"Saya dari Kartasura, Solo," katanya.
"Sudah berapa lama di Tarim?"
"Satu tahun setengah".
"Ke Mukalla untuk liburan?"
"Tidak. Saya akan operasi mata".
"Hah? Operasi mata di Mukalla? Kenapa?"
"Mata saya minus. Cepat lelah kalau membaca kitab. Lampu di kamar saya kan tidak terang. Sering mati pula," katanya.
"Operasi apa?"
"Lasik".
"Berarti setelah operasi nanti tidak perlu lagi pakai kacamata?"
"Begitulah. Lebih enak".
"Kapan operasinya?"
"Besok pagi".
"Sudah janji lewat online"?
"Lewat telepon".
"Berapa hari di Mukalla?"
"Besok operasi. Satu minggu lagi kontrol. Lalu kembali ke Tarim".
"Tinggal di mana selama di Mukalla?"
"Di tempat teman dari Indonesia".
Noah pun berhenti. Di tengah padang gunung yang gersang. Ada masjid kecil di pinggir jalan itu. Masjid yang seperti dikitari debu.
Kami semua turun dari mobil. Ke toilet yang berdebu. Lalu masuk masjid. Tidak ada karpet di lantainya. Hanya ada keramik. Debunya terlihat tebal di atas keramik itu.
Awalnya saya agak ragu salat di lantai berdebu seperti itu. Ada rasa jijik. Masak dahi ini harus menempel ke debu itu. Sudah terlalu lama biasa salat di masjid ber-AC dan berkarpet tebal di Indonesia. Jijiknya bukan main. Apalagi kaki yang basah oleh air wudu harus menginjak debu di lantai masjid. Muncul jejak-jejak telapak di lantai.
Setelah termangu sejenak saya ingat: inti salat adalah merendahkan hati serendah-rendahnya. Itulah mengapa harus rela menaruh muka yang sering dipakai cari muka ini ke tempat terendah di atas bumi: lantai. Tanah. Debu adalah tanah. Ke lantai berdebu itulah wajah basah ini kusujudkan. "Rasakan," kata saya dalam hati kepada diri sendiri: "carilah muka di situ," kata saya lagi. "Tidak ada lagi tempat mendongakkan kesombongan di situ."
Di situ, di lantai berdebu itu, sujud justru perlu lebih berlama-lama.




KOMENTAR ANDA