebuah kesepakatan. Menurutnya, masalah utama saat ini bukanlah keinginan Iran untuk bernegosiasi, melainkan kredibilitas Teheran dalam menghormati dan menepati perjanjian yang nantinya mungkin dibuat.
Presiden Trump dengan percaya diri menambahkan bahwa jika perang kembali meletus, Amerika Serikat akan memenangkan konflik tersebut dengan sangat cepat. Ia mengklaim bahwa secara militer, AS telah unggul dan pihak Iran kini memiliki keterbatasan sumber daya yang signifikan akibat serangkaian serangan yang telah dilancarkan.
Sementara itu, Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi telah melakukan serangan lanjutan pada hari Rabu. Operasi ini ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial serta keselamatan pelaut sipil di Selat Hormuz, yang merupakan titik krusial bagi lalu lintas energi global.
Ketegangan di Selat Hormuz ini telah memicu kekhawatiran internasional, terutama karena jalur tersebut merupakan rute vital bagi perdagangan minyak dunia. Blokade dan konflik di wilayah ini telah menyebabkan lonjakan biaya energi yang memicu kekhawatiran akan kenaikan inflasi global dan kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank-bank sentral.
Sebelumnya, pada Selasa, militer AS melancarkan serangan ofensif sebagai balasan atas penyerangan terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Sebagai sanksi tambahan, Departemen Keuangan AS juga telah mencabut keringanan sanksi yang sebelumnya memungkinkan Iran untuk menjual minyaknya di pasar internasional.
Status gencatan senjata yang sempat disepakati bulan lalu kini berada di titik nadir. Saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, Trump secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan damai tersebut kemungkinan besar sudah berakhir karena ia merasa tidak lagi memiliki keinginan untuk berurusan dengan pemerintah Iran.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran memberikan pernyataan keras pada hari Kamis. Mereka mengecam serangan AS sebagai pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman yang baru disepakati empat minggu lalu dan menegaskan tekad Teheran untuk mempertahankan kedaulatan serta wilayahnya dari agresi asing.
Dinamika konflik ini langsung berdampak pada pasar energi global. Pada Kamis pagi, harga minyak dunia terpantau merangkak naik, di mana harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman September bertahan di atas angka 78 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate diperdagangkan di level 73,55 dolar AS.




KOMENTAR ANDA