post image
Duka untuk Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS-Israel, 28 Februari 2026./Foto: PTS Taiwan
KOMENTAR

Saya berharap para pemimpin negeri ini—termasuk Prabowo Subianto—dapat bersuara lebih kuat membela kemanusiaan dan keadilan dunia.

Oleh: Selwa Kumar, Departemen Seni dan Budaya PP IKA USU

HUJAN turun pelan di Jakarta, Kamis itu. Rintiknya tipis—seperti bisikan langit yang enggan membuat gaduh. Jalanan di sekitar Teuku Umar tampak biasa saja. Kendaraan melintas, orang berjalan, kota tetap bernafas seperti hari-hari lainnya.

Namun bagi saya, langkah pagi itu bukan langkah biasa.

Saya memulai dari Jalan Tanjung. Langkah saya pelan, menembus rintik hujan menuju simpang Teuku Umar. Dari sana saya berbelok ke kiri, menyusuri jalan yang penuh sejarah politik negeri ini. Di sepanjang jalan itu berdiri rumah-rumah pejabat, kedutaan besar, dan bangunan yang menjadi saksi percakapan kekuasaan.

Tetapi saya tidak sedang menuju kekuasaan.

Saya menuju kemanusiaan.

Di kejauhan, kubah Masjid Agung Sunda Kelapa berdiri tenang. Saya berhenti sejenak di depannya. Saya tidak datang sebagai bagian dari mazhab tertentu.

Saya bukan Muslim Syiah.
Saya juga bukan Sunni.
Saya bukan bagian dari mazhab atau kelompok manapun.

Tetapi sepanjang hidup, saya berteman dengan banyak saudara dari berbagai jalan. Saya pernah duduk bersama anak-anak Himpunan Mahasiswa Islam, berdiskusi dengan para senior Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, bertukar pikiran dengan sahabat-sahabat dari Muhammadiyah, dan bersahabat dengan kawan-kawan Al Jam’iyatul Washliyah di Medan.

Dari mereka saya belajar satu hal sederhana: 
perbedaan jalan tidak pernah menghalangi persaudaraan.

Langkah saya kemudian bergerak lagi menuju Kedutaan Besar Republik Islam Iran. Hari itu saya datang untuk menyampaikan takziah atas wafatnya Ali Khamenei.

Bagi banyak orang, ia mungkin hanya tokoh politik dunia. Tetapi bagi saya, ia adalah simbol keteguhan seorang pemimpin yang menempatkan rakyatnya di atas kepentingan pribadi.

Ada kisah yang terus saya ingat.

Ketika situasi keamanan memanas dan ia ditawari perlindungan di bunker, ia konon berkata sederhana:

“Jika rakyat Iran harus bertahan, maka saya bertahan bersama mereka. Jika mereka harus mati, maka saya mati bersama mereka.”

Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar retorika. Itu adalah gambaran kepemimpinan yang jujur, istiqamah, amanah, dan sederhana.

Saya mungkin bukan orang yang paling beriman. Tetapi saya adalah manusia yang membenci perang.

Perang sering lahir dari ambisi:
ambisi untuk menguasai,
ambisi untuk mengendalikan negara lain.

Saya melihat bagaimana tekanan politik dari tokoh seperti Donald Trump terhadap Iran sering terasa sebagai bentuk ketidakadilan kekuatan besar terhadap bangsa lain.

Lebih dari itu, hati saya selalu terluka ketika melihat penderitaan rakyat Palestina.

Puluhan tahun konflik membuat banyak nyawa hilang. Tanah dirampas. Rumah dihancurkan. Bagi saya, tindakan keras negara Israel terhadap rakyat Palestina adalah luka besar bagi kemanusiaan.

Saya menyebutnya dengan satu kata: kezaliman.

Padahal bangsa Indonesia memiliki sejarah yang tidak boleh dilupakan. Rakyat Palestina termasuk bangsa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.


Cengkeraman Zionisme atas Dunia: Dari Epstein hingga Israel Raya

Sebelumnya

Data Terkini Aliansi AS-Israel Versus Iran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik Global