Ia tahu penghasilan di Jawa Pos lebih besar –saat itu. Tapi ia bukan orang yang mata duitan. Hidupnya sudah biasa susah. Sejak kecil. Sejak di Madiun. Ia sekolah SD masih tanpa sandal-sepatu. Itu tidak merisaukannya –karena teman sekelasnya juga banyak yang seperti itu.
Ia masih mengalami pulang sekolah cari kayu bakar karena ibunya memasak di pawonan dengan sumber energi kayu bakar.
Dengan latar belakang wartawan ketika menjadi dosen hukum di FH UB, Prija tidak hanya mengajarkan teori dari buku teks. Ia sudah menyaksikan praktik hukum sehari-hari: di kepolisian, di kejaksaan, di pengadilan.
Ilmu yang didapat selama tujuh tahun sebagai wartawan seharusnya setara dengan doktor –minus metodologi dan sistematika.
Pekan lalu, 3 Februari, juga ada wartawan yang jadi guru besar: Prof Dr Dudi Iskandar. Ia berhenti jadi wartawan (Koran Jakarta, Media Indonesia, Berita Satu) setelah 10 tahun malang melintang di jurnalisme. Ia tidak takut kehilangan pekerjaan karena sudah miskin sejak kecil. Bapaknya TKI di Arab, ibunya TKW di Malaysia. Hartanya saat berhenti jadi wartawan hanya sepeda motor yang belum selesai cicilan –dengan istri dan dua anak balita menunggunya di rumah. Ia tabah godaan material demi melanjutkan kuliah. Bagi Dudi ''miskin dan kaya itu keadaan, sederhana itu sikap hidup''.
Judul pidato pengukuhan guru besarnya di Universitas Budi Luhur Jakarta itu seksi: Jurnalisme Plastik. Itulah perjalanan terkini jurnalisme setelah era konvensional, modern, dan post modern: jurnalisme plastik.
Kembali ke Prija. Saya masih sering bertemu Prija. Penampilannya masih tidak banyak berbeda. Pun gaya semangat bicaranya. Tampilan Prija lebih mirip orang perjuangan. Itu dipengaruhi latar belakang kewartawannya. Juga latar belakang tempatnya magang yang panjang: di Lembaga Bantuan Hukum Surabaya.
Seperti juga LBH-nya Adnan Buyung Nasution di Jakarta, LBH Surabaya diisi oleh para aktivis pergerakan. Tokoh legendarisnya masih ada saat ini: Prof Dr Mohamad Zahidun. Ia kawin dengan teman sepergerakan saya tercantik se-Kaltim: Syahriah Usman.
Saat di LBH itulah Prija kenal dan sering bicara dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional: Buyung Nasution, HC Pricen, Mochtar Lubis, dan Todung Mulya Lubis. Ilmu dan jiwa perjuangan mereka ikut mengalir ke Prija.
Tempat magang mahasiswa sangat menentukan pembentukan karakter setelah lulus nantinya. Karena itu memilih tempat magang harus dipikirkan: karakter seperti apa yang akan menulari jiwanya kelak. LBH saat itu punya nama yang sangat harum: lambang perjuangan penegakan hukum dan keadilan –termasuk demokrasi di dalamnya.
Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah: di perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca.
Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana para magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online. Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.
Sudah banyak doktor dan guru besar hukum –Prija terbukti bisa menunjukkan bahwa ia bukan guru besar biasa-biasa saja.


KOMENTAR ANDA