Karena itu saya percaya Indonesia memiliki hutang moral.
Saya berharap para pemimpin negeri ini—termasuk Prabowo Subianto—dapat bersuara lebih kuat membela kemanusiaan dan keadilan dunia.
Bukan semata-mata karena politik.
Tetapi karena nurani.
Di depan kedutaan Iran itu saya berdiri beberapa saat. Hujan masih turun. Jakarta masih sibuk. Kota ini tetap berjalan seperti biasa.
Namun di hati saya ada doa sederhana:
Semoga dunia suatu hari berhenti mencintai perang.
Semoga para pemimpin belajar bahwa kekuasaan tidak abadi.
Dan semoga kemanusiaan selalu lebih tinggi daripada ambisi negara.
Setelah itu saya berbalik pulang.
Langkah saya kembali menyusuri Jalan Teuku Umar yang basah oleh hujan. Jakarta tetap sama seperti tadi.
Tetapi bagi saya, hari itu saya telah melakukan sesuatu yang sederhana namun penting:
Saya berdiri di sisi kemanusiaan. Ahoi.


KOMENTAR ANDA