post image
Menteri HAM Natalius Pigai dan Prof. Zainal Arifin Mochtar
KOMENTAR

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zainal Arifin Mochtar, ikut menyindir Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, yang mengatakan sejak usia lima tahun dirinya sudah paham HAM sehingga tidak mungkin salah. 

Pernyataan Pigai yang disampaikan dalam acara Sinkronisasi dan Akselerasi Rapat Koordinasi Instrumen dan Penguatan HAM di Kementerian HAM, Selasa, 24 Februari 2026, segera viral dan dikomentari banyak kalangan.

Dalam sindirannya di akun Instagram, Prof. Zainal Arifin Mochtar yang biasa disapa Uceng oleh teman-teman dekatnya, mengutip Imam Al Ghazali yang mengatakan ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu. Kedua, orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu. Ketiga, orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu. Serta keempat, orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. 

Secara lengkap, pernyataan Prof. Zainal Arifin Mochtar berbunyi sebagai berikut:

“Bagaimana puasa kalian semua? Saya berdoa semoga baik-baik saja. Cuma pengen cerita. Saya ketika lima tahun juga sudah tahu bahasa indonesia, tapi sekarang saya masih bisa salah berbahasa. Saya sejak lima tahun sdh belajar membaca Al Quran, tapi sampai sekarang masih sering salah. Ya begitulah. Sy cuma mau kutipkan Imam Al Ghazali, bahwa ada 4 jenis manusia: 1. Orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, inilah yang harus jadi panutan. 2. Orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu, ini orang yang perlu disadarkan. 3. Orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, ini orang awam yang merasa perlu belajar dan wajib diajari 4. Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang jenis ini sesat dan menyesatkan, perlu dihindari. Kira-kira anda semua masuk yang mana? Tulis di komen ya🙏”

Dalam unggahannya itu Prof. Zainal Arifin Mochtar menampilkan potongan gambar yang memperlihatkan wajah Natalius Pigai dengan tulisan, “Pigai: Dari Umur 5 Tahun Sudah Paham HAM, Tidak Mungkin Saya Salah”. 

Natalius Pigai memberikan respons pada sindiran Prof. Zainal Arifin Mochtar itu. 

“Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, saya sudah hidup di tengah moncong senjata. Enarotali Paniai pusat perang antara OPM dan Militer Indonesia. Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rintih, haus dan lapar, adil dan tidak adil. Mana sakit dan senang,” tulis Pigai di akun Instagram miliknya sambil menyertakan potongan gambar sindiran dari Prof. Zainal Arifin Mochtar.

“Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya. Di situlah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia. Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang2 tertindas, pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang, cacian, makian dan hinaan,” sambung Natalius Pigai.

Dia melanjutkan, “Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber). Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini.”

Pada bagian akhir dia menyampaikan penilaiannya mengenai karakter seorang Guru Besar. 

Katanya: 

“Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yg tinggi. Tetapi rupanya Anda hanya guru yang “dibesar-besarkan”.”


Arief Poyuono: Megawati Dukung Program MBG sebagai Prasarana Pendidikan

Sebelumnya

Ide Gabung ke Gibran untuk Kudeta Prabowo: Alarm Keras Buat Presiden

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Indonesiana